MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
57


__ADS_3

"Jangan menyalahkan keadaan, Mas.Ini malah ujian untuk kita. Pertemuan ini adalah ujian keimanan kita? Mungkin di aal pertemuan dan perkenalan kita, aku begitu menginginkan Mas. Hanya sebatas menginginkan perhatian, balasan perhatian dan kasih sayang, tapi sedikit pun tidakk meminta balsan untuk bisa saling memiliki raga hinggga menggeser posisi Bunda Fatar dari hati dan kehidupan Mas. sama sekalai tidak. Sedikitpun aku tidak pernah menyuruh Mas untuk berbuat seperti itu," ucap Rara menjelaskan dengan perlahan.


"Memang tidak pernah, karena memang kita saling mencintai dan saling menyayangi. Mas yang sekarang tidak bisa menutupi rasa ini dari kamu. Rasa yang berbeda setiap berkomunikasi dengan kamu. Mas malah bahagia bisa bertemu dan akhirnya mengenal kamu, walaupun telat. Dibandingkan tidak sama sekali," ucap Rafli pelan.


"Tapi, Ini malah membuat aku ...." ucapan Rara terhenti sejenak lalu menarik napas panjang dan menghembuskan pelan hingga suara hembusan napas itu terdengar mauk ke dalam mikropon sambungan telepon.


Rafli menyimak dengan baik setiap suara yang masuk, hingga hembusan napas yang nampak sekali berat pun mampu terdengar di telinga Rafli walaupun terdengar lirih dan sangat jauh.


"Tapi apa? Kamu menyesal, Ra?" tanya Rafli pela kepada Rara dengan perasaan ragu.


Rara kini sudah berdiri didepan jendela besar kamar tidurnya. Kedua matanya menatap ke arah seberang jalan, villa kuno yang sedang digunakan untuk acara family gathering. Hari yang semakin gelap mulai terang dengan berbagai lampu yang berkelap-kelip hingga suasana hangat dan romantis mulai muncul.


Hatinya mulai berdebar tidak karuan. Jujur, ada perasaan suka, namun ada perasaan bersalah yang teramat besar.


"Ra ... Kamu dengar Mas bicara?" tanya Rafli dengan suara pelan.


"Eh ... Iya Mas, Aku dengar. Maaf aku malah melamun," ucap Rara pelan sambil mengontrol hatinya yang berdebar kencang.


"Kamu kenapa? Ada hal yang kamu pikirkan? Coba ceritakan pada Mas, Ra. beljarlah untuk berbagi," ucap Rafli dengan suara pelan.


"Tidak ada, Mas. Semua baik-baik saja," jaab Rara pelan.


"Mas bisa merasakan ada yang tidak beres dengan kamu, saat ini, Ra," ucap Rafli pelan.


"Tidak perlu dibahas, Mas. Mas tahu kan? Apa yang menjadi beban pikiran aku saat ini? Perasaan bersalah aku terlalu besar," ucap Rara pelan.


"Tapi selama ini kit baik-baik saja. Istri Mas memang sempat cemburu dan curiga, selebihnya semua bak-baik saja," ucap Rafli meyakinkan bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja seperti ini.


"Iya, saat ini mungkin kita bisa tertawa. Besok? Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan kita?" ucap Rara dnegan nada penuh keraguan.


"Hei, Cantiknya Mas. Kesayangannya Mas. Kamu kenapa?" tanya Rafli pelan dengan penasaran.

__ADS_1


Tidak biasanya Rara seperti ini. Setiap kali di ajak berkomunikasi selalu bersikap manis, tumben sekali, kali ini ada yang berbeda dari diri Rara.


"Mas ... Dimana-mana yang akan disalahkan itu perempuan, bukan laki-laki," ucap Rara sedikit merajuk.


"Ra, Seorang perempuan single mencintai laki-laki yang sudah beristri itu tidak salah. Tapi, seorang lelaku yang mencintai perempuan bersuami itu yang salah," ucap Rafli menjelaskan.


"Semua itu salah Mas. Salah penempatan. Cintanya memang tidak pernah salah, tapi letak kesalahannya adalah saat kita mencintai dan kita egois untuk memiliki, itu yang salah," ucap Rara menjelaskan.


Rafli terdiam dan mencerna dengan baik ucapan penjelasan Rara.


