MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
72


__ADS_3

Malam ini Fatarani sudah berjalan mondar mandir dari ruang tengah kontrakannya hingga ruang tamu rumah kontrakannya. Sesekali kedua matanya melihat ke arah jarum jam dinding yang terus saja mengarah ke arah kanan.


Menunggu Rafli, Sang Suami pulang dari oekerjaannya sangatlah lama sekali. Fatarani terus saja meremas ponsel Rafli dengan keras dn semakin erat. Hatinya sudah kesal sejak siang dan malam ini rencananya akan meminta penjelasan tentang semua bukti yang ditemukan di ponsel milik suaminya.


Dari kejauhan suara motor khas milik suaminya itu sudah terdengar dengan sangat kencang. Motor itu semakinlaa semakin terdengar sangat keras dan mnedekaat lalu mati. Itu tandanya suara mesin motor itu telah dimatikan. Rasli sudah memarkirkan motornya di dalam teras rumah kontrakannya.


Fatarani sudah mengintip dari dalam rumah kontrakan itu dari balik hordeng jendela rumah kontrakannya. Menatap wajah Sang Suami dari arah dalam dengan wajah lelah ittu tak memupuskan harapan Fatarani untuk segera mencecar pertanyaan yang sudah penuh di dalam otaknya. Tdak ada rasa kasihan sedikit pun kepadaSang Suami yang baru saja pulang dengan wajah letih dan lesu, setelah bertempur dengan pekerjaan dan konsumennya.


Pintu ruang tamu itu telah dibuka Rafli dengan pelan karena kedatngannya takut menganggu istirahat istri dan keempat anaknya di kamar tidur kontrakan itu. Rafli kemudian menutup kembali pintu ruang tamu itu dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke dala dan betapa tekejutnya melihat sosok istrinya berkacak pinggang dengan wajah penuh amarah besar. Lampu ruang tamu yang telah mati langsung menyala dengan terang karena Fatarani sudah menyalakan lampu itu terlebih dahulu.


"Assalamualikum, Kamu belum tidur Bunda? Ini sudah tengah malam?" tanya Rafli, Sang Suami menatap wajah Fatarani yang kurang bersahabat itu.

__ADS_1


Jujur, Rafli begitu kaget melihat Fatarani yang berdiri bagaikan sosok lain yang bukan seperti istri yang dikenalnya selama ini.


Fatarani langsnug mengacungkan tangan kanannya yang masih memegang ponsel milik suaminya itu. Beberapa hari ini memang mereka bertukar ponsel tanpa sengaja dan melihat ada suatu keganjilan, maka Fatarani memutuskan untuk menyita ponsel suaminya itu.


"Tolong jelaskan smeuanya. Bunda ingin tahu yang sebenarnya, ada hubungan apa!! Antara Ayah dengan Rara teman aplikasi karaoke itu!!" teriak Fatarani dengan nada suara yang begitu tinggi.


Rafli hanya menarik napas panjang. Dalam hatinya sedih melihat sikap arogan istrinya ini kepada dirinya. Minimal salam yang terucap dari bibir Rafli, Suaminya ini dijawab dengan baik, baru tanyakan sesuatu yang membuat hatinya gundah gulana selama satu hari ini. Paling tidak adab dalam berumah tangg dan bagaimana sikap tawaduk seorang istri kepada suami itu tetap ajib dilakukan walaupun istri dalam keadaan marah dan sangat kesal.


Rafli sudah tidak kaget dengan kejadian malam ini. Dirinya sudah bisa membaca situasai seperti ini pasti akan terjadi. Melihat wajah amarah Fatarani yang begitu berapi-api, tidak membuat Rafli takut ataupun panik. Seperti biasa, Rafli mentap Fatarani, istrinya itu dnegan ajah sendu dan tenang. Tidak ada balasan amarah ataupun sikap arogan yang di berikan Rafli kepada fatarani, Istrinya. Rafli hanya diam dan memeluk erat tubuh Fatrani, sitrinya yang ada di depannya.


Fatarani sendiri tidak menolak atas perlakuan Rafli yang begitu manis terhadap dirinya. Ini bukan kali pertamanya sikap Rafli yang tenang mampu meredan panas hatinya dan emosi sesaat di kepalanya yang sejak siang ingin i tumpahkan dengan segera.

__ADS_1


Kedua mata Faratani mengerjap dan membuka dengan pelan. Saat tautan bibir Rafli sudah terlepas dari bibirnya. Rasanya masih ingin dilanjutkan pertautan kedua bibir yang membuatnya tenang itu. Namun, sepertinya Rafli memang sengaja menyudahinya agar membuat Fatarani penasaran dan bisa bersikap lembut untuk meminta haknya kembali. Kemesraan yang sudah lama tidak terasa lagi selama beberapa minggu ini, membuat Fatarani, Sang Istri menjadi sangat rindu dengan semua belaian dan sentuhan Rafli, Sang Suami.


"Masih mau marah? Atau masih mau teriak? Ayah mau duduk dan dengerin, biar sekalian capeknya dan biar sekalian Ayah menahan lapar dan hausnya karena terlalu lama bekerja," ucap Rafli tenang dan membalikkan tubuhnya untuk duduk di sofa dan siap mendengarkan.


Fatarani hanya menatap sendu dengan perasaan bersalah. Tapi hatinya masih murka dan tidak baik-baik saja. Masih banyak keganjilan dan banyak pertanyaan yang harus segera mendapatkan jawaban secara pasti.


Tubuh Rafli sudah di hempaskan ke atas sofa empuk dan bersandar dengan nyaman melepas lelah dan punggungnya yang terasa sangat pegal. sang Istri pun ikut duduk di samping Rafli, sang Suami yang sudah meletakkan kepalanya dengan nyaman di sandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya. Perutnya sudah terasa perih dan sangat lapar, tapi itu semua ia tahan untuk mendengarkan semua keluh kesah Fatarani dan amarahnya sejak siang tadi.


Sudah dua hari ini memang Fatarani berubah sikap terhadapnya. Dan, sejak kemarin bahasa dalam chatnya pun tampak ketus dan selalu mengajak berantem atau hanya sekedar berdebat hal tidak penting karena tidak berujung. Dan, sudah dua hari ini Rafli selalu melihat Sang Istri berwajah sembab seperti habis menangis kejer.


Tubuh Fatarani juga sudah di hempaskan dnegan sangat kasar. Semakin kesal hatinya dibuat oleh Rafli yang melepas tautan bibir yang masih ingin dirasakannya. Kehangatan pelukan Sang Suami yang membuatnya nyaman sesaat dan harusmerasakan dingin kembali.

__ADS_1


"Sebenarnya, ada hubungan apa antara Ayah dengan Rara?! Benar kan dugaan Bunda, kalau Ayah dan Rara itu punya ikatan hubungan spesial. Bukan hanya sekedr berteman di aplikasi karaoke itu saja, tapi juga kalian saling berkomunikasi meggunakan aplikasi lain!! Jawab pertanyaan BUnda dengan jujur!!' tanya Fatarani dari nada lembut dan kemudian meninggi dengan tiba-tiba karena terbawa emosi kembali.


Kedua mata Rafli terbuka degan pelan. Mendengar suara melengking dari arah samping saat Sang Istri benar-benar merasa jengah dengan sikap tenang dan dingin dari Rafli.


__ADS_2