MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
37


__ADS_3

Sore ini, Baihaqi sudah merapikan barang-barang Rara. Hari ini juga, mereka akan pulang kembali ke Bogor.


"Sudah siap untuk pulang ke Bogor, tuan putri?" tanya Baihaqi sambil terkekeh.


Rara ikut terkekeh dan melayangkan satu kepalan tangannya ke arah lengan Baihaqi.


"Aww ... Sakit lho, Ra," gemas Baihaqi sambil berpura-pura kesal.


"Bilang sakit kok kayak gemes begitu?" ucap Rara makin terkekeh melihat Baihaqi yang mode bercanda sejak tadi.


Setelah mengenal Baihaqi, Rara mengira Baihaqi itu dingin dan kaku, ternyata Baihaqi itu sosok yang hangat dan ramah.


"Wah, diam-diam memperhatikan juga ya," ucap Baihaqi yang menggoda Rara.


"Ih ... Mas Bai, apaan sih," ketus Rara karena kesal di goda.


"Mau pulang atau tidak?" tanya Baihaqi pelan.


"Mau dong," jawab Rara dengan sedikit manja.


"Mau ganti baju? Setelah ini kita pulang," ucap Baihaqi pelan.


"Pakai ini saja, baru tadi pagi ganti baju. Mas ...." panggil Rara pada Baihaqi dengan lembut.


"Apa?" jawab Baihaqi pelan.


"ATMku ada di dompet, untuk bayar rumah sakit," ucap Rara pelan.


Baihaqi menggelengkan kepalanya pelan sambil menutup tas pakaian milik Rara.


"Administrasi sudah beres. Simpan uangmu untuk keperluan melahirkan nanti," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Kenapa masih mau membantuku dan berkorban untukku?" tanya Rara dengan suara lembut.


"Karena aku, Kakakmu. Bukankah seorang Kakak memang harus membantu adiknya? Jadi aku tidak salah kan? Jika masih membantumu?" ucap Baihaqi pelan sambil menatap lekat kedua mata Rara.


"Hemm ... Gitu ya. Tapi kan tidak gitu juga. Jadi pulang sekarang?" tanya Rara pelan. Kedua kakinya sudah turun dari bed rawat inapnya dan berusaha untuk berdiri dengan bantuan pagar pada bed yang digunakannya tadi.


"Kalau belum kuat, jangan memaksakan diri. Sebentar aku bantu," ucap Baihaqi menghampiri Rara.


"Iya, Mas," jawab Rara pelan.


"Maaf, Aku pegang lengan kamu ya, Ra?" tanya Baihaqi pelan sambil memegang lengan Rara.


Rara hanya mengangguk pelan mengiyakan permintaan Baihaqi. Satu tangan Baihaqi memegang lengan Rara dan satu tangannya lagi membawa tas pakaian Rara. mereka berdua berjalan ke luar rumah sakit menuju parkiran mobil dan akan kembali ke Bogor, ke rumah bambu milik Baihaqi.


Mulai hari ini, Rara bertekad untuk membuka lembaran hidupnya yang baru. Semua akan dimulai dari awal, hanya ada Rara dan buah hatinya nanti. Tidak ada siapapun yang bisa mengganggu kebahagiaan keduanya termasuk Cantas, Ayah kandung dari buah hatinya nanti.


"Kenapa sejak tadi diam? Ada hal yang mengganggu pikiranmu? Atau mau pamit ke rumah Mama?" tanya Baihaqi pelan sambil menuntun Rara.


"Kamu yakin? Kamu akan baik-baik saja dengan keadaan ini? Masalah ini yakin bisa kamu atasi sendiri? Janji untuk tidak mengabaikan bayimu lagi? Aku, orang pertama yang akan marah padamu jika kamu melakukan itu lagi hingga terjadi sesuatu pada anakmu!! Dengar?" ucap Baihaqi sangat tegas.


Bagi Baihaqi, Rara adalah seseorang yang di amanahkan keluarganya kepada dirinya. Bahaqi harus benar-benar menjaga dan merawat Rara dengan sangat baik.


"Aku yakin dengan keadaanku, Mas. Kamu cukup tahu dan kenal aku, bukan? Jadi tidak perlu sekhawatir dan sepanik itu," ucap Rara pelan tanpa menoleh ke arah Baihaqi.


"Oke, Aku pegang janji kamu," tegas Baihaqi.


