
Ponsel Rara sudah diletakkan kembali ke nakas dekat ranjangnya itu. Perasaanya sangat bahagia dan tenang telah di beri kabar oleh orag yang sejak tadi memang ditunggunya.
Rara ingat beberapa bulan lalu mengenal Rafli secara tidak sengaja dalam satu room bernyanyi. Saat itu, ada tiga orang yang berada disana dua lelaki dan Rara. Dua lelaki itu Rafli dan satu lagi sebut saja namanya Ade.
Ade ini juga menaruh rasa simpati kepada Rara. Bisa dibilang memang menyukai Rara.
Ketiganya saling berbalas chat di room tersebut, Rara sendiri sudah 'klik' dnegan Rafli sejak awal pertemuan dan mendebgarkan Rafli naik ke atas panggung. Bearwal dari simpatik, kemudian timbul rasa suka, kemudin nyaman yang akhirnya sayang dan mencintai.
Dengan jujur, Rafli bilang, "Ada hati yang harus dijaga."
Seketika hati Rara berdegub dengan keras mendengar jaaban itu. Ada perasaan kecewa dan sakit hati karena harus mencintai seseorang yang tidak menaruh rasa sedikit pun kepada dirinya.
Rara mencoba santai dan tidak terllau memikirkan ucapan rafli itu. tapi tidak bisa, Rara benar-benar sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Wah ... Sudah ada yang punya Bang?" taanya Ade kepada Rafli.
"Ya, sudah ada," ucap Rafli pelan.
Rara hanya terdiam dan tidak mengomentari. Rara bingung harsu berkomentar apa. Rara tidak punya hak untuk marah, tapi sore itu Rara benar-benar kesal setelah mengetahui status Rafli sebenarnya.
"Rara, Kok diem aja sih?" tanya Ade pelan.
Kedua lelakinitu tidak tahu, jika Rara sudah menaruh hati kepada Rafli sejak aal pertemuannya di room bernyanyi itu.
"Apa Bang? Mode nyimak," ucap Rara pelan.
Ketiganya akhirnya saling berbalas chat. Ade pun mulai berani meanyakan status Rara secara terang-terangan di room itu.
"Kamu jomblo kan?" tanya Ade dengan rasa penasaran.
"Iya, jomblo. Kenapa Bang?" tanya Rara yang bingung.
"Itu tandanya Ade mau deket sama kamu, Ra," ucap Rafli dengan polosnya.
__ADS_1
Saat itu Rafli hanya kagum pada Rara. Kaugm dengan tata bahasanya, cara berbicara dengan orang lain, caa menyapa para tamu yang hadir. Entah mengapa segala yang ada di diri Rara semuanya terasa indah dan unik saja bagi dirinya.
"Deket boleh aja, jangan main hati ya. Karena hati gak bisa dipaksakan," jawab Rara dengan jujur.
"Bisa minta nomor telepon dong,' tanya Ade dengan antusias.
Rara langsung tertawa dan memberikan emoji senyum.
"Nomor teleponku hanya untuk orang-orang tertentu saja," ucap Rara singkat.
Dari awal memang Rara tidak respect dengan Ade, seolah Ade ini memiliki sesuatu yang buruk untuk Rara.
"Kenapa tidak dikasih? Siapa tahu berjodoh," ucap rafli memebrikan nasihat.
"Kalau jodoh pasti tidak akan kemana. Jadi tiak perlu nomor telepon dong," jawab Rara dengan sedikit kesal.
"Tuh De, Gaspol. Rara ini perempuan baik-baik kok, kamu harus bisa ambil hatinya," ucap Rafli pelan lalu bernyanyi di atas panggung di dalam room bernyanyi itu.
"Mau deketin bilang-bilang. Deketin itu pake doa, pake sholawat, pake hadoroh, tembusin hatinya dulu, minta sama Allah SWT, Maha pembolak balik hati manusia," ucap Rara menjelaskan.
"Wah, Ayok Ade, sudah ada tanda-tanda, minta lewat doa. Kalau saya masih single, saya juga mau punya wanita pendamping seperti Rara," ucap Rafli pelan menjeaskan.
"Iya Bang. Doanya gimana sih?" tanya Ade polos dan jujur.
