MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
13


__ADS_3

Baihaqi sudah berada di kantin untuk membeli makanan sesuai pesanan Rara. Pesanan wanita hamil yang sedang mengidam. Tengah malam ingin sekali makan Indomie rebus dengan telor yang dikocok dandiberi irisan daun bawang serta bawang goreng, tidak lupa iriisan cabe rawit dan saos sambal. Satu pesanan lagi susu putih full cream yang panas.


Baihaqi juga membeli beberapa makanan lainnya untuk mereka berdua.


"Ini pesanan kamu, Ra? Mau aku suapin?" tanya Baihaqi pelan dan ragu.


Rara mengangguk pelan dengan wajah menunduk malu.


Baihaqi membuka kotak makanan itu, terlihat uap panas masih mengebul. Baihaqi duduk di pinggiran ranjang rawat inap itu dan membenarkan duduk sandaran Rara.


"Duduknya tegak, dan bersadar pad bantal biar makannyajuga lebih enak," ucapbaihaqi pelan.


"Iya Mas. Makasih ya. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Rara pelan.


Baihaqi mulai menyupi Rara dengan telaten. Satu suap, dua suap, keduanya hanya diam dan saling pandang saja. Degub jantung Baihaqi sudah tidak karuan rasanya. Getar-getar seperti setrum saat menatap senyum Rara membuat hati Baihaqi makin tidak karuan rasanya.


'Apa ini namanya cinta? Apa aku sudah jatuh cinta kepada wanita ini? Rasanya berbeda saat berada di dekat wanita yang selama ini di dekati Baihaqi,' batinnya di dalam hati.


Rara terus menatap lekat mata Baihaqi saat Baihaqi terlihat melamun dan tatapannya kosong ke depan.


Kuah indomie itu pun tumpah karena ketidakfokusan Baihaqi saat menyuapkan ke arah Rara.


"Aw ..." teriak Rara tidak keras, namun cukup mengejutkan Baihaqi yang edang melamun.


Baihaqi melamunkan Rara yang cantik dan memakai hijab tentu akan tambah cantik. Mendengar teriakan Rara, Baihaqi langsung membuyarkan lamunannya dan melihat apa yang terjadi. Kuah indomie itu sudh tumpah di baju Rara.


"Maafkan aku, Ra," ucap Baihaqi dengan cemas. Lalu mengambil tisu di nakas dan mengelap tumpahan itu hingga bersih dan tidak berbekas.


"Tidak apa-apa. Mas Baihaqi lagi melamun ya? Lagi ada masalah?" tanya Rara pelan saat Baihaqi masih membersihkan sisa tumpahan indomie itu.


Baihaqi mengegleng pelan. Malu. Kalau ternyata sebenarnya sedang memikirkan wanita yang saat ini ada di hadapannya.

__ADS_1


"Mau di minum susunya? Setelah ini istirahatlah," ucap Baihaqi pelan kepada Rara.


Rara mengangguk pelan.


"Aku mau susunya. Aku belum mau tidur. Rasanya mata ini ingin terbuka, kalau Mas Baihaqi sibuk atau mengantuk silahkan lanjutkan saja. Kalau tidak sibuk temani Rara disini sambil menunggu Dyah dan Mas Hendra," ucap Rara pelan menjelaskan. Rara tidak tahu bahwa DYah dan Mas Hendra sudah pulang sejak tadi untuk mengurus anaknya yang sakit. Baihaqi juga tidak memebritahu karena lupa.


Baihaqi memberikan satu gelas susu putih full cream yang sudah hangat.


"Maafkan aku tidak memberitahumu sejak awal. Dyah dan Hendra sudah pulang sejak tadi, Cantika jatuh dari sepeda dan demam. Mereka panik dan meminta tolong aku untuk menjagamu," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.


Rara terbatuk saat mendengar nama Cantika terjatuh dan demam.


"Cantika jatuh lalu demam? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Rara dengan wajah yang terlihat cemas.


Rara sangat tahu, bagaimana perjuangan Dyah berusaha untuk bisa mengandung dan akhirnya melahirkan Cantika.


"Aku juga belum tahu kabarnya, dan aku belum sempat bertanya," ucap BAihaqi pelan.


Rara langsung menggapai nakas untuk mengambil ponselnya dan dengan cepat menghubungi Dyah.


"Dy, gimana Cantika?" tanya Rara cemas.


