MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
68


__ADS_3

"Aku yakin sekali, Ra," tegas Dyah dengan suara lantang.


"Tapi aku kok ragu, Dy. Coba perlihatkan padaku, bukti apalagi yang kamu punya?" tanya Rara dengan suara pelan.


Dyah tampak ragu mengungkapkannya. Ada bukti chat mesra Mas Hendra kepada seseorang yang entah kepada siapa.


Rara menatap lekat Dyah, terlihat wajah bingungnya.


"Hei, Dy? Apa bukti lain yang sudah kamu kumpulkan? Aku perlu tahu, untuk meyakinkan aku sendiri," ucap Rara pelan.


"Kamu pikir aku bohong?" tanya Dyah kemudian.


"Bukan tidak percaya. Tapi, Kamu juga tidak bisa asal menuduh, Dy. Jika Kamu tidak memiliki bukti yang kuat," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Aku tidak menuduh, Ra!! Semua jelas, Ra!!" tegas Dyah dengan suara keras sedikit membentak Rara.


"Iya, tapi mana? Apa buktinya? Harus jelas, Ra. Kalau tidak ada bukti yang jelas dan akurat, semua itu tidak bisa dijadikan petunjuk. Malahan mereka bisa kick kamu balik, karena pencemaran nama baik," ucap Rara pelan.


"Aku punya foto-foto keduanya saat berada di Bali. Dan aku memiliki bukti chat mesra Mas Hendra dengan wanita itu!!" teriak Dyah semakin keras.


"Oke. Mana buktinya? Biar aku lihat? Dan aku akan membuktikan baha alat bukti yang kamu kumpulkan ini semua mengarah perselingkuhan antara Mas hendra dengan wanita idaman lain," ucap Rara pelan.


Kalaau boleh jujur, Rara masih ragu dnegan semua ini. Ada suatu hal yang janggal. Sudah lima tahun Rara mengenal sosok Mas Hendra. Selama ini Mas Hendra itu benar-benar baik dan tidak neko-neko.

__ADS_1


Dyah sendiri sedang membuka-buka ponselnya untuk memperlihatkan beberapa screenshoot yang dimilikinya untuk diperlihatkan kepada Rara


"Ini ... Lalu yang ini, dan yang ini terus buka hingga selesai," ucap Dyah dengan penuh semangat. Wajahnya terlihat marah dan berapi-api.


Rara membuka ponsel itu dan mulai melihat bukti-bukti yang dimiliki Dyah. Foto-foto Mas Hendra bersama seorang perempuan asing yang tidak pernah di kenal oleh Rara. Tapi, foto itu tampak biasa saja. Tidak ada kemesraan dan tidak terlihat mesra sama sekali.


"Ini foto biasa saja Dy? Tidak ada kemesraan sama sekali," ucap Rara pelan sambil menggeser-geser album foto yag ada di ponsel Dyah.


Kening Rara berkerut, mencari letak kesalahan dari semua foto yang dimiliki Dyah sebagai bukti.


"Itu jelas Ra. Lihat posenya mereka berdempetan!!" ucap Dyah dengan kesal sambil menunjukkan tubuh keduanya yang saling bersentuhan antaa lengan dengan lengan.


Seketika Rara pun tertawa lepas. Suara tawanya pun sangat keras hingga tidak bisa di hentikan.


"Kamu itu aneh Dy. Setan apa sih yang buat kamu jadi kayak begini? Kelewatan tahu kecurigaan kamu ini. Ya, ajar kalau Mas Hendra malah marah dnegan kamu. cemburu kamu ini tidak berasalan dan malah terkesan seperti anak-anak. Kamu itu berumah tangga sudah lama, seharusnya kamu tahu karakter Mas Hendra itu seperti apa?" ucap Rara menjelaskan dengan detil.


"Dy!! Jangan salah paham. Sebenarnya kamu ini kenapa? Bisa separno ini dan bisa secemburu ini sama Mas Hendra? Ini bukan sikap Dyah yang aku kenal? Dyah itu tidak mudah terprovokasi oleh apapaun. Dyah itu tegar dan sellau percaya dengan Mas Hendra dan sellau membuktikan kebenaran itu, bukan pake bukti abal-abal begini," ucap Rara yang ikut gemes sendiri.


