
"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Baihaqi pelan menatap lekat kedua mata Rara.
"Maaf ... Jika aku belum bisa membuka hati untuk siapa pun," ucap Baihaqi pelan.
"Ra ... Aku tahu, ini pasti sulit untuk kamu. Aku tidak memaksamu untukbisa menerima aku. Jalani saja bagai air mengalir, agar kamu juga tidak terbebani dengan ini semua," ucap Baihaqi dengan bijak.
Baihaqi tidak mau memaksakan kehendaknya. Cukup Rara tahu, bahwa ia berharap bisa masuk ke dalam hati Rara seutuhnya dan membuang semua kenangan buruknya dengan kenangan manis yang akan dijalaninya bersama nati.
"Iya, Rara paham. Maaf ya, Mas," ucap Rara pelan.
"Tidak masalah Ra. Sudah selesai?" tanya Baihaqi menutup pembicaraan.
Sebenarnya ada rasa kecewa yang mendalam. Seharusnya Rara jangan menolak tetapi bilang akan mencobanya dulu membuka hati. Kenapa harus menolak tegas tidak ingin membuka hati.
"Sudah. Lalu kita akan kemana?" tanya Rara pelan sambil menghabiskan es susu di gelas jumbonya.
"Kamu mau tinggal dimana? Di Bogor mau? Aku ada rumah yang tidak di pakai, mungkin kamu mau menempatinya. Tentu, rumah itu sangat aman dan nyaman untuk ditinggali," ucap Baihaqi memberikan saran.
Rara tampak berpikir sejenak. Perutnya yang besar sudah kenyang hingga duduk pun agak kesulitan. Rara bersandar pada kursi makan.
"Ada tempat lain selain di Bogor? Kayaknya jauh banget," ucap Rara yang masih ragu untuk benar-benar pindah dan hijrah ke Bogor.
Baihaqi pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hanya tempat itu yang menurutku aman. Kalau kamu mau mencari tempat lain yang menurutmu itu aman dan nyama,n akan aku antarkan," ucap Baihaqi pelan.
__ADS_1
"Tidak ada, Mas. Mungkin saat ini saranmu adalah saran terbaik. Aku mau ke Bogor dan tinggal di tempat yang Mas sarankan untukku," ucap Rara pasrah.
"Kamu yakin? Nanti berubah pikiran lagi? yakinkan dulu," ucap Baihaqi memberikan waktu kepada Rara untuk berpikir.
"Aku sudah memikirkannya. Aku mau pindah ke Bogor, tapi ..." ucapan Rara terhenti.
"Tapi ...? Apa, Ra?" tanya Baihaqi dengan penasaran.
"Tapi aku takut. Jangan tinggalkan aku, karena aku paling tidak suka mengawali semuanya dari awal. Paham kan maksud aku kan, Mas?" ucap Rara pelan.
"Aku mengerti maksud kamu, Ra," ucap Baihaqi pelan.
"Ya sudah. Kita ke Bogor. Maaf, sudah merepotkan kamu, Mas," ucap Rara lirih dengan wajah sendunya. Entah sudah kali keberapanya Rara menyusahkan Baihaqi secara tidak sengaja.
Semuanya bermula saat di rumah sakit. baihaqi harus menemani Rara yang bukan tema atau sahabat karena Dyah dan Mas Hendra yang tiba-tiba ada keperluan mendadak masalah Cantika, anaknya. Lalu, Baihaqi harus mengantarkan Rara pulang ke rumah kontrakan setelah di perbolehkan pulang dri rumah sakit. Lalu, kejadian pagi tadi adalah puncak maslah terbesar yang harus di selesaikan oleh Baihaqi dengan bijak. Saat ini, Baihaqi menyarankan solusi terbik dan tepat bagi Rara, walaupun Rara belum sepenuhnya bisa menerima dengan baik.
"aku ingin disana hingga melahirkan, agar ada yang mengurus aku dan bayiku setelah aku melahirkan. Jujur ada keraguan untuk pulang, seperti sesuatu yang buruk akan menimpaku," lirih Rara yang sudah bisa memprediksi hal yang akan terjadi.
