
Hari ini begitu terasa berbeda, bukan hanya harinya saja yang berbeda karena memiliki nama yang berbeda. Bukan juga karena hari ini Rara bertemu dengan Rafli, lelaki yang dia cintai saat ini. Lalu, apa yang membuat berbeda sebenarnya antara hari kemarin dan hari ini dengan hari-hari yang akan datang.
Suara teriakan kecil yang begitu nikmat telah memenuhi seisi ruangan sempit itu. Kamar apartemen yang di pesan oleh Baihaqi pun menjadi saksi keseriusan hubungan antara Rafli dan Rara. Tidak hanya itu saja, bahkan mereka berdua telah berkomitmen sendiri untuk saling menjaga dan melengkapi.
Posisi Rafli masih berada di atas tubuh Rara yang sudah terkulai lemas, Rafli begitu mengginginkan Rara secara terus menerus tanpa ampun.
Maklum, hasrat keduanya masih di kelilingi rasa ingin dan penasaran jadi semua pasti akan mengalir begitu saja di tambah rasa semangat dan rasa percaya diri yang luar biasa.
"Mamah tidak menyesal bukan? Kalau Papah menitipkan benih cinta kita? Papah pasti akan bertanggung jawab atas perbuatan Papah," lirih Rafli di dekat telinga Rara.
Peluh Rafli terus mengucur deras karena peperangan yang begitu sempurna hingga mencapai puncak beberapa kali.
Senyum Rara terbit dari sudut bibirnya. Andaikan benar benih cinta itu berubah menjadi malaikat kecil yang di titipkan oleh Sang Pencipta, maka Rara akan begitu senang dan bahagia.
Dalam hatinya pun tidak akan menuntut apapun dari Rafli. Cukup Rafli mengetahui dirinya sedang mengandung anaknya dan diakui. Mungkin hanya itu permintaan sederhana Rara yang ada di dalam benaknya saat ini.
"Aku sama sekali tidak menyesal dnegan ini semua. Aku bahkan bahagia bisa bersamamu seharian ini. Semoga apa yang aku inginkan terwujud, Pah," lirih Rara yang terlihat puas dan bahagia.
"Mamah yakin tidak menyessal bukan?" tanya Rafli lembut sambil mengusap pipi kekasihnya itu dan mencium pipi gembil itu yang telah menjadi candunya sesekali pipi itu di gigit lembut dengan bibirnya.
Rara pun mengerucutkan bibirnya. Rasanya geli dan sedikit sakit saat gigitan itu menyentuh kulit pipinya.
"Sakit Pah," manja Rara berpura-pura kesal. Padahal hatinya sangat senang sekali di perlakukan seperti ini.
"Yakin sakit? Perasaan Papah gigitnya lembut lho?" ucap Rafli lembut dan mengusap kulit pipi Rara yang membekas oleh gigitan gemasnya.
"Sakitnya tetap terasa," rengek Rara dengan manja sekali.
__ADS_1
"Mamah kok jadi manja begini? Papah kan jadi gemas," ucap Rafli sambil menoel pipi gembil itu lalu di kecupnya berkali-kali.
"Turun ih, berat tahu, Papah diatas begini terus," ucap Rara yang mulai lelah menahan berat tubuh Rafli yang masih betahan diatas tubuh Rara.
Rencananya akan dimulai lagi setelah istirahat sejenak, tapi melihat Rara yang mulai lemas dan lelah, perlahan Rafli pun merangkak turun dari tubuh polos Rara.
Rara hanya bisa tersenyum lega, memang terasa sulit bernapas sekali tadi. Mungkin sudah terlalu lama kekasihnya itu berada di atas tubuhnya.
"Maafin Papah ya Mah," ucap Rafli pelan lalu menyelimuti tubuh polos Rara dengan selimut tebal.
Keduanya berpelukan dengan sangat nyaman. Istirahat melepas lelah setelah berolah raga yang memacu gairah hingga puncak asmara. Kini keduanya sama-sama lelah dan terkulai lemas hingga keduanya benar-benar tertidur pulas sambil berpelukan.
Sudah tiga jam Baihaqi menatap lubang pintu kamarnya menatap pintu kamar yang ada di depannya. Rencana kepergiannya pun di batalkan karena rasa penasaran yang luar biasa. Siapa laki-laki yang datang menemui Rara. Dan ini sudah setengah hari, lelaki itu belum juga menampakkan hidungnya untuk pulang atau keluar dari kamar Rara.
'Apa yang mereka perbuat? Apa jangan-jangan mereka berdua berbuat hal yang tidak seharusnya?' batin Baihaqi yang mulai cemas dan penasaran.
