MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
11


__ADS_3

"Kamu yakin mau resign dari Kantor. Bukankah dalam aturan juga tidak ada yang menuliskan bahwa tidak boleh mengandung tanpa suami?" ucap Dyah polos. Seketika Dyah tampak seperti orang bodoh yang kehilangan arah dan tidak bisa bepikir dengan sangat jernih.


"Kamu ini sudah gila Dy? Mau membuat aku malu satu Kantor? Ini aib Dy! Nama baik! Reputasi aku sebagai kepala bagian turun terjun bebas begitu saja karena suatu kesalahan yang fatal," ucap Rara menjelaskan.


Dyah tampak berpikir, kepalanya sudah pusing, bukan pusing penyakit tetapi pusing mencari jalan keluar untuk Rara agar permasalahnnya cepat selesai.


"Ya, aku paham. Apa kamu tidak mau membuka hati lagi untuk lelaki lain, mungkin ada seseorang di luar sana yng baik dan tulus mau menerima keadaanmu Ra?" tanya Dyah pelan seolah ragu menanyakan hal ini.


Rara menggigit bibirnya. Dirinya jujur ada kecemasan tersendiri membuka hati untuk orang lain, namun mau sampai kapan hidupnya sendiri dan mengurus anak semaa wayagnya nanti. Tapi untuk saat ini memang Rara lebih waspada dan ingin menyendiri dulu.


"Aku ingin sendiri dulu. Menikmati kehidupanku sebagai ibu muda. Sebentar lagi aku melahirkan Dy. Aku ingin membuat usaha dan fokus untuk anak dan hidup kita berdua. Masalah jodoh, aku serahkan semuanya kepada Tuhan," ucap Rara pelan menjelaskan. Kata-kata bijak itu terlontar begitu saja dari bibirnya yang mungil. Wajah Rara masih sedikit pucat dan masih tampak cantik, terlebih saat ini sedang mngandung. Aura pesona kecantikannya makin terpancar.


"Oke. Itu semua pilihanmu dan keputusanmu. Aku disini sebagai sahabat sekaligus saudara terdekatmu hanya ingin yang terbaik untuk kamu," ucap Dyah pelan sambil membelai rambut panjang Rara yang terurai indah.


"Terima kasih Dy. Cuma kamu yang selama ini care dan peduli sama aku," ucap Rara pelan lalu memeluk sahabatnya itu.


Satu jam kemudian Mas Hendra, suami Dyah pun datang. Dyah memang meminta Mas Hendra untuk membawakan pakaian ganti untuknya dan beberapa makanan ringan untuk dirinya dan Rara.


"Assalamualaikum ..." ucap Mas Hendra denagn sopan saat membuka pintu kamar rawat itu.


Dyah yang sedang memejamkan kedua matanya dan berselonjor di sofa ruang tunggu itu sedikit membuka matanya saat mendengar suara lelaki yang tidk asing di telinganya telah datang.


"Waalaikumsalam ... Mas Hendra?" jawab Dyah pelan sambil mengucek kedua matanya dan meegakkan dudukanya menatap Hendra yang mendekati Dyah.


Hendra tidak datang sendiri. Ada sahabat baik yang sering ikut kemanapun Hendra pergi. Namanya Ustad Baihaqi, beliau seorang ustad sekaligus pengasuh Ponpes Al-Dzikra di Kota Bogor.


"Masih ingat dengan Baihaqi? Maaf bawa beliau kemari, tadi Mas ada acara jadi sekalian mampir kemari biar tidak bolak-balik. Jadi dibawa deh, Baihaqi ini," ucap MAs Hendra pelan dan mengulurkan tenagan kanannya untuk dicium oleh Dyah.

__ADS_1


Dyah mengangguk pelan setelah mencium punggung tangan Mas Hendra.


"Silahkan duduk disini. Dyah mau membangunkan Rara untuk minum obat. Makanannya dibawa?" tanya Dyah pelan.


"Ini. Masa lupa sih," goda Mas Hendra sambil mengedipkan satu matanya kepada Dyah. Dua kantong plastik besar di serahkan kepada Dyah. Satu kantong besar berisi baju ganti dan satu kantong lainnya berisikan makanan ringan dan makanan untuk makan siang Dyah dan Rara.


Rara sudah sangatdekat juga denagn Mas Hendra. Hubungan mereka benar-benar sudah seperti keluarga sendiri seperti kakak dan adik .


"Mas Baihaqi. Maaf ya, ikut merepotkan," ucap Dyah pelan menyapa Baihaqi yang sejak tadi diam dan sesekali menatap Rara yang masih terbaring lemah di atas kasur rawat inap itu.


