MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
89


__ADS_3

"Ra ... Makah kamu menikah denganku. Di hadapan pusara Fatima, Istri Mas. MAs ingin memperkenalkan kamu sebagai wanita yang paling Mas hormati, hargai dan sayangi sebagai calon istri Mas. Bukan sebagai pengganti Fatima, tetapi menjadi istri Mas, teman hidup Mas, pendamping Mas dunia akhirat di sisa hidup Mas," ucap baihaqi pelan namun terdengar sangat tegas dan lantang. Bibirnya memang sedikit bergetar karena gugup harus mengeuarkan isi hatinya yang memang sangat sulit di ungkapkan.


Rara menatap wajah Baihaqi dan kedua mata legam itu seolah memang tidak percaya, perlu waktu untuk meyakinkan diri dan bisa mempercayai apa yang baru saja di ucapkan oleh Baihaqi kepada Rara di hadapan pusara Fatima.


Kedua mata Rara masih terbuka dan tak berkedip. Jantngnya seperti mencelos ingin keluar dari tubuhnya. Entah harus senang atau sedih mendengar pengkuan ini. Pengakuan yang sebenarnya sudah diinginkan Rara sejak lama. Namun, kini terasa kosong dan hmpa, yang ada hanya perasaan kasihan. Kalaupun Rara masih menyimpan rasa sayang untuk Baihaqi itu semua karena Rara sudah terlalu dekat pada kehidupan Baihaqi dan ketiga anak-anaknya.


Melihat Rara teridam dan takjub dengan semua pengakuan Baihaqi. Baihaqi pun mencium kedua punggung tangan Rara dengan pelan dan sangat lembut. Kecupan itu sangat menyentuh kulit Rara hingga tubuhnya terasa bergetar. Getar-getar itu masih ada tapi tidak seprti dulu. Apalagi Rara sudah berjanji pada rafli utnuk tetap menunggunya.


'Ah, Kenapa harus saat ini Mas Bai mengungkapkan semuanya. Disaat hatiku sudah terisi oleh cinta untuk yang lain, hatiku sudah mulai nyaman dengan lelaki lain yang sudah beristri. sebenarnya cinta ini salah dan terlarang, tapi aku yakin bahwa cinta ini adalah anugerah, buakn untuk di tepis begitu saja dan itu juga tidak mudah. Tapi, apa mungkin ini sebuah kesempatan? Atau memang inisolusi terbaik yang diberikan Allah SWT untukku, untuk melupakan Mas Rafli?' batin Rara di dalam hatinya.


"Kenapa diam Ra? Kamu tidak ingin menjawab pertanyaan Mas?" tanya Baihaqi lirih saat melihat ada kegelisahan di mata Rara.


Rara menggelengkan kepalanya pelan. Rara bimbang dan bingung harus menjawab pertanyaan Baihaqi seperti apa?


"Aku harus menjawab apa, Mas? Aku bingung dengan perasaanku. Bukankah Mas sedang dekat Ukhty Naya?" tanya Rara penuh keraguan.


Kedua mata Baihaqi menatap ke arah Rara dengan sedikit bingung. Tersadar bahwa Rara ada rasa cemburu kepada dirinya pun, sontak Baihaqi tertawa lepas sambil mengulum senyum.


"Kamu cemburu dengan Ukhty Naya? Jujurlah pada Mas, Ra?" tanya Baihaqi pelan sambil mengecup punggung tangan Rara kembali.


Wanita yang ada di depannya ini sungguh menggemaskan sekali. Bisa-bisanya Rara harus cemburu dengan Ukhty Naya yang cocok dijadikan sebagai anaknya sendiri, karena Ukhty Naya adalah mantan santriwati yang dulu pernah mondok di Pondok Pesantren milik Baihaqi.

__ADS_1


Rara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rara tidak ingin Baihaqi berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Mungkin memang dulu Rara punya rasa cemburu tapi sekarang sama sekali tidak.


"Aku tidak cemburu Mas. Jujur, mungkin dulu aku cemburu. Mungkin dulu aku memiliki perasan yang begitu besar kepada Mas Baihaqi. Kekagumanku pada Mas Baihaqi membuat aku terlalu berharap banyak dan bermimpi terlalu tinggi. Saat aku tahu, mungkin aku memang tidak akan pernah pantas untuk Mas Baihaqi," ucap Rara dengan suara pelan.


"Apa yang kamu katakan Ra? Mas menunggumu sejak dulu, menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk menerima Mas. Siap untuk kembali bisa mencintai Mas dengan cara yang benar dan rasa trauma kamu itu benar-benar hilang, karena Mas tidak mau di cintai kamu karena suatu keterpaksaan dan kamu masih terbayangi oleh rasa trauma kamu," ucap Baihaqi pelan menjelaskan isi hatinya.


Sudah sejak pertemuan awal di rumah sakit itu, Baihaqi langsung jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Rara.


Cinta dan rasa kasih sayang yang terus di pupuk untuk terus bertambah setiap hari rasa ingin memiliki wanita yang di pujanya itu.