Sebenarnya tidak ada yang harus di khawatirkan, yang pertama Rara sudah dewasa dan memang sudah memiliki kekasih, lalu yang kedua, Baihaqi tidak memiliki hak untuk mengatur Rara dalam hal apapun walaupun Rara terjebak dalam dosa besar.
Hari semakin malam dan semakin petang. Baihaqi bertambah kalut dan cemas. Sesekali melihat ke arah jarum jam dan menatap lekat pukul berapa saat ini.
Berbeda dengan yang terjadi di kamar Rara. Rara begitu bahagia dan sangat senang dengan semua aktivitas hari ini. Rafli dan Rara masih berada di atas kasur empuk itu. Rafli yang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur kamar itu masih memangku Rara yang sejak tadi bergelayut manja. Keduanya masih dalam keadaan polos, memang komitmen mereka seperti itu. Saling melengkapi dan saling memuaskan hingga malam sebelum Rafli pulang untuk kembali ke rumah. Sudah pasti istri dan anak-anaknya menunggu kedatangan suami dan ayah mereka yang ternyata sedang asyik dengan wanita keduanya.
"Terima kasih hari ini ya?" lirih Rafli di dekat telinga Rara sambil mengecup area belakang kuping Rara hingga membuat Rara merasa geli dan mulai bergairah lagi.
Posisi Rara yang sengaja berada di atas pangkuan tepat di pangkal paha Rafli pun membuat salah satu bagian bawah Rafli mulai menegang sempurna. Rara duduk membelakangi Rafli dan tubuhnya bersandar manja ke dada Rafli dengan wajah Rara yang di tempelkan pada wajah Rafli hingga Rafli degan mudah menggapai semua bagian wajah Rara termasuk bibir mungil Rara.
Tangan Rafli yang melingkar di perut Rara, sesekali tangan kanannya dan jari jemarinya menyusuri bagian lain.
__ADS_1
"Tahu tidak Mah, Papah gemas sama ini," lirih Rafli sambil meraup rakus bibir Rara agar terus mendesah. Tangan kanannya tetap nenyentuh bagian empuk.
Untuk kesekian kalinya Rara merasakan hal yang luar biasa.
"Sudah Pah .... Eunghhh ...." ucap Rara yang terus meracau tanpa henti.
Teriakan manja itu semakin memicu Rafli untuk terus melakukan kegiatan yang juga di nikmatinya, bukan malah berhenti seperti yang di inginkan Rara.
Rara sendiri berteriak kecil hanya untuk berpura-pura ingin menyudahi, tapi sebenarnya tubuhnya terus meminta dan menagih bahkan bergetar hebat.
Teriakan kecil itu begitu membuat Rafli semakin menggila. Waktu yang semakin sempit, harus di pergunakan dengan baik sebelum Rafli benar-benar pulang dan tidak bisa lagi menikmati kebersamaan dengan Rara. Entah kapan lagi, Rafli bisa menikmati tubuh mulus milik Rara. Tubuh yang akhirnya menjadi candu bagi dirinya.
Dengan sigap dan gerak cepat tubuh Rara diangkat dan dibalikkan agar posisinya bisa tepat saling berhadapan. Bagian yang telah mengeras tadi dengan mudah lolos melewati koridor yang telah licin karena pelumas.
Rara pun menikmati setiap moment itu dan terus memberikan gerakan naik turun dengan sesekali mereka berciuman.
"Enak Mah?" tanya Rafli yang sangat senang melihat wajah Rara yang lemas dengan keringat telah membasahi sekujur tubuhnya.
"Eum ..." hanya ucapan itu yang lolos dari bibir Rara.
Pelukan Rafli semakin erat dan semakin kencang terus membuat Rara tidak bisa berhenti bertetiak manja. Sesekali memberikan jejak merah sebagai tanda kepemilikan. Entah sudah berapa banyak tanda merah itu bersarang di kulit putih mulus Rara.
"Tunggu sebentar lagi. Bisa bersama-sama kan?" tanya Rafli pelan dengan wajah terus berusaha membuat kekasihnya itu semakin puas.
Rara hanya mengangguk pelan dan tersenyum lelah. Lelah dengan kepuasan yang tak terkira.
"Arghh ... Mamah ...." teriak Rafli dengan keras sambil memeluk tubuh kekasihnya yang juga bergetar hebat diatas pangkuan rafli.
__ADS_1
Rafli sangat hapal dengan keadaan ini. Tentu kekasihnya itu juga sedang mengalami puncak asmara yang sama dengan dirinya. Keduanya bisa melakukan bersamaan dan itu menjadi hal luar biasa yang di rasakan.
"Mamah senang? Ingat Papah akan tanggung jawab, bila sesuatu terjadi kepada Mamah," ucap Rafli lirih meyakinkan Rara.