MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
44


__ADS_3

Semalaman Baihaqi tidak bisa tidur dan menemani Rara yang terus menerus merintih kesakitan. Baihaqi dengan sangat sabar menjaga Rara dan menyiapkan segala kebutuhannya.


"Ra ... Mau makan atau minum?" tanya Baihaqi pelaan kepada Rara.


Rara hanya menggelengkan kepalanya pelan. tidurnya pun sudah menyamping menahan rasa mulas di perutnya yang tiba-tiba.


Melihat keadaan Rara, Baihaqi pun hanya bisa iba tanpa bisa melakukan apapun.


"Kamu belum makan ataupun minum sejak tadi, Ra. Lihatlah tubuhmu terlihat lemas dan bibirmu sudah memutih karena kering," pelan sekali Baihaqi bicara.


"Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin bayiku selamat. Aku takut," ucap Rara lirih diikuti air mata yang tiba-tiba saja luruh ke pipinya karena sedih.


"Sudah jangan menangis, ada aku disini. Kamu tidak sendiri, Ra," ucap Baihaqi saat melihat Rara dengan wajh sendunya mulai menangis.


"Kamu tidak akan pernah tahu, Mas. Betapa rasa sakit ini harus aku alami. Mungkin ini karma dari Tuhan? Kadang aku merasa kenapa Tuhan tidak adil kepadaku, bahkan aku sellau tulus berbuat baik kepada siapapun tanpa mengharapkan imbalan," lirih Rara dengan wajah semakin di tekuk karena kecewa dan menahan rasa sakit di perutnya yang mulai terasa kembali seperti diperas-peras.


"Bukan aku tidak tahu, Ra. Aku saja bisa merasakan apa yang kamu alami dengan melihat kamu merintih dan memegang perutmu seperti saat ini, tapi mungkin perbedaannya aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu dan hanya bisa melihat saja karena aku bukan siapa-siap kamu," ucap Baihaqi pelan.


Rara mengiyakan ucapan Baihaqi dengan mengangguk pelan.


"Iya benar sekali. Mas Bai ...." lirih Rara masih dengan posisi menyamping. Kedua mata Rara terpejam menahan pening di kepalanya yang tiba-tiba juga terasa sakit.


"Iya Ra? Ada apa? Apa yang kamu butuhkan?" tanya Baihaqi pelan dan berdiri mendekati Rara.


Sudah mau waktu shubuh, kedua mata Baihaqi masih terjaga dan tidak ada rasa kantuk sedikit pun. Rasa cemas dan panik mengalahkan segalanya, yang ada malah bingung dan khawatir setiap kali melihat Rara.


"Aku hanya takut kehilangan bayiku ini," ucap Rara pelan.


"Yakin Ra, semua akan baik-baik saja," jawab Baihaqi pelan dan menyejukkan hati Rara yang sedang kalut.

__ADS_1


"Mas Bai ...." panggil Rara lagi. Ada sesuatu hal yang ingin Rara katakan tapi Rara merasa tidak bebas untuk mengungkapkannya.


"Iya Ra, gimana? Katakan yang ingin kamu katakan dan tidak usah sungkan," jelas Baihaqi pelan.


"Kalau aku tidak merasakan sakit lagi, dan kondisi bayiku baik-baik saja, aku ...." ucapan Rara terhenti dan tidak dilanjutkan.


Rara ingin berharap dengan sebuah janji, biasanya bila berharap dengan meneguhkah satu janji yang harus ditepati maka semuanya akan terkabulkan.


"Apa? Apa Ra? Kau ingin apa?" tanya Baihaqi pelan dengan rasa penasaran.


"Aku mau kita saling mengenal lebih dekat lagi," lirih Rara lalu membuka matanya dan emnatap Baihaqi yang tampak terkejut dengan ucapan permintaan Rara.


"Apa aku tidak salah dengar? Tolonglah Ra, kamu baik-baik saja kan? Rasa sakit ini juga hanya sementara, sadar Ra?!" ucap Baihaqi yang semakin panik.


Baihaqi menganggap ucapan Rara seperti angin lalu. Penolakannya berkali-kali oleh Rara membuat Baihaqi semakin yakin dengan feelingnya yang mengatakan bahwa Rara sedang berada dalam alam bawah sadarnya, jadi semua ucapannya adalah palsu dan bohong.


