
Rara menutup sambungan telepon itu dengan paksa. Hatinya sakit sekali, mencintai memang tak harus memiliki dan Rara tidak berambisi untuk memiliki Rafli.Sedikit pun Rara tidak mau menghancurkan rumah tangga Rafli dan Rara, cukup mencintai dan bisa berkomunikasi baik hingga terjalin silaturahmi yang lancar. Hanya itu. Tidak ada keinginan lain.
Air matanya menetes deras. Perkenalannya berakhir tidak menyenangkan seperti ini. Kadang Rara menyesali kenapa harus dipertemukan dan berkenalan dengan Rafli, hingga hatinya terus ingin menetap pada lelaki beristri itu.
'Apa aku salah mencintaimu? Jika cinta itu memang anugerah, lalu aku bisa apa? Aku hanya ingin dekat, mengobati semua rasa rindu dan rasa cintaku kepadanya. Aku tidak pernah berpikir untuk bisa memilikinya apalagi ingin merebutnya dari orang yang menjadi prioritasnya selama ini,' batin Rara lirih bercampur dalam rasa sedih dan kecewanya.
Kedua tangan Rara menutup wajahnya. Menahan isak tangisnya yang terus saja mengalir di pipinya. Ponsel yang masih tergenggam erat di tangannya pun di banting karena kesal. Rara kesal pada dirinya sendiri, kesal pada takdirnya, kesal pada jalan hidupnya yang tidak pernah sesuai harapannya.
"Aku benci!!! Benci!!," teriak Rara dengn sara keras. Semua alat make up di lempar ke segala arah. hatinya benar-benar sedang panas, sesak dan tak karuan lagi rasanya.
Napas Rara terengah-engah menahan rasa sakit yang luar biasa.
Aneng, pengasuh Abuya mendengar bunyi keras banyak barang yang berjatuhan berlari ke arah depan pintu kamar Rara. Telinganya di pasang disana, tepat di depan pintu kamar Rara untuk mendengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terdengar suara isak tangis dan teriakan-teriakan keras yng meyayat hatinya, seolah tahu Rara, Sang Majikan sedang patah hati dan kecewa.
"Kak ... Mama .... Mau ke Mama," ucap Abuya pelan sambil menarik baju Kak Aneng yang masih serius mendengarkan dari arah luar.
Tangan Aneng langsung mengangkat tubuh kecil Abuya dan di gendong tepat di depan dadanya untuk menenangkan lelaki kecil kesayangan Rara.
"Abuya diam dulu ya? Main sama Kakak dulu yuk? Mau main apa?" tanya Aneng dengan lembut dan penuh kesabaran.
Abuya menggelengkan keopalanya dengan cepat lalu berteriak dengan sangat keras.
"Buya mau sama Mama. Pokoknya sama Mama," teriak Abuya dengan nyaringnya hingga Rara pun mendengar teriakan lelaki kesayangannya itu.
__ADS_1
Aneng pun langsung membawa Abuya menjauh dari kamar Rara dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Di bawanya Abuya ke arah luar dan berjalan-jalan melihat-lihat keadaan di luar yang biasanya membuat Abuya bersemangat, namun tidak untuk hari ini.
Abuya terus saja menangis dan meronta-ronta meminta untuk kembali ke rumah dan ingin berasama dengan Rara, Sang Mama.
"Mama lagi istirahat. Mama lagi sakit, Abuya jangan ganggu Mama dulu. Nanti siang baru bisa bermain sama Mama," ucap Aneng pelan sambil mengusap pelan rambut Abuya yang sudah terlihat sangat gondrong.
Abuya hanya terdiam dan terus merengek. Tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Rara masih berdiam diri di dalam kamar. Ponselnya yang berantakan pun di pungut satu per satu dan di pasang lagi dan di nyalakan kembali. Hatinya sudah lega melampiaskan kekesalannya dengan berteria, menagis dn melempr barang-barang kesayangannya. Hanya itu cara Rara melampiaskan semua emosinya.