"Sudahlah Ra, Mas tidak ingin meributkan hal ini, dan tolong jangan pernah bahas ini lagi. Mas cuma minta sama kamu untuk bersabar," ucap Rafli lembut meyakinkan.


"Iya Mas. Aku paham," ucap Rara dengan suara pelan.


"Wanita pintar, jangan ngeyel ya," ucap Rafli pelan dengan nada memohon.


Hari semakin gelap, adzan maghrib pun sudah berkumandang. Jalan raya itu tampak sangat ramai dan padat oleh kendaraan beroda empat.lampu sorot mobil dan suara klakso yang saling bersahutan membuat jalan raya itu semakai ramai dan hidup. Rara menatap kemacetan itu dari lantai dua kamar hotel yang di tempatinya.


"Iya, hati-hati, jangan lupa makan," ucap Rara pelan.


"Kamu juga hati-hati, jaga hati, jaga kesehatan, dan jangan lupa makan," ucap Rafli pelan mengingatkan kepada Rara.


"Iya Mas. Aku pasti ingat. selamat sholat maghrib, Assalamualaikum," ucap Rara pelan mengakhiri obrolan di telepon selularnya.


"Iya. Waalaikumsalam" jawab Rafli mengucapkan salam.


Rara sudah mematikan ponselnya dan menggeam erat ponsel itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Terkadang Rara berpikir untuk melepaskan Rafli dari hati dan pikirannya. Tapi semua itu sulit, rasa sayangnya seperti sudah mendarah daging dan tidak bisa terlepas lagi.


Hari ini benar-benar lelah, tubuh Rara sudah direbahkan di kasur empuk itu. Sudah sholat dan sudah makan malam yang di peasn untuk diantarkan ke kamarnya. Malam ini Rara benar-benar ingin di dalam kamar saja dan menyediri. Rasanya sanagt enggan untuk melangkahkan kaki, walaupun sekedar berjalan-jalan mencari angin atau hiburan lain.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rara baru saja selesai menelepon Abuya. Sejak siang hanya memantau Abuya melalui pesan singkat yang dikirimkan kepada Aneng, asistennya.

__ADS_1


Abuya cukup dewasa dan mulai paham dengan kesibukan Rara, Sang Mama ytang selalu pergi ke luar kota dan menginap.


"Mama, Buya, minta oleh-oleh mbim ya," ucap Abuya meminta dnegan nada manja.


"Mau mbim lagi? Kemarin kan sudah? Mau mbim apa lagi?" tanya Rara dengan suara lembut.


Abuya menelepon Rara, Sang Mama sambi rebahan di atas kasur dengan memegang ponsel milik Kak Aneng.


"Mbim telolet," jawab Abuya pelan sambil mengingat kembali apa yang pernah di dengarnya di taman kompleks jika Abuya dan teman-temannya sedang berkumpul.


"Mbim telolet kan bis, Buya,' ucap Rara, Sang Mama dengan lembut menjelaskan dan memberi tahu.


Sebagai orang tua terutama sebagai Mama, harus maha mengetahui segala apapun yang di tanyakan oleh anak seusia Abuya. Usahakan jadi perempuan itu harus bisa menjadi kamus besar dan secara khusus bagi anak-anaknya. Jadi tidak ada kata menyerah bagi para Mama untuk selalu beljaar, terus belajar, berkembang, dan beljar dari pengalaman sebagai pembelajaran hidup yang paling berharga.


"Ebis ... Iya ebis," ucap Abuya dengan suara pelan.


"Iya, Nanti Mama belikan, asal Abuya mau makan dan minum susu. Sekarang sudah minum susu belum?" tanya Rara pelan.


Tadi Aneng sudah informasi, kalau Abuya tdak mau minum susu sebelum tidur dan maunya di temani mamanya untuk minum susu.


"Belum," jawab Abuya dengan singkat serta lantang.


"Sekarang minum susu dulu ya? Biar Mama temani Abuya," ucap Rara pelan.


Abuya mengangguk pelan dan menerima satu gelas besar berisikan susu cokelat, lalu meminumnya hingga kandas habis tidak bersisa.


"Enak?" tanya Rara dengan sedikit pelan.


"Enak banget Ma," ucap Abuya pelan dari suara pelan.


"Besok Mama pulang, oke? jangan sedih ya," ucap Rara, Sang Mama dengan suara pelan.

__ADS_1


Abuya pun mengangguk pasrah tanpa diketahui bahwa Rara di balik ponsel pintar tersebut.


__ADS_2