MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
27


__ADS_3

Senyuman yang tiba-tiba terbit dari wajah Baihaqi pun langsung sirna. Rara melihat perubahan mimik wajah itu pun langsung menatap ke arah Baihaqi seolah meminta penjelasan.


"Tadi tersenyum, lalu kenapa wajah Mas mendadak langsung berubah begitu?" tanya Rara yang baru saja mencoba mengunyah nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


Baihaqi menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa. Ini enak banget, hanya saja ...." ucapa Baihaqi terhenti dan sengaja di gantung hingga membuat Rara pun penasarn.


Rara merasa tidak ada yang salah dengan rasa nasi gorengnya. Tapi Kenapa raut wajah Baihaqi seolah mengatakan ada sesuatu rasa yang membuatnya kecewa.


"Hanya apa? Jangan buat aku penasaran," sergah Rara dengan cemas.


Baihaqi hanya bisa menahan senyumannya aat melihat kepanikan Rara dan mencoba menaikkan bahunya sedikit pertanda ada sesuatu hal yang kurang baik.


"Bicaralah Mas. Jangan memberikan kode kepadaku, aku tidak paham," ucap Rara kesal.


Nasi goreng di piring Baihaqi pun sudah habis, hanya sekita empat sendok suapan besar saja nasi goreng itu sudah berpindah ke dalam perut Baihaqi semua. Satu tangan Baihaqi menggapai cangkir kopi hitam itu dan menyeruputnya tanpa harus meniup karea sudah sedikit hangat.


"Mas Bai? Gimana rasanya?" tanya Rara kemudian dengan cemas.


Jujur saja semua wanita itu ingin di puji dan ingin sellau tampil sempurna walaupun masih banyak kekurangan yang di milikinya.


"Enak," jawab Baihaqi singkat, padat dan jelas.


"Hanya itu? Tidak ada perbaikan?" tanya Rara kemudian yang masih tidak puas dengan jawaban Baihaqi.


"Kurang," jawab Baihaq lagi-lagi singkat hingga membuat Rara menjadi gemas.


"Kurang apa? Tolong jelaskan. Jangan buat aku penasaran dengan jawabanmu Mas?" kesal Rara.


Rara hanya cemberut sambil menatap kesal Baihaqi. Nasi goreng di piringnya pun sudah habis, begitu juga dengan susu yang di buatnya sendiri pun , gelasnya sudah kosong tidak bersisa.

__ADS_1


Baihaqi pun tertawa lepas. Suara tawa itu benar-benar keras dan terdengar sangat santai sekali tanpa berdosa. Ia tidak bisa menahan lagi, rasa gemasnya saat melihat Rara yang kesal dan penasaran masukan dari Baihaqi tentang masakannya.


"Cemberut? Ini enak banget Ra. Kurang malahan. Lihat piringku bersih, dan mulutku serta perutku masih ingin? Apa kamu tidak ingin membuatkan aku lagi hingga aku merasa kekenyangan?" ucap Baihaqi menjelaskan.


Senyum Rara pun melebar. Ada rasa bahagia saat Baihaqi memuji masakanny dan meminta lagi untuk dibuatkan. Rara sadar dirinya wanita biasa, tapi pujian indah itu membuat dirinya berada di atas angin.


"Nasi putihnya tadi habis, jadi memang hanya buat seadanya. Aku tidak bisa kalau hanya makan roti saja," jawab Rara pelan.


"Jadi pulng gak?" tanya Baihaqi menglihkan pembicaraannya.


"Aku malah bimbang," jawab Rara pelan.


"Bimbang? Kenapa harus bimbang?" tanya Baihaqi yang paham dengan kecemasan dan kegelisahan Rara.


Rara menarik napas dalam lalu dihembuskan perlahan sambil menyandarkan punggunya di sandaran kursi bambu itu. Satu kejadian semalam yang tidak bisa dilupakan oleh Rara. Semalam saat hatinya masih kacau karena harapan Baihaqi yang tidak bisa diwujudkan.


"Aku takut, Mas," ucap Rara lirih. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang cantik.


"Yakin, tapi tetap saja. Aku punya salah, dan itu yang mengganjal di hatiku. Lihat perutku yang mebesar ini? Tentu kedua orang takut akan sangat murka dengan hal ini?" ucap Rara pelan.


