
Rafli sudah duduk di sofa setelah selesai mandi. Satu tangannya memegang secangkir kopi indocafe panas yang baru saja di seduhnya dari dapur.
Saambil meniup-niup cangkir tersebut dan sesekali isi cangkir itu di seruput, rasa enak dan nikmat dari kopi itu lansung memebrika sensasi luar biasa di lidahnya.
Fatarani masih diam dan pura-pura tida peduli dnegan kedatngan Rafli yang sejak tadi sudah duduk disampingnya. Fatarani membuka kantung obat dan mengambil salah satu obat asma yang selalu di minumnya bila kambuh.
Melihat belum ada air minum disana, Rafli pun dnegan sigap langsung ke dapur untuk mengambil air putih di dalam gelas untuk Fatarani.
"Ini minumnya Bun," ucap Rafli pelan dan menyodorkan gelas itu kepada Fatarani.
Fatarani menerima gelas itu dan meminum air di dalamnya. Tidak ada ucapan terima kasih dan tidak ada obrolan lain. Fatarani masih sibuk menikmati sisa martabak manis yang masih jadi penghuni kardus kecil itu.
"Bunda kenapa sih? Kok diam saja?" tanya Rfali yang masih meniup-niup minuman kopi indocafe.
Fatarani hanya diam dan terus mengunyah martabak yang masih memenuhi mulutnya. Mengabaikan pertanyaan Rafli, suaminya yang pelan dan lembut itu. Rafli teringat ucapan Rara, 'Papah harus membangun komunikasi yang baik dengan Bunda. Hanya itu jalan satu-satunya agar suatu hubungan bisa tetap langgeng. Selama komunikasi itu tidak terbangun dan terjaga dengan baik, yang ada hanyalah salah paham dan pemikiran-pemikiran negatif yang akhirnya menjadi kenyataan.'
Merasa di diamkan dan di abaikan. Rafli menyeruput sedikit demi sedikit kopi indocafe itu hingga habis.
Fatarani masih diam, masih ada dua potongan martabak lagi yang tersisa disana. Perut Fatarani sudah penuh dan sudah tidak muat lagi untuk diisi kembali menyelesaikan sisa martabak.
__ADS_1
"Habisin Bun. Bunda pasti lagi ngidam kan? Maafin Ayah ya, belum bisa membahagiakan Bunda," ucap Rafli lirih yang lolos begitu jujur dari bibirnya.
Pedih rasanya mendengar suara lirih Rafli, Suaminya. Sebagai istri pun, Fatarani tidak ingin rumah tangganya hancur karena masalah kecil yang tidak bisa diselesaikan. Tapi, ini sudah ke sekian kalinya, Rafli melakukan dan mengulang kembali.
"Selalu pulang malam!! Sudah puas ngejabblaynya?" teriak Fatarani tiba-tiba dengan suara lantang. Emosinya meledak seketika mengingat rasa sakit hatinya yang terlalu sering dirasakan.
"Apa maksud Bunda?" tanya Rafli masih dengan suara pelan dan tenang.
"Masih berkilah? Masih mau berbohong? Bunda kenal Ayah bukan sehari dua hari!! Bunda menikah dengan Ayah sudah puluhan tahun, dan Bunda menjalani kehidupan rumah tangga dengan Ayah sudah sangat lama. Waktu dua belas tahun itu lama!! Selama itu juga apa Ayah pernah mengerti perasaan Bunda!!" teriak Fatarani semakin lantang.
Sudah tidak ingat kata durhaka dan sudah tidak ingat dosa besar jika berkata kasar atau dengan suara keras itu fatal dosanya.
Kini giliran Fatarani yang diam tidak bisa menjawab pertanyaan Rafli. Suaminya itu memang sangat sabar bila di runtut dari awal pernikahan. Tidak ada satu pun yang dilakukan Rafli, sebagai suami untuk membalas perlakuan Fatarani, istrinya.
"Coba Bunda, ingat-ingat dulu. Jangan diam saja?" ucap Rafli melembut.
Kedua mata Fatarani mengerjap, kata-kata Rafli bagaikan pisau yang tajam menghujam dadanya. Entah sudah berapa dosa besar yang dilakukan oleh Fatarani kepada Rafli, suaminya itu, hingga Fatarani pernah berucap meminta cerai hanya karena Rafli tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup akibat usahanya yang mengalami kebangkrutan.
Tapi, ingatannya kembali terngiang tatkala, kata-kata mesra Rara dan rafli, suaminya itu saling berbalas pesan.