Selama perjalanan hujan deras mengguyur. Rara beberapa kali sempat memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas. Hawa yang dingin membuat tubuhnya ikut merasakan kenyamanan bersandar di jok depan itu dengan selimut tebal menutup seluruh bagian tubuhnya.


"Kamu lapar? Kita mau berhenti makan, atau membeli makanan siap saji dan makan di dalam mobil," tanya Baihaqi saat melihat kedua mata Rara tengah membuka dan menatap jalan raya yang tidak terllau jelas karena hujan deras.


Sudah tigajam perjalanan, dan selama itu hujan mengguyur dengan sanga deras diiringi dengan kilatan dan suara petir yang cukup keras seolah menembus ke dalam mobil.

__ADS_1


Rara menoleh ke arah Baihaqi saat pertanyaan Bihaqi menjadi pertanyaan yang sangat tepat baginya. Sudah setengah jam yang lalu, perutnya memang terasa sangat lapar, namun Rara enggan untuk bicara dan mengungkapkan rasa lapar itu. Rara hanya takut akan mengganggu tingkat konsentrasi Baihaqi.


"Mau makan, aku lapar. Kita beli hamburger sama kentang goreng saaj. Tidak usah turun dari mobil, kita bisa makan di parkiran," ucap Rara memberi saran.


"Good idea, simpel dan tidak ribet. Kita beli yang banyak, biar tidak perlu turun lagi untuk beli makanan," ucap Baihaqi pelan.


"Iya, Kentang goreng, Chicken fillet, hamburger, rice bowl, hot capuccino," ucap Rara menyebutkan beberapa menu kesukaanya dengan mata berbinar. Maklum Ibu hamil itu banyak maunya, tapi memang dimakan kalau pas mau, kalau lagi tidak mau cuma diendus-endus tidak jelas kayak tikus.


"Banyak sekali, pasti dimakan tidak? Jangan cuma kepengen saja, tapi dimakan ya," ucap Baihaqi pelan.


Rara mengangguk mantap.


"Aku makan semua, aku suka menu itu dan aku lapar sekali. Ini juga keingingan buah hatiku," ucap Rara tersenyum dan mengusap perutnya dengan lembut.


Beberapa malam ini, perutnya sudah mulai terasa bergetar dari dalam dan ada gerakan-gerakan halus ayng berputar mengelilingi perutnya hingga tendangan-tendangan kecil yang membuat bentuk bulat perutnya pun terlihat ada tonjolan-tonjolan tendangan dari dalam.


Rara makin bersyukur dengan anugerah titipan ini. Sejak Rara mengetahui dirinya mengandung, tidak sedikitpun terbesit di pikiran Rara untuk menggugurkan kandungannya atau membuang anak tidak berdosa itu. Saat itu yang ada di dalam pikiran Rara hanya rasa panik namun bahagia. Rara sudah berusia matang, sudah sewajarnya hamil dan melahirkan anak. Itu tanda kesempurnaan seorang wanita. Hanya saja cara Rara salah, Rara mengandung bukan hasil ikatan perkawinan. Ini yang mmebuat Rara menyesali perbuatannya.


"Baiklah, Aku akan pesankan semua keinginan kamu. Kamu makan di mobil dan aku akan melaksanakan sholat terlebih dahulu, baru nanti aku temani makan. Tidak apa-apa kan?" tanya Baihaqi pelan.


"Tidak apa-apa. Kita makan di aprkiran masjid saja. Biar Mas tidak kehujanan," ucap Rara pelan menyarankan.


"Boleh juga. Oke itu tempat pesan makanan, kamu sebutkan biar kasirnya tahu," ucap baihaqi pelan kepada Rara.


Rara sudah menyebutkan beberapa menu makanan yang dia inginkan dalam porsi besar dan jumlah yang cukup banya. baihaqi hanya memesan beberapa makann untuk dirinya.


Setelah selesai menerima pesanannya. Mobil Baihaqi pun melaju keluar area parkiran untuk mencari Masjid terdeka.


"Itu Masjid, Mas. Kita di sana saja. kasiha Mas kalau harus kehujanan,'" ucap Rara pelan.kepeduliannya membuat hati baihaqi merasa terhibur bahagia. Senyumannya terbit dan melebar.


"Terima kasih ra. Sudah mau peduli dengan kesehatan aku," ucap Baihaqi pelan lalu keluar dari dalam mobilnya dan berlari kencang menuju tempat wudhu.

__ADS_1


__ADS_2