MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
78


__ADS_3

Rara sudah memarkirkan mobilnya di depan Ruko tempat Rafli bekerja. Rara menggandeng Abuya dan memasuki ke dalam Ruko tersebut.


Rafli yang sadar dengan kedatangan Rara dan Abuya pun nampak langsung tersenyum lebar, lalu menghampiri wanita yang selama ini telah mengganggu hati dan pikirannya.


"Hai ... Apa kabarnya?" tanya Rafli kepada Rara saat pertemuan pertama mereka di suatu tempat yang telah di janjikan.


Senyum Rara terbit dengan sangat manis. Rasa bahagia di hatinya benar-benar terpancar. Hari ini adalah hari yang ditunggu selama beberapa bulan perkenalannya dengan Rafli.


Rara menarik punggung tangan lelaki yang telah berhasil mengisi hatinya selama ini lalu mencium punggung tangan itu dengan sangat hormat dan mengahrgai.


"Alhamdulillah. Kamu apa kabarnya Mas? Akhirnya kita bisa ketemu dan bertatap muka secara langsung. Aku bahagia, Mas," ucap Rara pelan dengan jujur.


"Hai Abuya?" sapa Rafli dengan suara ramah dan lembut lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Abuya yang masih di gandeng dengan erat oleh Rara.

__ADS_1


"Salim Nak," titah Rara pelan kepada Abuya. Rara menatap Abuya yang juga melirik ke arah Rara lalu tersenyum dan mengedipkan satu matanya.


Abuya pun mengulurkan tangan kanannya dan menerima uluran tangan Rafli yng sudah lebih dulu menggapai tangan mungil Abuya. Abuya mengecup punggung tangan Rafli dengan hormat namun penuh keraguan dan takut.


Maklum saja, anak kecil yang jarang bersosialisasi dengan banyak orang hingga merasa kesulitan bila harus berkomunikasi langsung dengan orang lain yang belum dikenalnya.


"Hai gantengnya Mama Rara. Mau minum susu cokelat?" tawar Rafli yang sudah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Abuya.


Rafli pun tersenyum dan mencubit pipi gembil Abuya dengan gemas. Rafli memang penyuka anak-anak. Rafli berdiri dan berjalan menuju kulkas dingin yang ada di ruangan itu lalu mengambil satu kotak susu cokelat dan di berikan kepada Abuya.


"Ini susu cokelatnya. Minum ya? Mau di bukakan sama Om?" tawar Rafli kepada Abuya.


Keduanya duduk di sofa empuk yang ada di ruang tunggu tempat itu. Tempat dimana mereka telah menentukan tempat titik pertemuan, yaitu di tempat kerja Rafli yang berada di Kota Jakarta.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertama kalinya mereka membuat janji yang sudah di sepakati bersama sejak beberapa minggu lalu dan baru saat ini keduanya memiliki waktu senggang yang sama.


"Kamu sudah makan? Apa mau pesan makan siang? Pasti kamu lapar setelah perjalanan yang cukup jauh?" tanya Rafli pelan dengan sedikit canggung.


Ada rasa canggung dan sedikit bingung yang dirasakan oleh Rafli menghadapi wanita yang dikenalnya secara online dan kini benar-benar sudah ada dihadapannya.


Rara sendiri juga merasa canggung dan janggal. Ada rasa bingung mau bagaimana setelah ini. Padahal sebelum bertemu keduanya sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik untuk pertemuan hari ini. Namun, pada kenyataannya setelah bertemu mereka berdua hanya saling pandang dan saling melempar senyum kebahagiaan.


Tidak ada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Keduanya hanya bisa membatin memuji satu sama lain. Rara yang anggun, ramah dan pesona kewanitaannya begitu terpancar, sedangkan Rafli yang terlihat alim, diam namun perhatian.


"Mas mau makan? Bukankah ini jam makan siang? Mau makan di luar?" tanya Rara yang terlihat gugup sedikit terbata mengatur ritme napas tegangnya.


Rafli menatap jam yang ada di tangan kirinya. Keningnya sedikit berkerut dan nampak berpikir dengan keras. Lalu perlahan kepalanya mengangguk dengan tegas tanda mengiyakan permintaan Rara yang memintanya untuk keluar dan makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2