"Bukti abal-abal gimana? Aku susah payah cari bukti ini lho Ra? Aku diam-diam ambil dari ponsel Mas Hendra," ucap Dyah tidak mau kalah.


Dyah merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Mencari tahu dan mengambil bukti dari ponsel Mas hendra adalah suatu bukti akurat.


"Lalu, kalau aku tiba-tiba berfoto dengan Mas Hendra dan berdiri bersebelahan. kamu cemburu sama aku? Kamu bakal bilang aku selingkuh dnegan Mas Hendra?" tanya Rara pelan.

__ADS_1


Dyah dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu sahabatku Ra. Jadi tidak mungkin kan, kamu mengambil apa yang telah di miliki oleh sahabatmu?" ucap Dyah yang sedikit ragu.


"Teman, sahabat, atau saudara jauh, semuanya memiliki kesempatan yang sama. Kalau setan yang bekerja mereka sudah tidak mengenal namanya teman, sahabat bahkan saudara sendiri!! Ingat yang paling susah itu kalau ada kesempatan buka niat," ucap Rara mengingatkan.


Dyah nampak berpikir keras. Apa yang diucapkan Rara itu benar. Tidak ada yang salah dengan tour guide itu, berfoto bersama dengan Mas Hendra, suaminya. Secara mas Hendra saat itu adalah keua panitia acara wisata ke Bali. Mau tidak mau, MasHendra akan lebih banyak aktunya untuk mengurusi jadwal dan acara yang harus di sesuaikan dengan perjalanan yang akan direncanakan dari pihak travel melalui tour guide. Kebetulan, leader tour guide itu berada satu bis dengan Mas Hendra. Ini memang sebuah kebetulan, namun tidak ada niat apalagi rencana buruk untuk memperkeruh masalah.


"Jadi menurut kamu? Aku yang salah?" tanya Dyah pelan.


"Yup. Kamu salah Dy. Kamu terlalu terbawa emosi dan rasa cemburu kamu," ucap Rara menasehati.


"Apa aku salah? Salah aku cemburu dengan suamiku sendiri?" desak Dyah kepada Rara.


Rara pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak salah. Tapi, mungkin kamu perlu bersikap lebih bijak dan tidak mengintimidasi kepada Mas Hendra. Kalian hanya salah paham dan kurang komunikasi. Bukan berarti aku membela Mas Hendra, tapi kita juga perlu mendengarkan pengakuan dari dia juga, buka dari pihak kamu saja, Dy," ucap Rara memberikan saran.


"Aku sudah bicara. Aku sudah bertanya baik-baik, tapi Mas Hendra itu cuma dia dan tidak memberikan jawaban apa-apa," ucap Dyah pelan. Dyah sudah mencoba membuka pembicaraan dan membahas masalah ini, tapi Mas Hendra hanya bisa terdiam dan tidak memberikan penjelasan apapun.


"Mas Hnedra itu diam, bukan berarti mengiyakan dengan smeua tuduhan tidak masuk akal kamu kan, Dy? Masalah ini baru saja Dy, dan kamu tidak bisa menjudge Mas Hendra bersalah dan telah melakukan tindakan perselingkuhan," ucap Rara pelan.


"Ra, Kok aku jadi aneh sama sikap kamu ya? Kamu itu terlalu membela Mas Hendra? Sebegitu baiknya kah, seorang Mas Hendra di mata kamu, Ra?" tanya Dyah dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Dy, Mas Hendra itu sudah aku anggap seperti kakak aku sendiri. Sama kayak kamu, yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Aku yakin banget, kalau hubungan kalian itu baik-baik saja, dan ini beneran hanya salah paham aja. kalian itu kurang komunikasi dan sangat sibuk satu sama lain, hingga kalian itu kurang memiliki waktu untuk bersama baik di setiap harinya atau setiap weekend," ucap Rara menjelaskan dengan pelan.


Rara sudah mengenal keduanya dengan baik. Kehidupan rumah tangga mereka pun, Rara sangat tahu persis. Ujian rumah tangga mereka saat belum memiliki momongan, keduanya saling menguatkan dan memotivasi satu sama lain.


__ADS_2