MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
35


__ADS_3

Sudah dua hari Rara di rawat di rumah sakit, kota kelahirannya. Dyah sudah kembali ke Jakarta sejak kemarin karena harus bekerja, belum lagi mengurus keluarganya, ada Cantika dan Mas Hendra yang juga membutuhkan perhatiannya.


Menurut dokter, Rara harus banyak istirahat agar kondisi tubuhnya pulih. Mungkin bisa membutuhkan waktu yang cukup lama.


Mama Rara pun juga tidak datang. Bagi Baihaqi, ucapannya kemarin kepada Mama Rara hanya sebagai nasihat dan saran saja. Jika ingin dilakukan itu lebih baik, tapi jika masih ada rasa kecewa besar terhadap Rara dan masih belum bisa khlas, itu juga tidak apa-apa, semua itu hak dan pilihan hidup.


"Pagi ... Sudah bangun? Mau sarapan apa?" tanya Baihaqi dengan suara lembut. Wajahnya masih basah karena air wudhu.


Rara menatap Baihaqi yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap itu. Dua hari ini, hanya ada Baihaqi yang begitu peduli dan perhatian kepada Rara, selain Dyah, sahabatnya.


"Pagi, Mas ... Nanti saja sarapannya. Mas Bai juga baru datang," jawab Rara dengan lembut.Ponselnya yang tadi sedng di utak-atik pun alngsung di letakkan di atas nakas tepat di sebelah bed tempat Rara berbaring.


Baihaqi mengangguk pelan dan menutup kembali ruang rawat inap itu. Langkah kakinya berjalan menghampiri ke arah Rara.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang, Ra? Apa keram di perutmu masih suka terasa?" tanya Baihaqi lembut dan duduk di tpi ranjang rumah sakit itu sambil menatap lekat Rara. Wajah pucatnya sudah tak terlihat, kali ini wajahnya terlihat sendu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku baik-baik saja, Mas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi aku. Terima kasih sudah menjaga aku, merawat aku, peduli denganku. aku tidak tahu harus dengan cara apa membalasnya," ucap Rara lirih. Matanya sembab dan memerah, sesak rasanya. Di saat seperti ini justru orang lain yang baru di kenalnya yang begitu peduli dengan dirinya.


Baihaqi tersenyum mendengar ucapan Rara yang begitu mendalam. Ungkapan rasa terima kasih dan permintaa maaf yang sekaligus di ucapkan membuat Baihaqi pun tersiksa, namun bahagia. rasany memang campur aduk, tapi beginilah rasa cinta itu terlalu mudah mengobrak-abrik hati dan jatungnya hingga membuat tidak sehat secara batin.


"Aku ikhlas, Ra. melihat kamu sehat saja, itu sudah cukup membuatku bahagia. Apalagi setiap hari aku bisa melihatmu tersenyum, itu anugerah dalam hidupku, Ra," ucap Baihaqi pelan.


Rara berusaha mengangkat wajahnya dan tersenyum. Punggung tangannya mengusap air mata yang baru saja menetes di sekitar pipinya.


"Entah bagaimana aku bisa membalas ini semua. Tapi, ijinkan aku ikut menjaga ketiga anakmu selama aku tinggal di rumah bambu, boleh, Mas?" tanya Rara pelan.


"Kamu yakin mau kembali ke rumah bambu? Sejak kemarin aku ingin menanyakan ini, tapi aku ragu," ucap Baihaqi penuh rasa bahagia.

__ADS_1


"Aku yakin sekali. Semua sudah aku putuskan. Aku ingin membuka usaha, lalu akan membeli rumah jika uangku sudah cukup. Tidak mungkin aku terus-menerus menumpang di rumahmu, Mas," ucap Rara pelan.


"Aku malah senang. Aku tidak keberatan masalh rumah, pakailah, anggap saja itu rumahmu sendi," ucap Baihaqi menekankan kesediaannya.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Rumah itu adalah rumah kenangan Mas dengan mendiang istri Mas, lagi pula rumah itu juga akan Mas gunakan untuk istri Mas nanti, bukan aku. KIta hanya sebats kakak adik saja, aku pastikan tidak akan rasa diantara kita, agar semuanaya abadi. mas Bai terlalu baik untuk disakiti, biar aku membalasanya dengan mengurus ketiga anakmu, Mas," ucap Rara pelan menawarkan kesediaannya untuk menjaga ketiga buah hati Baihaqi.


