MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
98


__ADS_3

Suara desah napas Fatarni pun terdengar tersengal-sengal. Terlihat sangat lelah setelah berteriak-teriak yang cukup menguras tenaganya.


Kedua matanya semakin tajam mentap ke arah rafli yang juga sedang menatap wajah sendu Fatarani, Sang Istri.


"Masih bisa mencari pembelaan!! Itu sifat Ayah sejak dahulu. Memilih diam dan mengabaikan, itu sikap yang Bunda tidak suka!! Kalau sidah jenuh pergi!! Berkumpul dengan teman-teman!! Mabuk-mabukan dan pulang pagi!! Suami macam apa seperti itu!!" teriak Fatarani yang semakin kesal dan terus mengeluarkan semua uneg-unegnya yang sejak lama ingin di ungkapkan.


Malam ini adalah waktu yang tepat. Sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya durhaka kepada Suai. Sudah tidak mau dengar lagi bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan fatal yang mengakibatkan dosa besar.


Melihat Fatarani yang sudah terlihat kelelahan dan terengah-engah membuat Rafli berusaha menenangkan, hanya satu dalam pikirannya adalah janin yang sedang di kandung oleh Fatarani. Rafli hanya takut, Fatarani terlalu stres memikirkan masalah ini hingga berdampak negatif pada kesehatannya dan bayinya.


"Istighfar Bunda ... Jangan seperti ini terus," ucap Rafli dengan suara yang lirih dan tidak tega melihat keadaan Fatarani yng terlalu emosi.


"Istighfar!! Seharusnya Ayah yang istighfar!! Sudah berapa kali Ayah melakukan hal in!! Selalu menyakiti Bunda!! Berapa kali!! Coba hitung!! Sejak tahun berapa Ayah melakukan ini!! Ayah bahkan tidak akan ingat, mulai kapan dan sejak kapan telah menyakiti Bunda!! Dan kini, pelakor itu sudah sukses mengambil hati Ayah dengan segala kesempurnaannya dan membandingkan dengan Bunda yang hanya seorang ibu rumah tangga!! Begitu kan maksud Ayah!!" teriak Fatarani semakin lantang.


Fatarani pun sudah tidak peduli dengan malam yang sudah berganti dini hari dan permasalahan itu yang masih saja muncul.


"Bunda itu bicara apa? Ayah itu hanya berteman dan tidak lebih, hanya memiliki perasaan sayang seperti adik sendiri. Bunda saja yang terlalu berlebihan dan lebay hingga masalah sekecil ini di besar-vesarkan," ucap Rafli masih membela diri dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Ohh ... Bagus ... Perasaan sayang harus dbagi-bagi kepada wanita lain!! Cerdas sekali jawabanmu itu Ayah!! Mudah sekali Ayah bicara dan menjawab tanpa dosa," sengit Fatarani yang semakin kesal.


"Bukan begitu, Bunda yang memulai. kenapa harusmembahas masa lalu!! Kenapa harus mengungkit masa lalu yang sudah di tutup. Bukankah perjanjian kita memang begitu. Menutup semuanya, dan saling memaafkan," ucap Rafli mengingatkan.


"Lalu, semua itu diulang kembali, dengan masalah yang lebih komplek hingga sakit hati pun terasa sangat menyiksa batin Bunda," ucap Fatarani dengan ketus.


"Gak begitu Bunda. Sama sekali bukan seperti itu. Bukan seperti yang Bunda bayangkan," ucap Rafli lirih.


"Terus!! Maksud Ayah masih saja berhubungan dengan Rara itu apa? Itu bukan suatu bukti nyata kalau Ayah masih main serong dan bermain api di belakang Bunda?" ucap faatrani dnegan suara keras dan melengking.


Fatarani hanya mendengus dengan kesal dan tersenyum meledek ke arah rafli, suaminya itu. Fatarani sudah tidak bisa lagi memepercayai semua ucapa Rafli, suaminya itu. Sudah beberapa kali berjanji, namun tetap di ingkari dengan suatu alasan tertentu yang tidak masuk akal dan hanya untuk pembelaan saja.