"Ehmm .. Iya Dy. Tidak apa-apa. Kebetulan saya juga lagi free, jadi tidak masalah," jawab Baihaqi pelan lalu duduk di samping Hendra yang sudah membuka minuman kaleng berperisa kopi untuk dirinya dan Baihaqi.


Dyah merapikan beberapa pakaian ganti di dalam rak tepat di bawah nakas. Lalu mrapikan beberapa cemilan di atas nakas dan membuka kotak makanan untuk makan siang Dyah dan Rara.


Tepat. Semua sesuai pesanan Dyah. Mas Hendra itu memang benar-benar lelaki idaman. Selalu ada untuk Dyah kapan pun Dyah membutuhkan, hingga hal-hal kecil punMah Hendra tidak mengabaikan dan tidak melewatkannya.


"Ra ... Bangun," panggil Dyah lalu mengusap pelan kepal Rara.


"Dy ... laper," ucap Rara polos.


Dyah tertawa keras mendengar ucapa Rara yang begitu jujur.


"Yuk makan. Mas Hendra sudah belikan sesuai keinginan ibu hamil. Nasi padang dan rendang saja, tanpa sayur," ucap Dyah mengulang pesanan Rara tadi sebelum tidur siang.


"Terima kasih. Mas Hendra udah datang Dy? Mana? Sudah ketemu Cantas belum?" tanya Rara penuh semangat. Sudah lama Rara tidak ketemu Mas Hendra sejak beberapa bulan lalu.


"Sudah. Sekarang itu makan bukan mikirin Cantas!!' ucap Dyah ketus saat menyiapkan makanan itu untuk Rara.

__ADS_1


Dyahmemang kurang setuju melihat Rara yang masih mengingat dan berharap untuk kembali pada Cantas.


"Hai Rara. Gimana keadaanmu?" tanya Mas Hendra yang sudah berdiri di samping ranjang rawat inap itu. Tepat di sebelah Mas Hendra ada Baihaqi yang sejak tadi sudah penasaran dengan Rara.


"Mas Hendra? Rara baik. Cantas? Apa kabar?" tanya Rara dengan polosnya.


Dyah mendengus kesal. Kotak makan siang yang suda ada ditanganya pun hanya diaduk-aduk dengan sendok lalu menyuapkan kepada Rara agar tidak banyak bicara.


"Ayok makan! Habis ini minum obat, terus istirahat," ucap Dyah sedikit kesal.


Mas Hendra menatap Dyah lekat. lalu memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya pelan ke arah Dyah. Dyah membalas dengan anggukan kepala tanda paham.


"Kamu makan dulu Ra. Nanti kita ngobrol ya. Eh, ini Baihaqi, sahabat Mas waktu sekolah di Bogor. Beliau ini seorang ustad dan memiliki Ponpes," ucap Mas Hendra mengenalkan Baihaqi kepada Rara.


Rara menatap lekat ke arah Baihaqi. Begitu pun Baihaqi yang juga menatap lekat kedua mata Rara. Ada getaran berbeda sejak pertama kali menatap Rara saat masuk ke dalam ruangan itu.


"Hei, Mas Baihaqi, namaku Rara. Salam kenal," ucap Rara dengan ramah menyapa.


"Waalaikumsalam Ra. Salam kenal juga," ucap Baihaqi lembut membalas perkenalan Rara dengan senyuman manisnya.


"Aku lupa, Rara ini bukan seorang muslim, Bai. Makanya dia tidak mengucapkan salam sebagai seorang muslim," ucap Mas Hendra menjelaskan.


Baihaqi nampak tenang tapi sejatinya cukup terkejut, dan merupakan tantangan besar baginya untuk bisa mendapatkan cinta Rara.


Sepanjang jalan memang Hendra banyak bercerita tentang Rara, sahabat Dyah, istrinya itu. Hendra mrasa bersalah mengenalkan Cantas , teman kuliahnya dulu kepada Rara yang berakhir pada kehidupan Rara yang tidak baik.


Baihaqi cukup paham dan menyimak dengan baik. Baihaqi hanya mencoba untuk membuka hatinya kembali setelah lima tahu lamanya ditinggal selamanya oleh itri tercintanya.

__ADS_1


"Oh iya Mas Baihaqi. Maaf, Rara seorang kristiani," ucapnya singkat.


Baihaqi kembali tersenyum dan mengangguk pelan kepalanya tanda paham.


__ADS_2