"Nanti inbok saya ya. Saya kasih tahu caranya," ucap Rafli pelan.
"Iya Bang. Makasih ya, Bang," ucap Ade pelan.
"Sama-sama, saya cuma membantu," ucap Rafli pelan.
"Jangan lupa doa di sepertiga malamnya," ucap Rara dalam berbalas chat di room bernyanyi itu.
Hari itu, tidak ada yang spesial. Hati Rara terasa perih dan pedih. Lelaki idamannya sudah memiliki hati yang harus di jaga dan lebih tepatnya telah memiliki istri.
__ADS_1
Mulai hari itu juga Ade memang antusias dan semangat untuk mendekati Rara. Setiap hari selalu inbox hanya untuk menanyakan kabar dan bertanya tentang pribadi Rara.
Rara hanya membalas seperlunya, hatinya memang telah mati untuk lelaki lain kecuali seseorang yang telah membuatnya selalu bahagia hanya melihat satu nama yaitu Rafli.
Hari itu Rara memberanikan diri untuk inbox Rafli lebih dulu. entah kenaa Rara ingin sekali mengenal Rafli lebih jauh lagi. Bukan hanya sebagai teman biasa tapi minimal bisa menjadi seorang sahabat.
Rasa suka Rara kepada Rafli sudah muali tumbuh, aurat suara yang indah di setiap lantunan lagu yang berhasil di rekam oleh Rafli untuk di perdengarkan kepada semua orangtelah menyihir Rara untuk mengagumi lelaki online itu.
"Assalamualaikum, Pagi, Kak Rafli, aku mau duetin lagu lagi ya? Tidak keberatan kan? Ini banyak sekali lagu-lagu favorit aku, dan sepertinya umur kita sama dan tidak berbeda jauh, " ucap Rara di dalam inbox satu aplikasi bernyanyi itu.
"Waalaikumsalam, Pagi juga. Silahkan sjaa Ra. Sayan tidak keberatan bahkan malah senang jika di join semua lagu saya. Sepertinya memang umur kita sama dan berada di dekade yang sama," jawab Rafli dalam inbox itu sambil memebrikan emoji tersenyum.
Sama seperti Rara, rafli nampak bahagia saat wanita yang dikaguminya dalam diam itu juga menginbox dirinya untuk pertama kali. Entah mengapa lelaki bernama Rafli ini juga merasakan kebahagiaan luar biasa, tidak seperti dengan wanita lain kebanyakan yang terasa datar dan biasa saja.
"Kak Rafli, umurnya berapa?" tanya Rara dengan penasaran.
"Saya kelahiran tahun 19xx, Kamu sendiri?" tanya Rafli kemudian kepada Rara.
"Saya kelahiran 19xx. Kita hanya berbeda bulan dan tahun saja, hanya tepaut satu tahun kurang ternyata," ucap Rara pelan.
"Kak Rafli punya anak berapa?" tanya Rara kemudian bertanya tentang hal yang lebih bersifat pribadi.
"Saya punya anak lima, anak pertama saya meninggal setelah beberapa hari di lahirkan karena suatu penyakit, dan kini saya bersama denagan satu istri dan empat orang anak. Dua anak lelaki dan dua anak perempuan," jawab Rafli dalam inboxnya.
"Saya juga punya satu anak, bernama Abuya. Aku melahirkan putraku tanpa seorang Ayah. Ayahnya pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab setelah mengetahui saya hamil dan malahann menfitnah kehamilan itu terjadi bukan hanya dengannya dia saja tetapi dengan lelaki lain," ucap Rara dalam inbox itu.
"Ohh ... Masya Allah. Tapi kamu kuat sekali Ra? Maksudku menjalani kehidupan ini sepertinya tanpa beban," tanya Rafli kembali.
"Untuk apa di sesali. Rasanya memang sakit sekali, kecewa luar biasa saat itu. Tapi, semuanya harus saya tutup rapat-rapat dan saya harus bangkit dari keterpurukan ini," jawab Rara dengan jelas.
"Lalu, Kamu bekerja saat ini?" tanya Rafli dengan ragu.
Rafli hanya ingin tahu, setegar apa? semandiri apa? wanita yang dikaguminya dalam diam itu.
__ADS_1