"Sudahlah Ayah. Tidak perlu Ayah itu bicara ini dan itu panjang lebar. Tidak perlu berjanji ini dan itu yang malah Ayah sendiri ingkari. Tidak perlu!! Lebih baik, Ayah intropeksi saja diri Ayah sendiri dan cari solusi sendiri untuk perbakan. Paham!! Bunda mau istirahat. Percuma berdebat sama orang yang tidak pernah peka dan tidak punya hati!! Selalu mencari kesenangannya saja sendiri," ucap fatraani ketus lalu pergi meninggalkan Rafli sendiri duduk di sofa ruang tamu itu.


Fatarani masuk ke dalam kamar tidurnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empukyang membuat nyaman punggung dan panggulnya yang akhir-akhir ini sering terasa pegal dan panas akibat kehamilannya yang semakin membesar.


Kedua mata Fatarani mulai membasah lagi. Mengingat perdebatan barusan dnegan rafli, suaminya yang tidak pernah berujung dengan kata SEPAKAT atau kata SOLUSI TERBAIK, yang ada malahan mecari pembelaan, mencari alasan kuat dan bila sudah terpojok akhirnya jujur dengan sendirinya.

__ADS_1


Kini, Fatarani sudah malas berdebat dengan rafli, suaminya jika tadi tidak terpicu emosinya dan ingin menumpahkan semua keesalannya dengan marah-marah yng tidak jelas.


Fatarani sedang mencari cara untuk mendapatkan jalan terbaik untuk mempertahankan rumah tangganya selain meminta talak kepada rafli, Suaminya. Tentu tidak mungkin dilakukannya walaupun rasanya sudah tidak tahan lagi, dan ingin mengakhiri semuanya. Mengakhiri bahtera rumah tangganya yang sudah lama di binanya dengan sepenuh hati. Menjalani rumah tangganya dari titik nol hingga saat ini yang masih betahan dengan gaji suami yang bisa dibilang alhamdulillah untuk membiayai semua kebutuhan keluarganya.


Ponsel Fatarani di utak-atik, mencari satu nama sahabatnya yang selama ini tempat untuk berbagi. Malam ini hatinya benar-benar bingung dan cemas. Batinnya sudah tidak kuat menahan rasa kecewa teramat dalam atas perlakuan Rafli, suaminya terhadap dirinya.


Rafli masih terduduk dan bersandar pada sandaran sofa di ruang tamu. Lampu ruang tamu yang masih menyal, Rafli pun menatap ke arah langit-langit yang terang karena cahaya lampu.


Dilema yang di rasakan begitu sangat tinggi. Rasa cemas, bingung dan panik campur aduk menjadi satu.


'Aku sayang pada keduanya, dan aku mencintai keduanya dengan sanagt tulus dan dnegan pearsaan yang sama besarnya. Aku tidak mau mlepaskan salah satunya, apakah aku salah jika aku ingin bersikeras mendapatkan keduanya dalam hidupku,' lirih Rafli di dalam batinnya.


Sudah berulang kali Rafli pun mencoba meyakinkan persaanya ini. Perasaan ini hadir dengan benar-benar atau hanya sekedar melewati dan pergi berlalu begitu saja. Menguji dan membuat Rara kesal, adalah salah satu uji coba Rafli kepada Rara. Tapi semuanya terbuka lebar, Rara menikmati proses yang terjadi dalam hubungannya. Alasan Rara cukup simpel dan masuk akal, 'Kalau sudah cinta dan sayang untuk apa marah, bukankah itu salah satu bukti ketulusan dan kesabaran?' jawabnya saat itu ketika Rafli pernah bertanya kenapa Rara jarang sekali marah walaupun Rafli sudah menggodanya hingga titik terendah membuat Rara kesal dan manyun.


Ini adalah salah satu sikap bijak dan dewasa Rara dalam menyikapi suatu masalah. Selalu dengan kepala dingin dan tidak berteriak-teriak seperti wanita yang tidak berpendidikan.


rRfli memejamkan kedua matanya, bayangan wajah Rara kembali menari-nari dalam pikirannya. Wajah sexy saat melenguh ******* yang membuat Rafli saat itu benar-benar teruji kelaki-lakiannya. Ciuman yang diberikan oleh Rafli kepada Rara bukan hanya sekedar ciuman rindu tetapi juga ciuman yang menggelora hinga harsat keduanya pun anik dan menahan merasa itu hingga merekapulang dnegan membawa kekecewaan dalam penasaran yang membuncah.

__ADS_1


__ADS_2