"Aku tidak ingin kamu lelah. Aku juga tidak ingin membebanimu, Ra. Masalah hati, biar Allah yang menakdirkan, jangan memastikan sesuatu hal yang belum pasti. Karena harapanku kepadamu masih sangat tinggi," ucap Baihaqi lembut tanpa mengintimidasi.


Ini yang dikagumi oleh Rara, dari seorang Baihaqi. Sederhana, bijak, dewasa, dan tidak neko-neko.


"Mas ... Biar aku pelan-pelan melupakan semua ini," harap Rara pelan.


"Baiklah kalau kamu memaksa dan tujuanmu untuk membuat kau bahagia. Kalau ada sesuatu jangan pernah sungkan untuk bicara padaku. Kalau kamu memang mau menganggapku sebagai Kakak, maka jangan pernah sungkan untuk bicara," ucap Baihaqi pelan menasehati Rara.


"Terima kasih," ucap Rara pelan.


"Jadi, mau sarapan apa? Kasihan bayimu?" tanya Baihaqi dnegan pelan.


"Nasi goreng kambing, tiba-tiba pengen menu itu," ucap Rara pelan sambil memegang perutnya.


"Sakit?" tanya Baihaqi sedikit cemas.


"TIdak Mas, hanya ingin nasi goreng kambing saja," jawab Rara cepat.


"Baiklah aku carikan dulu," ucap Baihaqi pelan lalu mengambil dompet hitam dan ponselnya di nakas, lalu berjaln keluar kamar.

__ADS_1


Rara menatap punggung Baihaqi yang berlalu pergi menjauh hingga menghilang saat pintu kamar rawat inap itu kembali tertutup.


'Kamu terlalu baik untukku, Mas. lagi pula aku sudah menganggapmu seperti Kakakku sendiri, tidak mungkin ada cinta di saat hatiku masih merasakan kecewa dan sakit hati atas lelaki. Ini akan terasa sangat sulit seklai, biar waktu yang menjawab semuanya,' batin Rara di dalam hatinya.


Tidak lama, pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka dan sosok wanita masuk ke dalam. Rara mengangkat wajahnya dan menatap tidak percaya dengan kedatanagan wnaita paruh baya, tidak lain adalah Sang Mama ditemani oleh Bapak dan kedua adik laki-lakinya.


Sang Mama, langsung menghampiri Rara danmemeluk putrinya dengan penuh kasih sayang dan begitu erat.


"Maafkan Mama dan juga Bapak. Kami berdua tidak bermaksud membuat kamu sakit, Ra. Kamu benar0benar shock dnegan kejadian ini, hingga kami tidak bisa menerima kentan pahit ini," lirih Sang Mama di dekat telinga Rara.


Rara yang begitu terkejut dengan dengatangan sang Mama pun ikut tersenyum bahagia dan menangis penuh haru.


Bapak Rara pun ikut memeluk putri kesayangannya itu.


"Maafkan bapak juga, Ra," ucap Bapak Rara dengan penuh penyesalan.


"Rara tidak apa-apa Ma, Pak. Ini cukup mengejutkn Rara, dan Rara sudah memaafkan Mama dan Bapak sejak awal. Tidak ada ada rasa kesal dan dendam di hati Rara. Mama dan Bapak mau datang saja, sudah membuat Rara bahagia seklai," ucap Rara lembut dan mengendurkan pelukan dari Sang Mama dan Bapak.


" Terima Kasih, Ra. Ustad alim yang kemarin mana?" tanya Sang Mama mencari-cari keberadaan Baihaqi.


"Siapa? Mas Baihaqi? Oh...Dia lagi beli nasi goreng kambing, Rar pengen banget makan itu," ucap Rara pelan dengan nada sedikit manja.


"Oh ... Begitu. Baik sekali, mau di repotkan sama kamu? Dia calon suamimu?" tanya Sang Mama dengan suara pelan.


Rara menggelengkan kepalanya.


"Bukan Ma. Mas Bai sudah Rara anggap sebagai Kakak sendiri. Rara sedang tidak ingin memikirkan pendamping. Rara hanya ingin fokus dengan anak ini," ucap Rara pelan sambil mengusap pelan perutnya yang terlihat semakin membuncit.

__ADS_1


"Mama bawa bawa nasi pecel dan peyek paru kesukaanmu. tapi, kamu sedang ingin makanan lain, nanti saja dimakannya," ucap Sang Mama pelan dan merapikan beberapa kotak maan di nakas ruangan rawat inap itu.


__ADS_2