"Aku akan membelamu, Ra. Kamu suruh tanggung jawab pun, Aku bersedia dengan senang hati," ucap Baihaqi pelan.


"Sudahlah tidak usah berangan terlalu tinggi. Harapanmu itu harus kamu hapus secepatnya. Tolong mengerti keadaanku, Mas. Rasa kecewa dan sakit hatiku masih beum sembuh, dan aku sudah tidak ingin mengenal laki-laki kecuali memang hanya untuk berteman dan menjadi saudara. Tidak lebih dari itu," ucap Rara menjelaskan kembali.


"Aku tidak berharap untuk itu. Biar takdir yang menhampiri kita. Kalau memang kita berjodoh, kita bisa apa?" ucap Baihaqi singkat.


Rara hanya bisa tersenyum kecut. Baihaqi adalah sosok lelaki yang tidak mudah putus asa dan pantang menyerah.


"Aku siap-siap dulu. Tapi ...." ucapan Rara menggantung lagi.


"Tapi apa lagi? Sudahlah mantapkan hatimu untuk silaturahmi. Semua pasti baik-baik saja," ucap Baihaqi pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


Baihaqi hanya ingin membuat Rara tetap terotivasi dengan semua harapannya. Kalaupun harapannya itu tidak sebaik keinginanya nanti, paling tidak Rara bisa mengambil hikamh dari semua ini. Rara harus belajar dari kecewa, sakit hati, penyesalan dan arti hidup sesungguhnya. Bukan hanya keluarga yang menjadi prioritas, tapi semua orang yang ada di sekelilingnya yang selalu ada dalam suka dan duka.


Tidak lama ponsel Rara berbunyi nyaring.Ponsel itu diletakkan di meja makan. Tertera nama Dyah disana. Sudah tiga hari ini memang Rara tidak menghubungi Dyah untuk sekedar bertegur sapa di dunia maya. Berpamitan pun tidak dilakukannya.


"His ...." desah Rara pelan.


"Kenapa?" tanya Baihaqi pelan.


"Dyah," ucap Rara singkat.


"Memang kamu belum mengabari Dyah, sejak kemarin?" tanya Baihaqi.


Rara menggelengkan keplanya pelan.


"Belum," jawab Rara singkat. Ponsel itu masih dalam genggamannya dan masih berbunyi sangat nyaring.


"Angkatlah, Jangan buat sahabatmu itu cemas dengan keadaanmu, Ra. Aku tahu bagaimana perasaan seorang sahabat yang peduli dan perhatian padamau, lalu tidak ada kabar sama sekali. Kamu tahu kan, rasa khawatir itu tidak enak, kita bakal uring-uringan setiap saat, saat kabar itu tak kunjung berbalas," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.


"Nanti saja. Aku ingin mandi dulu," ucap Rara plean dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja makan.


Rara bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya untuk mandi dan bersiap diri.


Baihaqi hanya bisa menarik napa dengan sikap labil Rara. Hormon wanita hamil itu memang sulit di tebak, apalagi wanita seperti Rara yang memang sedang terpuruk dengan masalah yang dialaminya itu.


Ponse Rara tak kunjung berehnti dan masih terus berbunyi. Baihaqi pun tidak tega, lalu mebuka layar ponselnya dan mencari nama Hendra, sahabatnya yang tidak lain suami Dyah, sahabat Rara.


"Assalamualaikum, Hendra, bilang pada Dyah, istrimu. Rara baik-baik saja, dia ada di Bogor bersamaku. Kemarin sempata ada masalah di rumah kontrakannya," jelas Baihaqi pelan.


"Waalaikumsalam, benarkah Rara ada di tempatmu? Kamu tahu, Dyah kebingungan, kemarin sempat ke rumah kontrakan Rara, namun sudah diisi dengan orang lain. Baiklah, nanti akan aku sampaikan pada Dyah. jaga Rarauntuk kami, dia sahabat istriku seklaigus sudah ku anggap sebagai adikku sendiri," ucap Hendra menjelaskan dengan detil.


Rasanya sangat plong sekali, kala Baihaqi sudah memberikan kabar terbaik untuk dirinya dan Dyah tentang keadaan Rara.

__ADS_1


__ADS_2