MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
96


__ADS_3

Rara tidak tahu harus menjawab apa. Rara berada di posisi sulit dan dilema. Bibirnya ingin jujur berkata mau namun hatinya menolak karena akan ada dosa besar disana, selama ikatan pernikahan belum mereka lakukan.


"Kenapa Mamah diam? Mamah tidak mau memiliki anak dari Papah?" tanya Rafli pelan.


"Bukan tidak mau Pah. Tapi prosesnya harus benar dulu, jangan sampai ada sesuatu halyang kita lakukan malahan membuat kita terbuai dalam dosa besar. Papah itu seperti tidak punya iman dan agama saja. Melakukan hubungan intim, jika belum ada iktan resmi juga jatuhnya seperti perzinahan dan itu dosa besar, Pah," ucap Rara lirih.


Hati Rara malah kini semakin kacau. Permintaan Rafli yang semakin tidak masuk akal malah membuat Rara semakin bingung.


Teredengar napas terbuang dengan keras dari indera penciuman Rafli di sambungan telepon itu.


"Hei ... Pah ... Kamu kenapa? Lihat sini wajahnya," ucap Rara pelan. Sedikit punya rasa bersalah karena menolak. Tapi penolakan itu justru demi kebaikan.


Rafli pin mengangkat wajahnya.


"Ya Mah. Maafin Papah ya. Papah egois, tapi jujur Papah benar-benar ingin bersama Mamah," ucap Rafli dengan penuh kemantapana.


"Sudahlah jangan bahas ini. Kita jalani dulu saja Pah, mungkin suatu saat kita dapat jawaban dan solusi terbaik untuk masalah yang sedang kita hadapi ini. Kan Papah yang bilang kita harus sabar dan berjuang, prosesnya panjang dan lama, tida semudah dengan semua impian kita," ucap Rara plean sedikit membuat Rafli tennag.


Itulah laki-laki, jika sudah merasa memiliki karena mencintai dan menyayangi, pasti menginginkan hubungan yang lebih bukan hanya sekedar hubungan yang di bangun dari suatu kenyamanan saja, tapi seorang laki-laki diberi nafsu dan hasrat lalu harus ditunjukkan dengan hubungan yang lebih pribadi yang terbangun dari hubungan emosional dan batin menjadi satu.


"Iya Mah. Papah mau pulang ya. Bunda sudah beberapa kali megirimkan pesan untuk segera pulang dan membawakan obat. Bunda lagi sakit," ucap Rafli dengan jujur.

__ADS_1


"Iya Pah. Pulanglah. Hati-hati di jalan saat membawa kendaraan bermotor," ucap Rara menasehati.


"Iya Mah. Mamah jaga kesehatan disana, jangan lupa istirahat dan jangan begadang terus," ucap Rafli menasihati Rara dengan lembut.


"Iya Pah. Mamah mau istirahat. Assalamualikuam," Rara pun mengakhiri pembicaraannya di telepon.


"Waalaikumsalam, love you, Mah," jawab Rafli dengan pelan.


Hari ini adalah hari yang paling meyenangkan bagi Rafli. Hampir satu tahun perjalanan cintanya dengan Rara pun tergolong lancar. Hanya pernah mengalami gagal komunikasi karena ras egois di antara keduanya yang membuat Rafli mendiamkan Rara hampir satu bulan lamanya.


Rafli sudah membereskan semua pekerjaannya, pukul dua belas malam tepat, ia pun berjalan keluar dari kantornya dan menutup serta mengunci ruko tempat ia bekerja. Perjalanan untuk kmbali ke rumah kontrakannya memakan waktu sekitar setengah jam saj, kareba jalanan yang semakin sepi tanpa hambatan dan kemacetan.


Pikiran Rafli berkecamuk, mencari solusi yang baik untuk dirinya dan Rara. Tidak munafik, sebagai laki-laki, Rara adalah wanita yang potensial. Rara wanita yang cukup cantik di usianya yang semakin menapaki usia empat puluh tahun, dnegan body yang masih terawat, wanita pintar dn cerdas serta sedikit berkelas, maklum Rara bukan sembarang wanita. Rara salah ssatu wanita dengan lulusan terbaik di universitas yang terkenal d kotanya.


