MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
58


__ADS_3

Rara sudah mematikan layar ponselnya dan meletakkan ponsel itu diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Tubuhnya memeluk guling dan diselimuti hingga menutup bagian dadanya agar terasa hangat.


Ingatannya kembali memikirkan Abuya. Saat usianya sudah dua tahun lebih, Ayah kandungnya belum pernah melihatnya telah lahir di dunia. Abuya pun tidak mengenal sosok Ayah kandungnya hingga hari ini.


'Apa salah jika sampai hari ini aku belum bisa membuka hati untuk lelaki lain. Kini, disaat aku sudah menemukan seseorang yang bisa membuatku nyaman, ternyata lelaki tersebut sudah memiliki keluarga kecil. Lalu, apakah kehadiranku hanya menganggu rumah tangganya? Apakah slah jika aku hanya mencintai tanpa ingin memiliki?' batin Rara di dalam hatinya.


Tubuhnya berbalik ke kiri dan ke kanan mencari posisi yang nyaman. Pikirannya terus tertuju kepada Abuya, anak semata wayangnya yang entah bagaimana nanti nasib di masa depannya.


TOK!!


TOK!!


TOK!!


Suara ketukan pintu kamar hotel Rara begitu keras di ketuk. Rara mendengar cukup jelas, namun Rara tetap apada posisi tidurnya dan mendiamklan ketukan itu.


Hari ini sudah semakin larut dan Rara berada di kamar hotel itu hanya sendiri.


'Siapa sih, malam-malam iseng banget,' batin Rara dengan kesal.


Suara ketuka npada pintu kamar itu semakin keras dan Rara semakin malas untuk beranjak dari tempat tidurnya dan menutupi wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


"Ra ... Rara!!" panggil seseorang dengan suara laki-laki dari arah depan pintu kamar hotelnya. Rara membuka bantal yang menutupi wajahnya dan mendengarkan dengan seksama suara yang memanggilnya. Suara itu sudah tidak asing lagi terdengar ditelinganya.


'Cantas?' batin Rara di dalam hatinya.


"Rara!!" teriak lelaki itu makin mengetuk pintu kamar Rara dengan sangat keras dan tidak beraturan.


'Mana mungkin Cantas!! Tidak, Kalau benar itu Cantas, lalu dia tahu aku ada disini dari mana?' batin Rara di dalam hatinya.


Rara terdiam di tempat tidurnya, tidak berusaha membuka pintu kamar itu. Rara tahu persis siapa pemilik suara khas bariton itu yang sedang memanggil namanya sejak tadi dari luar kamar hotel itu.


Ingatan Rara kembali lagi ke beberapa tahun lalu. Ya, Rara dan Cantas pernah ke lembang bersama karena acara ulang tahun di Kantor Rara. Sau orang karyaan boleh membawa satu anggota keluarga atau teman, dan Rara membaa Cantas ikut bersamanya utuk merayakan acara ulang tahun kantornya di daerah lembang.


"Terima kasih sudah mau ikut ke acra kantor aku, Cantas," ucap Rara pelan sambil tersenyum manis. Kala itu mereka berdua baru saja menjadi sepasang kekasih. Hari-hari yang di lalui pun tentunya terasa indah saja bila bersama Sang Pujaan Hati walaupun dalam keadaan tidak enak sedikitpun.


Senyum Rara langsung terbit bahagia. Rara tidak menyangka Cantas akan berkata seserius ini dengan cepat. Mereka berdua baru mengenal sekitar satu tahun ini, dan benar-benar menjadi pasangan kekasih baru dua bulan ini tapi Cantas sudah meyakinka Rara untuk segera meresmikan hubungan mereka ke arah yang lebih serius dan melibatkan dua keluarga besar maasing-masing. Tentu itu yang diharapkan oleh seorang perempuan.


"Kamu serius kan? Ini tidak lagi becandain aku, Cantas?" tanya Rara pelan.


Cantas menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Bagi Cantas, Rara memang wanita sempurna. Lelaki mana yang tidak mau hidup bersama dengan Rara. Wanita yang secara fisik sempurna, mandiri, dan mapan di umurnya yang sudah matang.