Rara cukup terkejut dengan penjelasan Baihaqi. Tidak percaya bahwa selama ini mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Perasaan cinta dan kasih sayang, mungkin yang membuatnya berbeda adalah Baihaqi lebih mencintai di awal pertemuan sedangkan Rara mencintai karena terbiasa dan kebaikan serta ketulusan Baihaqi yang membuatnya luluh.


"Ada apa Ra? Kenapa kamu terlihat bingung? Apa ada hal yang mengganggumu? Atau hatimu sudah ada yang lain? Atau kamu belum bisa move on dari masa lalumu, Ra? Maaf jika pertanyaan Mas membuat kamu risih," ucap Baihaqi pelan sambil menatap wajah Rara dengan sendu.


Seketika hatinya terasa galau dan perih. Ada perasaan kecewa yang tiba-tiba hadir berdesir di hatinya. Entah kenapa raut wajah Rara mengisyaratkan suatu penolakan secara halus. Apa mungkin perasaan Baihaqi terlalu peka dengan semua ini.


"Aku bingung Mas, harus menjawab apa? Beri aku waktu untuk merasakan yang sebenarnya aku rasakan. Jujur, dulu aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tapi aku pikir dengan kehadiran Ukhty Naya aku harus perlahan mundur dari kehidupan Mas Baihaqi sebelum semuanya terlanjur dan ujung-ujungnya harus aku yang merasakan sakit hati. Kini aku berusaha membuka hatiku untuk siapa saja, dan aku juga sedang dekat dnegan seseorang yang beberapa bulan ini telah membuatku nyaman," ucap Rara dengan suara pelan.


"Siapa dia, Ra?" tanya Baihaqi dengan sikap posesifnya.


"Kamu tidak mengenal dia, Mas Bai. Aku juga bertemu di dunia maya, tapi aku sudah bertemu dia seminggu yang lalu, dan kita cocok," ucap Rara dengan mantap dan jujur. Binar wajahnya berbeda kala membicarakan pria lain yang saat ini ada diahtinya itu.

__ADS_1


"Kamu mencintainya? Itu dunia maya bukan dunia nyata? Kamu tidak takut? Kamu harus mengenalnya dengan baik, jangan sampai kejadian lama terulang kembali?" ucap Baihaqi dengan tegas. Ada rasa cemburu yang melingkupi hatinya saat ini.


"Kamu kenapa Mas? Bukankah itu hak aku untuk mencintai? Kepada siapapun itu? Kita bahakan tidak punya hubungan apa-apa?" ucap Rara tegas yang merasa terpojok.


"Itu memang hak kamu. Tapi Mas juga punya hak untuk mencintai kamu, jadi keajiban Mas adalah menjaga kamu," ucap Baihaqi pelan sambil merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbahan beludru.


Rara menatap kotak kecil itu dengan wajah bingung, lalu Baihaqi membuka kotak kecil itu dan mengambil cincin dari dalamnya menunjukkan kepada Rara. Peluh baihaqi bercucuran, rasa kesal bercampur kecewa dan menahan emosinya karena mendengar kejujuran Rara.


"Mas ingin melamar kamu, Ra. Cincin ini milik mendiang Fatima, istriku. Dan akan aku berikan kepada orang yang pantas untuk mendampingiku saat ini dan selamanya," ucap Baihaqi lirih. Wajahnya sendu tak karuan. Rasa perih dan pedih sudah dirasakan Baihaqi.


Cukup sakit mendengar kejujuran Rara yang telah memiliki seseorang lain yang snggup mengisi hatinya dan membuatnya nyamna.


"Menikahlah dengan Mas, Ra?" ucap Baihaqi tegas.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"beri aku aktu untuk menjawabnya dan meyakinkan aku, kepada siapa sebenarnya hatiku ini aku berikan, Mas? Tolong jangan paksa hati aku untuk menerima sesuatu hal yang tidak bisa dipaksakan. aku berusaha jujur dengan diriku sendiri dan kepada Mas Bai. Saat ini, memang inilah yang aku rasakan. Rasa yang sudah tumbuh harus hilang karena kesalahpahaman. Tapi, semua itu sudah terlambat, Mas. Saat ini aku tidak bisa menerima Mas Bai, beri aku waktu untuk mencoba kembalimembenarkan hubungan ini, itu juga aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, dan tidak bisa memberikan keputusan yang jelas," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Cintailah Mas, Ra. Mas akan membahgaakan kamu dunia dan akhirat. Mas berjanji di depan pusara fatima, istri Mas. Belia pasti bahagia bila Mas dan anak-anak mendapatkan istri dan ibu yang baik dan tulus seperti kamu, Ra. Beberapa hari lalu, Fatima datang dalam mimpi Mas. beiau meminta secara khusus membawamu ke pusara ini dan mengenalkanmu kepadanya," ucap Baihaqi dengan suara melembut.


Hatinya pasrah sudah. Ingin berteriak keras namun di urungkan. Kekesalannya kenapa sejak awal tidak langsung mengutarakan isi hatinya kepada Rara.

__ADS_1


__ADS_2