Rara menatap tulus kepada Baihaqi. Rara yakin dengan keputusannya kali ini. Mungkin memang Baihaqi adalah lelaki yang diturunkan oleh Tuhan untuk diirnya. Sejak keterpurukannya selaa beberapa bula ini, Baihaqi masih tetap peduli dan sellau ada di setiap waktu bagi Rara.


Raut wajah Baihaqi tidak menampakkan kebahagiaan malahan menampakkan kesedihan dan kekecewaan karena Baihaqi tahu semua itu tidak akan pernah jadi kenytaan. Cintanya kepada Rara hanya dimilikinya sendiri tanpa bersambut dengan baik.


"Kenapa diam?" tanya Rara sambil menatap lekat Baihaqi.


Baihaqi membalas tatapan Rara yang sendu. Entah apa arti raut wajah itu, Baihaqi tidak mau berharap banyak tentang harapannya itu.


"Aku tidak mau bermimpi lagi," ucap Baihaqi pelan.


"Kamu sedang tidak bermimpi Mas. Aku ingin mewujudkan semua mimpi itu untuk kamu, dan untuk kita," ucap Rara pelan. Kedua bola matanya terlihat sangat tulus dan jujur.


Baihaqi menatap tajam kedua mata Rara. Cukup terkejut bahkan tercengang dengan kata kita yang terucap begitu saja dengan mudahnya dari biir mungil Rara.

__ADS_1


"Ra ... Kamu sadar kan?" tanya Biahaqi yang masih tidak percaya dengan semua ini.


Rara menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku sadar, Mas. Bahkan aku jujur dan tidak main-main dengan ucapanku," ucap Rara pelan.


"Bukan aku tidak percaya, tapi baru kemarinkamu pun menegaskan tentang hubungan ini. Tidak mungkin dalam beberapa jam saja keputusanmu itu berubah dengan semudah itu," ucap Baihaqi pelan.


"Mas Bai, tidak percaya dengan aku? Aku harus membuktikan ucapanku dengan cara apa?" tanya Rara pelan.


"Bukan itu Ra. Sebentar .... Ekhm .... Alasanmu apa?" tanya Baihaqi pelan.


"Alasanku? Aku hanya ingin dimiliki oleh lelaki baik sepertimu," ucap Rara pelan.


Jujur saja, belum ada perasaan sayang apalagi cinta dalam diri Rara untuk Baihaqi. Tapi kebaikan dan ketulusan Baihaqi membuat Rara menyadari bahwa lelaki seperti Baihaqi lah yang dicarinya selama ini.


Lelaki yang tidak hanya baik, ramah dan lembut. Tetapi juga lelaki yang bertanggung jawab dan selalu ada dan siap dalam segala keadaan dan kondisi.


"Alasanmu hanya itu? Kenapa tidak menampakkan kalau kamu memang menginginkan aku? Aku tidak ingin memaksa wanita untuk menerima cintaku. Cukup aku saja yang mencintainya dan aku tidak mengharapkan balasan apapun untuk itu," ucap Baihaqi dengan jelas.


"Mas Bai, aku serius dengan ini semua. Tolong mengerti aku?" ucap Rara tanpa menyerah.


"Aku paham. berikan alasanmu? Alasan yang masuk akal, Ra? Bagaimana menjalani hubungan jika salah satunya tidak mencintai bahkan hanya menjalani dengan keterpaksaan," tanya Baihaqi kembali kepada Rara.


"Bukankah cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa? Aku akan mencobanya, paling tidak aku sudah mengagumi sikap dan semua sifatmu, Mas," lirih Rara kepada Baihaqi.


Rara berusaha meyakinkan Baihaqi dengan segala penjelasan yang menurutnya sangat logis. Sedangkan Baihaqi tidak bisa menerima sesuatu hal yang tidak bisa diterima dengan aal sehat.


"Aku tidak mau Ra. mencintai itu sulit, tidak mudah. Apalagi kalau seseorang itu memang tidak pernah berarti apa-apa, itu semua akan terasa sulit," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Mas Bai, coba percaya sama aku. Tolong, kasih aku kesempatan untuk mencintai kamu. Ajari aku untuk bisa menerima kamu dengan tulus," ucap Rara pelan.


Baihaqi menggelengkan kepalanya dengan pelan. Baihaqi hanya diam dan tidak menjawab Rara.


__ADS_2