__ADS_1


Cantas berdiri menghadap Rara, dan menatap lekat kdua mata Rara.


"Aku serius dan benar-benar serius. Apa kamu masih meragukan aku, Ra? Lagi pula aku tidak mungkin mempermainkan kamu, bisa-bisa aku di bunuh hidup-hidup oleh Dyah dan Hendra," ucap Cantas sambil tertawa keras. Cantas memang sahabat Hendra sejak lama. Waktu itu dnegan tidak sengaja Hendra membaa Cantas untuk menemui Dyah di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta. Lalu bertemu dengan Rara yang juga sedang menemani Dyah sambil makan malam di salah satu food court pusat perbelanjaan itu.


Rara mengangguk bahagia, senyumnya tidak bisa hilang karena kebahagiaan ini. Kata-kata manis danis dari seorang lelaki yang amat disayangi dan dicintainya seolah telah menyihir hatinya untuk trus berbahagia dan tersenyum.


"Aku percaya dan sangat percaya. Mas Hendra sudah banyak bercerita tentang kamu. Dan kebersamaan kita selama setahun ini, juga sudah membuktikan kalau kamu memang lelaki baik dan pasntas di pertahankan dalam hubungan ini," ucap Rara pelan lalu memeluk tubuh Cantas yang telah menjadi candu bagi Rara. Tubuh Cantas yang tegap dengan aroma angi tubuh cantas yang khas sudah setiap malam bisa di nikmati dengan memeluk tubuh pria itu sebelum berpisah setelah mengantarkan Rara pulang ke kontrakannya.


Cantas tersenyum lepas dan begitu bahagia. Ternyata menaklukkan gadis dingin seperti Rara itu mudah, hanya dengan kelembutan dan sikap baik tentu anita itu dnegan mudahnya masuk dalam perangkp cinta Cantas yaang memiliki sejuta pesona di depan wanita. Sebenarnya Cantas itu tipe lelaki badboy yang senang bermain-main dengan wanita. Tapi, selama ini Cantas bisa membuktikan kepada Rara teutama kepada Hendra, sahabatnya dan Dyah, istri sahabtnya itu sekaligus sahabat Rara dan menunjukkan sikap baik menuju perubahan dan meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Dengan mudahnya Hendra pun menerima dan mengancam Cantas untuk tidak mempermainkan parasaan Rara seperti Cantas mempermainkan seua wanitanya selama ini.


"Terima kasih sudah mau menerima aku. Terima kasih juga sudah mau percaya dengan aku," ucap Cantas pela dan membalas pelukan erat Rara itu di bawah terang bulan yang sangat indah itu. Keduanya mulai terbawa suasana romnatis dan hangat hingga malam itu terjadilah kehangatan lain yang mereka diciptakan di ranjang empung slah satu kamar hotel di lembang.


'Arghhh ... Kenapa aku harus mengingat hal itu lagi!!' teriak Rara di dalam hatinya dengan sangat keras.


Lamunan Rara buyar seketika ketika ketukan di luar kamarnya itu semakin keras di tambah teriakn yang begitu lantang.


"Rara!! Aku tahu kamu ada di dalam!!" teria Cantas dengan suara keras.


DUG!!


DUG!!

__ADS_1


DUG!!


Pintu kamar itu semakin di gedor dengan keras oleh Cantas. Rara menarik napas panjang dan tetap mendiamkan ketukan pintu yang semakin keras itu. Jujur, Rara sudah malas berurusan kembali dnegan Cantas. Perasaan kecewanya sudah terlalu besar terhadap lelaki yang pernah di pujanya itu hingga Rara lupa diri dan menjatuhkan harga dirinya hanya demi lelaki modus yang tidak akan pernah bisa berubah dengan kehidupannya. Selamanya Cantas akan seperti itu, mempermainkan anita setelah madu itu habis dihisapnya dan ditinggalkan lalu dicampakkan selah-olah anita itu tidak berharga seperti sampah.


__ADS_2