
Suara lantang itu begitu terasa memekakkan telinga Rara. Rasa berdosanya kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Rara semakin keras dan erat memgang jari jemari Rafli.
Sedangkan Rafli tetap tenang dan tidak tersulut emosi dengan gertakan murahan Baihaqi yang hanya ingin membuat shock terpi untuk dirinya.
Rafli menoleh ke arah Rara. Wajah kekasihnya itu sudah pucat pasi. Rasa bersalahnya terus saja mengintainya seperti maling yang sudah mengambil barang milik orang, mengambil barang yang bukan hak Rara.
"Mamah yang tenang ya. Mamah cukup bilang mau dan bersedia tanpa paksaan. Mamah mau kan?" tanya Rafli kemudian dengan lembut memastikan kembali keyakinan Rara, Sang Kekasih.
Rara menarik napas panjang dan perlahan di keluarkan dari indera penciumannya untuk mengurangi rasa cemas dan ketakutannya.
"Tenang Mah, tenang. Ada Papah disini. Papah tidak akan meninggalkan Mamah," ucap Rafli pelan. Usapan ibu jarinya di punggung tangan Rara semakin terasa cepat namun tetap lembut. Rafli tidak ingin masalah ini menjadi beban pikiran Rara.
Semua akan di pertanggung jawabkan dengan baik. Tidak ada yang rugi dan tidak ada masalah baru yang timbul dengan keputusan bulat yang telah diambil oleh Rafli.
Anggukan Rara yang pasrah membuat Rafli kembali teang lalu tatapannya berpindah ke arah Baihaqi.
"Aku ingin menikahi Rara malam ini juga. Aku harap anda mau membantu saya agar saya tidak terus merasa bersalah dengan keadaan ini. Allah maha tahu isi hati saya," ucap Rafli tegas. Cara bicaranya sudah tidak setegang tadi. Rafli sudah berhasil menguasai hatinya sendiri hingga rasa panik dan cemas yang sejak tadi melingkupinya hilang dengan sendirinya.
Ucapan Rafli lagi-lagi membuat Baihaqi semakin kesal. Inginhati memergoki mereka dalam satu kamar sebaga pasangan yang bukan muhrim di tambah dengan posisi Rafli yang telah memiliki keluarga kecil tentu akan sulit untuk mengambil keputusan tapi semua di luar dugaan Baihaqi. Rafli mampu mengambil keputusan bulat dengan tegas hanya dalam wakt kurang dari setengah jam.
Jawaban Rafli yang terus menginginkan menikahi Rara itu juga, adalah sebagai buktu dari rasa tanggung jawab dan rasa sayang yang begitu besar dimilikinya untuk Rara. Hampir satu tahun ini, Rafli intens berkomunikasi dengan Rara di tambah lagi beberapa kali pertemuan yang mereka lakukan minimal satu bulan sekali sudah membuat hubungan mereka semakin erat. Bahkan pertemuan kali ini, mereka berani mengambil resiko besar dengan suatu komitmen dengan tanggung jawab yang besar.
"Mudah kamu bilang menikah. Hari ini pun, aku bisa bilang mau menikahi Rara. Tapi, yang jadi masalah itu adalahrestu kamu dari istrimu bagaimana? Atau kamu mau melakukan ini hanya atas dasar suka sama suka tanpa peduli perasaan hati yang selama ini kamu jaga untuk istri kamu!! Lalu kamu tetap bertahan dengan Rara bahkan menikahinya? Kamu telah menyakiti dua wanita skaligus!!" bnetak BAihaqi yang terus memojokkan Rafli.
Rafli sudah semakin naik pitam. Ucapan Baihaqi cukup menohol Rafli menerima dengan mentah ucapan Baihaqi yang seolah menyalahkan diirnya dan membuat pilihan hidupnya ini terasa sangat sulit.
__ADS_1
"Urusan restu itu adalah urusan saya!! Selama saya bisa berbuat adil dan bisa meyakinkan keduanya tentu tidak akan ada masalah. Posisi Rara tentu akan banyak mengalah, dia sudah tahu posisinya menjadi yang kedua itu bukan di abaikan tapi memang tidak bisa setiap saat di prioritaskan," ucap Rafli pelan.
DEG!!
DEG!!
DEG!!
Jantung Rara terasa cepat berdetak semakin terasa berkejar-kejaran. Keringat dingin sudah mengucur deras di sekitar dahi yang sedikit tertutupi hijabnya. Padahal suhu di dalam ruangan itu cukup dingin, namun hati yang sudah terbawa rasa kesal membuat semuanya menjadi tidak karuan, baik hatinya, pikirannya dan langkah keputusannya.