"Tenang Ra, Gak apa-apa kok. Kamu gimana, maaf tadi gak pamit, aku cemas dengan Cantika," ucap Dyah pelan menyesali kepergiannya yang tiba-tiba meninggalkan Rara tanpa pamit.


"Aku paham Dy. Syukurlah kalau Cantika tidak apa-apa," ucap Rara pelan. Rara pahambagaiman perasaan seorang Ibu bila mengetahui anaknya sakit dan sedang tidak baik-baik saja. Mungkin setelah Rara melahirkan dan memiliki anak, juga akan memiliki perasaan cemas dan was-was setiap saat kepada anak.


"Kamu istirahat Ra. Terima kasih sudah cemas kepada Cantika," ucap Dyah pelan.


"Iya, ini baru selesai makan. Kebetulan aku terbangun da ingin memakan sesuatu yang hangat," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Wah ... Mas Baihaqi baik Kan? Dia bantu kamu memebelikan sesuatu, Ra?" tanya Dyah dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Iya. Apakah ada yang aneh?" ucap Rara yang bingung.


"Sebenarnya Baihaqi sedang ingin mendekatimu. Aku juga baru tahu dari Mas Hendra. Kebetulan Mas Hendra cerita tentang kamu, dan Baihaqi meminta untuk dikenalkan. Tapi ..." ucapan Dyah terhenti di ujung sebrang sana.


Rara terdiam dan tampak bingung lalu menatap Baihaqi yang juga sedang mencuri pandang ke arah Rara.


"Tapi apa?" tanya Rara penasaran. Wajahnya beralih menatap kaca jendela yang ada di smpingnya. Rara tidak mau memeberikan harapan palsu. Saat ini Rara sedang ingin sendiri.


"Tapi ... Kalian kan berbeda agama," ucap Dyah yang sedikit tertahan dan nampak lega setelah memberi tahukan kepada Rara.


"Oh itu ... Barkan saja. Aku sedang ingin sendiri Dy. Tolong pahami aku saat ini," ucap Rara tegas.


Dengan cepat Rara menutup sambungan teleponnya. Dirinya paling tidak suka dijodohkan. Rara tidak mau kejadian dengan Cantas terulang kembali.


Rara tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tapi memang Rara masih kecewa dengan keadaan ini. Tatapannya kembali bengis melihat Baihaqi.


"Ada apa? Apa salah saya, hingga kamu tampak marah seperti itu?" tanya Baihaqi yang terlihat bingung.


"Apa maksud kamu saat ini kepada Rara? Kenapa kamu baik dan mau membantu Rara? Apa kamu punya alasan lain, Mas?" tanya Rara tegas. Rar ingin Baihaqi jujur bukan kebohongan yang pura-pura tulus di depannya. Rara sangat muak dengan sikap lelaki.


Baihaqi terkejut setengah mati. Sifat Rara yang lembut dan ramah tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Baihaqi memaklumi keadaan Rara yang memang terpuruk dan sedikit depresi. Mungkin Rara masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini sebagai pelajaran hidup yang begitu keras.


"Jawab Mas!!" tegas Rara. Rara sudah tidak sabar menunggu jawabanmas Baihaqi. Tentu pernyataan Dyah tadi membuat Rara kaget dan takut.


"Oke ... Aku jawab. Dengarkan aku, Ra," ucap Baihaqi pelan dengan nada memohon.


"Cepat. Aku dengarkan!!" ucap Rara lantang.


Baihaqi menarik napas dalam. Baru saja mengenal sudah begini. Bagaimana mengenal Rara lebih jauh, mungkin akan lebih ribet dari ini.


"Dari awal ketemu, aku memang kagum denganmu. Ditambah Hendra menceritakan tentang dirimu dan apa yang kamu alami saat ini ...." ucapa Baihaqi terhenti. Rara langsung menyela ucapan Baihaqi dengan cepat.

__ADS_1


"Lalu kamu, iba denganku? Kasihan? Atau malah menghina?" ucap Rara dengan ketus.


"Kamu diam dulu. Bagaimana aku menjelaskan kalau kamu menyela. Tentu aku iba dan aku ingin peduli dengan dirimu, Ra. Sedikitpun aku tidak ingin mempermainkan perasaan wanita. Aku sangat mencintai istriku yang sudah lama meninggal. Tapi aku kasihan pada keiga anak-anakku yang juga membutuhkan sosok Ibu. Aku pikir, tidak ada salahnya kita mengenal lebih dekat. Masalah jodoh atau tidak biarkan itu menjadi ketetapan Allah," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.


__ADS_2