MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
117


__ADS_3

Sudah satu minggu Fatarani mengalami koma. Putri kecilnya sudah berhasil dikelaurakan dan kini brada dalam inkubator untuk mendapatkan perawatan khusus. Rara sudah seminggu ini datang sebagai tamu yang tidak di uandang dan menginap di salah satu hotel dekat rumah sakit dimana Fatarani dirawat.


Sesekali Rara berkonsultasi kepada dokter spesialis untuk menanyakan kondisi Fatarani dan bayinya.


"Sebenarnya anda ini siapa? Begitu peduli sekali dengan kondisi Ibu Fatarani dan putri kecilnya. Sampai mencarikan dokter spesialis untuk penyembuhan keduanya?" tanya Sang Dokter kepada Rara saat berada di dalam ruangan.


"Ceritanya sangat panjangdan sedikit rumit. tapi, biarlah hanya aku, dokter dan Allah yang maha tahu. Biaya Ibu Ftaarani dan bayinya biar saya yang menanggung semuanya. Tolong rahasiakan identitas saya. bantu saya untuk bisa menemui Ibu fatarani, saya ingin menyampaiakn permintaan maaf saya," ucap Rara lirih.


Perasaan bersalahnya menyelimuti hati dan pikirannya membuat hidup Rara pun menjadi tidak tenang.


"boleh aku tahu ceritanya? Sepertinya cukup menarik, dan membuatku menggelitik penasaran," ucap Sang Dokter menggoda.


"Aku harus kembali ke rumah. Suamiku akan pulang dan aku harus membuatkan makanan dan minuman untuknya. Permisi," ucap Rara pelan. Rara sengaja menghindari obrolan privasinya dengan menyekat bahwa dirinya sudah menikah.

__ADS_1


"Oh ... Baiklah. Anda sedang tidak membohongiku kan, wanita bercadar?" tanya Sang Dokter pelan.


"Aku wanita yang sudah menikah tolong lepaskan tangan anda, tuan. Hargai saya sebagai wanita yang menjaga warmah suami," ucap Rara dnegan tegas.


Dengan cepat Rara pun keluar dari ruangan dokter itu dan segera pergi menuju ke arah luar untuk kembali ke hotel. Tidak sengaja, Rara pun menabrak dada bidang yang begitu nyaman, yang khas sering dirasakan setiap malam pada malam-malam kemarin. kerinduannya kini terasa, dan saat kepalanya mendongak, lelaki itu dalah Rafli, suaminya.


Sama seperti Rara, Rafli pun tidak sengaja memeluk gadis bercadar itu agar tidak jatuh ke lantai. Saat kedua tangannya memeluk tubuh itu, ada getara rindu yang dirasakannya. Tubuh yang sering di nikmatinya, namun sudah satu bulan ini, Rafli tidak kembali kepada Rara dan fokus terhadap Fatarani dan putri kecilnya. Bahkan Rafli melupakan, keempat anaknya yang ditinggal begitu saja dan di rawat oleh Rara.


"Mamah?" lirih Rafli berucap dengan sedikit ragu di dadanya. Namun suaranya terasa tegas memanggilnya.


"Sejak kapan Mamah ada disini?" tanya Rafli pelan sambil menahan rasa sedih dan harunya.


"Sejak Papah tidak bisa di hubungi lagi, dan aku mencari tahu alamat Bunda di kampung. Untuk mengetahui kabar Bunda dan kabar Papah," ucap Rara pelan sambil membalas pelukan erat itu di tubuh Rafli. Tubuh yang satu bulan ini amat dirindukannya.

__ADS_1


"Maafkan Papah, Mah. Ponsel Papah terpaksa Papah jual untuk biaya sehari-hari selama di rumah sakit," ucap Rafli lirih.


"Sarapan yuk Pah. Papah belum sarapan kan?" tanya Rara pelan.


Rafli pun mengangguk dnegan cepat dan melepaskan pelukan itu dari tubuh Rara dan berjalan menuju kantin rumah sakit.


Satu pasang mata melihat kejujuran Rara yang telah memiliki suami, tapi lelaki itu sering sekali menunggu Ibu fatarani. Siapa sebenarnya?


"Bagaimana kondisi kehamilan kamu,mah? Maaf Papah baru menanyakan ini, bukan berarti papah tidak peduli dengan Mamah," ucap Rafli lembut sambil menggengam tangan istrinya dengan erat lalu di cium punggung tangan itu dengan mesra.


"Alhamdulillah ... Mamah selalu menjaga amanah Papah, dan menjaga anugerah terindah yang telah di titipkan oleh melalui benih cinta Papah untuk Mamah," ucap lembut Rara pun selalu membuat hati Rafli yang kalut menjadi adem.


"anak-anak bagaiaman Mah? MAaf sudah meerepotkan Mamah untuk mengurus empat anak Papah dan Bunda," ucap Rafli pelan.

__ADS_1


"Anak-anak baik Pah. Papah tidak perlu khawatir dan cemas masalah itu. Bunda bagaimana?" tanya Rara lembut.


"Ya masih sama. Masih koma setelah melahirkan dan belum sadarkan diri," ucap Rafli pelan.


__ADS_2