Entah harus bagaimana Rara mengungkapkan rasa dari perasaannya. Haruskah senang karena Rafli akan menikahinya dan hal ini adalah hal yang paling di tunggu Rara dan hal yang paling membuat Rara sangat bahagia. Atau Rara harus bersedih dengan ini semua, karena telah melanggar janji pada diri sendiri dan kepada Bunda Fatarani.
Rara pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menerima pinangan Rafli walaupun menjadi yang kedua jika tidak ada restu dari Bunda Fatarani. Rara lebih ingin hubungannya itu resmi di ketahui, dan jk memang ingin menikah, maka Bunda Fatarani harus bisa lebih legowo menerima ikhlas dan memberikan restu kepada rara dan Rafli.
Mau sampai kapan pun Bunda Fatarani juga tidak akan melepaskan Rafli, suaminya. Walaupun rumah tangga mereka pernah di terpa badai angin topan yang cukup besar hingga kata-kata ceria dan talak beberapa kali terungkap dari bibir Fatarani.
Namun, akhirnya mereka rujuk kembali dengan berbagai alasan yang sangat kuat. tentu anak adalah alasan kedaunya yang paling utama, kebahagiaan anak-anak tidak bisa tergantikan oleh yang lain kecuali memiliki keluarga yang utuh, memiliki ayah dan ibu yang hidup secara bersama-sama dan saling menyayangi, saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain.
Samar-samar suara Rafli dan Baihaqi yang berdebat pun membuat kepala Rara seketika pening dan tidak berkonsentrasi. Rara nemar-benar trauma dan stres memikirkan masalah ini. Awalnya Rara tidak ingin terlalu terburu-buru dan masalah dosa indah yang baru saja Rara perbuat dengan Rafli biarkanlah enjadi dosa besar yang harus di tanggung oleh Rara dan Rafli bersama dengan TuhanNya.
Seketika kepala Rara berputar dan kedua mata Rara mulai menutup.
BRUK!!
Tubuh Rara melemas, remasan jari jemari di tangan Rafli pun ikut mengendur. Wajahnya pucat pasi dan bibir Rara mengering dan memutih.
__ADS_1
Rafli langsung menoleh ke arah Rara dan langsung menahan kepala Rara yang akan terbentur pada sandaran kursi.
"Mah!! Mamah kenapa?" teriak Rafli yang histeris melihat wajha pucat Rara.
Sama halnya dengan Baihaqi yang ikut panik dan cemas.
Baihaqi tahu, masalah ini menjadi beban pikiran bagi Rara.batinnya seperti tertekan. Rasanya sangat bersalah sekali Baihaqi kepada Rara. Niat Baihaqi ingin memberi pelajaran kepada Rafli dan memberikan sedikit shock terapi agar tidak mempermainkan dan bermain-main dalam hubungannya bersama Rara.
Baihaqi tahu Rara sangat menggantungkan harapan besar ini kepada Rafli. Entah apa yang di lihat Rara dari sosok Rafli yang tampak biasa saja dan sederhana.
Kalau mau membandingkan kebaikan dan ketulusan. Tentu Baihaqi sudah teruji dengan baik. Nyatanya hingga saat ini pun Baihaqi masih terus berharap Rara merubah hatinya dan membuka hati untuk Baihaqi. tapi, ternyata kebaikan saja tidak mampu merubah perasaan Rara hingga saat ini. Rara benar-benar hanya menganggap Baihaqi sebagai kakak dan tidak pernah lebih dari itu.
Rafli pun segera mengangkat tubuh Rara dan di rebahkan di kasur empuk itu. tubuh Rara di hangatkan dengan di tutupi selimut hingga bgian dada.
Kekasihnya itu sedang tidak sadarkan diri. rafli pun mecari minyak kayu putih untuk di oleskan di sekit indera penciuman Rara agar cepat siuman. tidak sedikit pun ada kepanikan dalam hati rafli. hanya saja Rafli merasa bersalah kepada Rara.
Bagi rafli saat ini, Rara sudah termiliki dan ini tandaya Rara sudah penuh menjadi tanggung jawab Rafli seutuhnya. Wakaupun Rara belum resmi menjadi pasangan dan teman hidupnya secara SAH, baik di mata agama atau pun di mata negara.
Baihaqi hanya menatap Rafli yang sedang emngurusi Rara tanpa ada rasa cemas. Tiba-tiba hatinya merasa cemburu.
"Jadi seperti itu kamu mengurusi perempuan yang kamu katakan kamu cintai itu?" teriak Baihaqi dari ujung kamar sambil menatap tajam ke arah Rafli.
Rafli pun menoleh ke arah Baihaqi dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksud kamu!! Bahkan kamu hanya diam saja pada posisi yang sama tidak berpindah?" sengit Rafli yang sudah muaia kesal.
__ADS_1