Sepanjang perjalanan pulangnya pun Rafli jadi membandingkan sifat dan sikap antara Rara dengan Fatar, istrinya. Fatar yang sejak dulu, memiliki sikap keras dan kasar bahkn tidak mau kalah. Hingga kini di usia pernikahannya yang sudah menginjak kedua belas tahun pun, Fatar masih saja belum bisa berbaik-baik dalam hubungan emosional dnegan Keluarga Besar Rafli, termasuk kepada Bapak, Ibu dan Kakak serta Adik Kandung Rafli.


Dunia ini seolah memang sedang menguji Rafli. menguji kesabaran, menguji iman dan menguji kesetiaan. Mungkin saja ada faktor lain hingga Rafli bersikukuh untuk teta ingin memiliki wanita mnadiri seperti Rara. Membandngkan wanita lain dengan istrinya sendiri adalah sutu hal yang wajar. Rasaya ingin sekali memotivasi Fatar, istrinya sendiri untuk lebih baik. tapi, bimbingan Rafli selama ini seolah tidak berguna malahan kata-kata kasar terus saja lolos dari bibir Fatar dan malah semakin lama semakin menjadi.


Sudah setengah jam perjalanan dn akhirnya sampai juga di rumah kontrakannya dengan selamat.


Fatarani sudah sejak tadi menunggu kedatangan Rafli Sang Suami, menunggu obat dan beberapa makanan yang di pesannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bunda tidak tidur?" tanya Rafli yang cukup terkjut emlihat fatarani sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Waalaikmaslaam. Mana obatnya?' tanya Fatarani dengan sedikit ketus dan judes.


"Huftt ... Suami pulang itu kasih senyuman, kasih air, kasih ciuman. Ini malah pesenan yang di tanyain," ucap Rafli pelan sambil menyodorkan bungkusan martabak manis pesenan Bunda Fatar dan satu kantong kecil berisi obat asma yang di butuhkan oleh Fatarani karena sejak sore dadanya terasa sangat sesak.


Bngkusna kantong plastik hitam itu langsung di smabar fatarani dengan kasar lalu di buka dan dimakan sendiri tanpa menawari Rafli, suaminya. Rafli hanya bisa menatap kelakuan sang Istri yang sudah sering kali membuatnya muak. Cukup mengelus dada melihat Fatarani yang tidak pernah berubah dan selalu saja kasar.


Fatarani melirik ke arah Rafli, suaminya yang sejak tadi masih berdiri di depannya dan emnatap ke arahnya.


"Kenapa? Bukannya bebersih lalu ganti baju. Tidak usah manja, harus di layani. Bunda lela seharian mengurus anak empat, belum lagi tadi Bunda cek, ternyata Bunda sedang hamil lagi," ucap fatarani pelan dan santai.


Kedua mata Rafli erbelalak mendengar ucapan Bunda fatarani, istrinya itu. Usia anak bungsunya saja baru menginjak sebelas bulan, dan kini Bund Fatarani sudah harus mengandung lagi. Pikirannya semakin ricuh, mumet dan tidak bisa berpikir jernih. Tidak tahu bagaimana harus bersikap saat ini, haruskah sennag mendengar kabar ini, atau harsu bingung atau harus marah.


"Kenapa wjah Ayah seperti itu? Ini anak Ayah juga, kok kayak gak peduli sih?" ketus Fatarani.


"Memang sudah berapa bulan? Bunda tidak mau ke bidan untuk cek lebih lanjut?" tanya Rafli lembut.


Fatarani menggelengkan kepalanya pelan sambil mengunya martabak manis dengan nikmat.


"Gak tahu, kayaknya sih sudah empat bulan lebih," ucap Fatarani singkat.

__ADS_1


Rafli mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan kasar. Cukup panik mendengar ucapan Bunda Fatarani, dengan segera Rafli pun masuk ke dalam dan meletakkan tas kerjanya dan mandi unrtuk menyegarkan tubuhnay dan keplanya yang tiba-tiba saja panas mengebul.


Usia kandungan sudah empat bulan itu cukup lama dan sampai sekarng belum periksa ke Bidan. 'Semoga janinnya baik-baik saja,' lirih Rafli di dalam hatinya sambil mengguyur kepalanya dan seluruh tubuhnya dengan air yang sangat dingin.


__ADS_2