__ADS_1
"Sebenarnya Ayah ingin apa? Bisa kan melupakan wanita penggoda itu!! Jangan karena Rara itu memiliki seglanya dengan segala kesempurnaannya dibanding Bunda, itu dijadikan bahan perbandioingan untuk Ayah!! Ayah yang justru harus ingat!! Berapa kali Ayah menyakiti hati Bunda!! Beraa kali Ayah berselingkuh di media sosial!! Berapa kali Ayah mencari kenyamanan lain di luar rumah!! Mulai dari gadis berdarah arab bernama Sifa, Dinar yang seorang pegawai negeri, hingga Putri yang hanya ibu rumah tangga, semua itu wanita yang pernah dekat sekali dnegan Ayah dan telah berhasil membuat Bunda sakit hati!!" teriak Fatarani semakin histris.
Tetesan air matanya luruh begitu saja, saat rasa sakit itu begitu terasa sesak di dadanya. Ujian untuk mempertahankan rumah tangganya pun sudah banyak bahkan bertubi-tubi tapi tidak pernah kunjung selesai. Setelah satu masalah selesai, lalu masalah lain pun timbul menerpa kembali biduk rumah tangganya.
Sekeras hati Fatarani tetap saja, hatinya melemah bila ingat perbuatan Rfali, Suaminya yang selalu ketahuan berselingkuh.
Rafli pun menarik tubuh mungil Fatarani dan memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang dan sangat erat. Berkali-kali kepala Fatarani diciumi oleh Rafli dengan penuh kelembutan.
"Maafkan Ayah, telahmembuat BUnda kecewa dan sakit hati. Maafkan Ayah bila selalu membuat Bund menangis. Tapi ..." ucapan Rafliyang pelan menggantung begitu saja dengan rapat mulutnya terkunci. Tidak mungkin kejujurannya akan di ungkap saat ini. Malam ini bukan malam yang tepat bagi Rafli dan bagi mental Fatarani.
Fatarani yang luluh berada dalam pelukan Rafli pun langsung duduk tegak dan menatap tajam ke arah kedua mata Rafli. Seolah Fatarani tahu apa yang akan di ucapkan oleh Rafli.
"Tapi apa!! Apa!! Katakan saja, tidak usa memperdulikan perasaan Bunda, Ayah!! Ayah katakan saja!!" lantang Fatarani malah semakin menantang.
"Bunda? Ayah tidak mungkin meninggalkan Bunda? Ayah sayang sama Bunda, sayang sekali. Apalagi di dalam perut Bunda sudah ada malaikat kecil yang harus Ayah jaga, bukan? Berhentilah berpikir negatif, itu malah akan membuat Bunda semakin stres dan banyak pikiran," ucp Rafli menasihati dengan lembuta. Tubuh Fatarani pun ditarik kembali dan d peluk kembali dengan sangat erat.
"Cukup!! Tidak usah banyak tingkah dan sok lembut seperti itu!! Jawab saja pertanyaan Bunda!! Ayah bisa tidak meninggalkan wanita pelakor itu!! Dia sudah berhasil membuat rumah tangga kita hancur!! Apa Ayah tidak bisa merasakan!! Waktu kita untuk berdua itu habis bahkan tidak ada!! Ayah pagi-pagi sudah berangkat kerja, pulang pun larut malam dan Bunda!! Bunda di rumah sendiri mengurus empat orang anak Ayah!! Anak-anak yang masih butuh peran kedua orang tuanya!! Anak-anak yang masih dalam pengawasan orang tuanya karena belum mandiri!! Apa Ayah athu, itu sangat sulit dan bakan paling sulit dibandingkan hanya memasak!! Butuh kesabaran yang sangat sangat ekstra dan Bunda bisa melihat Ayah tertawa bahagia bersama wanita lain di balik telepon. Ayah masih sehat kan? Masih waras? Masih ingat keluaga? Masih ingat bakti istri? Masih ingat anak-anak Ayah? Masih ingat janin yang Bunda kandung? Masih!!! Malah tega bersenag-senang dengan wanita pelakor di dunia halu!!! Ayah sudah gak waras!!" teriak Fatarani semakin tersulut emosinya.
Martabak manis yang dijadikan amunisi sumber kekuatan pun terkuras habis energinya untuk marah-marah dan menangis.
__ADS_1
"Bukan begitu Bunda. Bukan seperti itu. Ayah sayang dan cinta sama Bunda, dan Ayah tidak ingin rumah tangga ini hancur. Lihat anak-anak, hanya itu yang menjadi prioritas Ayah. Sikap Bunda yang kadang kasar bahkan di luar batas kewajaran pun masih bisa Ayah terima," ucap Rafli lirih.