"Jangan suudzon dulu, Ra. Jalani saja apa yang kamu inginkan dan menurutmu baik. Menurutku silaturahmi ke rumah orang tua itu baik. Selebihnya nanti bagaiman itu, pikirkan nanti," ucap baihaqi pelan memebesarkan hati Rara yang cemas.
"Tapi kalau ekspektasiku itu benar, bagaimana?" tanya Rara semakin gundah.
"Ya, Kamu harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang dan sabar. Mau bagaimana lagi? Pemikiran orang tuamu tentu akan berbeda dengan pemikiranmu. Tapi seharusnya, kalau menjadi orang tua yang bijak dan baik pasti bisa menerima apapun yang terjadi pada anaknya. Memberi dukungan, motivasi dan masukan yang positif agar bisa bangkit dan maju kembali. Bukan ikut menghakimi dan mengaaikan yang malah memperkeruh masalah dan membuat sang anak menjadi lebih terpuruk dan lebih buruknya lagi akan mengalami depresi," ucap baihaqi dengan pelan menjelaskan.
Rara mencoba menghilangkan prasangka buruknya dnegan menarik napas dalam dan dihembuskan perlahan.
__ADS_1
"Baiklah aku coba. Aku harus siap, jika memang harus terusir dari rumah. Semoga ada tempat yang lebih layak lagi buat aku dan anakku di masa yang akan datang," ucap Rara pilu.
"Ada aku, Ra. Aku akan tetap bersamamu, menemanimu dan membantumu setiap kamu membutuhkan aku. Jangan pernah sungkan dengan semua ini, kamu cukup tahu, akalu aku tulus membantumu tanpa pamrih terlepas dari perasaanku yang memang mencintai dan menyayangimu," ucap Baihaqi tegas.
Rara hanya tersenyum simpul. Wajahnya tersipu malu. Bukankah ini hal biasa, kaum adam memuji dan memujanya, tapi ucapan Baihaqi seolah benar-benar tercurah dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Sudahlah. Lagi tidak mau bahas cinta-cintaan dan sayang-sayangan. Kita pergi sekarang?" ucap Rara pelan sambil membawa tas kecilnya dan berjalan ke arah parkiran.
Baihaqi hanya bisa mengulum senyum dan mengikuti Rara yang sudah berjalan terlebih dahulu tepat berada di depannya.
mereka bagiakan sepasang suami istri yang sedang berbahagia menunggu kelahiran sang anak.
"Pakai sbuk pengamannya. Kursinya dimundurkan agar kamu lebih nyama. Perjalanan kita cukup jauh, semoga kamu tidak lelah," ucap Baihaqi menasehati.
"Mudah-mudahan tidak. Tapi, mampir ke minimarket ya. Mau beli cemilan," ucap Rara dengan polos.
"Iya, nanti kita mampir ke minimarket.tapi kamu tunggu di mobil saja, bair aku yang membelikan untukmu. kamu sudah cape dan lelah," ucap Baihaqi pelan sambil menyalakan mesin mobilny dan mulai melajukan mobilnya dengan peln.
Hari sudah menjelang sore. Perjalanan yang cukup lama dan santi. Rara sudah tertidur pulsa setelah memakan beberapa cemilan dan susu kotak khusus ibu hamil.
Baihaqi hanya melirik sekilas lalu tersenyum lebar.
'Andaikan saja, apa yang aku harapkan bisa terwujud, kamu pasti akn aku bahagiakan dunia akhirat, Ra,' bartin Baihaqi di dalam batinya.
Baihaqi mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon seseorang yang biasa menjaga rumah yang akan di tinggali oleh Rara. Wanita tua, dengan usia lima puluhan, seorang janda yang telah lama ditinggal suaminya meninggal dan tidak memiliki anak. Hidupnya selama ini, hanya mengabdi di Pondok Pesantren milik Baihaqi sebagai tukang masak.
__ADS_1
Emak Warti, itulah nama janda tua yang akan membantu Rara selama tinggal di rumah bambu milik Baihaqi.
"Assalamualaikum, Emak Warti sudah selesai beres-beresnya? Rara akan tinggal disana dalam waktu yang lama. Bantu untuk setiap kebutuhannya, usia kandungannya juga sudah besar, dia perlu teman. Ajak saja Sifa untuk menemani kalian di rumah bambu," titah Baihaqi pelan kepada Emak Warti.