Tubuh Rara sudah terasa lemas karena terlalu menangis. Kedua matanya pun sudah bengkak dan mulia terasa mnyipit. Namun, dadanya sudah tidak sesesak tadi. Rara sudah lebih leogwo dan menerima semua yang terjadi pada dirinya. Rara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Niatnya tadi akan pergi ke toko pun di urungkan karena suasana hatinya yang sedang tidak menentu.
Ponselnya berdering kembali dengan suara nyaring. Jantung Rara serasa ingin lepas dari tubuhnya, dan detaknya semakin terasa bergerak dengan cepat. Rara tidak berani menatap layar ponsel itu dan tidak berani melihat siapa yang sedang meneleponnya. Rara semakin cemas dan panik melingkupi hati dan perasaannya, suasanan hatinya jadi semakin tidak menentu.
"Assalamualaikum ... Ra?" sapa Rafli dengan suara lembut dan terdengar lirih.
"Waalakumsalam, Iya Mas Rafli," jawab Rara menahan suaranya yang masih terdengar bergetar.
"Maafkan Mas ya?" ucap Rafli dengan pelan.
Rara mendengarkan suara Rafli dengan menatap kosong ke arah depan dengan tatapan yang begitu nanar.
"Iya Mas tidak apa-apa," ucap Rara pelan.
__ADS_1
Masih terdengar isakan dari hidung Rara yang tersumbat.
"Kamu menangis?" tanya pelan seolah merasa bersalah.
Dada Rafli pun ikut terasa sesak mendengar suara Rara yang parau dan menahan tangisnya. Rafli bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Rara saat ini.
"Tidak Mas Rafli," jawab Rara berbohong sambil menahan sesaknya yang kemabli timbul
Suara Rafli begitu menentramkan tapi juga membuat hatinya sakit dan pilu mengingat ocehan Fatarani, istri Rafli yang terus menerus mengolok Rara dengan kata-kata kasar dan tidak pantas.
"Jangan pernah berbohong kepada Mas. Mas tahu kamu habis menangis. Coba kita video call, tentu Mas akan melihat wajah sendu dan sembabmu, Ra," ucap Rafli dengan suara lirih.
Perasan bersalahnya semakin menyelimuti hatinya. Entah perasaan apa ini. Ikut merasakan sedih di saat Rara bersedih. Ikut meraakan bahagia jika melihat Rara tersenyum manis dan begitu polosnya.
"Aku tidak berbohong, Mas," jawab Rara masih dengan kebohongannya. Air matanya mulai menetes lagi membasahi pipi Rara.
"Katakan dengan jujur, jangan membohongi perasaanmu sendiri itu akan menyakiti dirimu sendiri, Ra," ucap Rafli dengan lembut.
Rara hanya bisa diam membeku di atas tempat tidur dan tidak menjawab ucapan Rafli. panggilan telepon yang beralih pada panggilan video call pun di diamkan oleh Rara bahkan tidak di terima. Biasanya Rara akan sangat senang sekali menerima panggilan video call dari Rafli. Namun, kini hatinya memang sedang tidak enak dan tidak karuan.
"Kenapa diam, Ra?" tanya Rafli lembut yang tidak mendengar suara Rara bahkan tidak mendengar suara napas yang tertarik dari indera penciumannya itu.
Rara menggelengkan kepalanya pelan, seolah rafli berada di depannya dan sedang berbicara kepadanya dan mengerti bahasa tubuh yang di implementasikan oleh Rara untuk Rafli.
__ADS_1
"Angkat Ra? Kamu kenapa sebenarnya? Jangan buat Mas ikut cemas dan panik dengan keadaanmu sekarang? Tolong pindahkan panggilannya kepada panggilan video, Mas ingin melihatmu dan ingin memastikan kamu itu dalam keadaan baik-baik saja," ucap Rafli lirih.