MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
84


__ADS_3

Suatu hubungan yang sudah dibangun dengan emosi dan perasaan itu akan lebih mudah membuat pasangan lebih bisa memahami dan menghargai.


Rara cukup terhenyak mendengar ucapan Rafli yang tidak biasa itu. Jarang sekali Rafli berkata jujur dan apa adanya semua terungkap dari hati.


"Aku juga sayang sama Mas. Semoga saja kita masih ada waktu untuk bisa bertemu," jawab Rara pelan


"Kenapa harus semoga. Kita harus mengandaalkn setiap bulan untuk pertemuan kita. Aku ingin serius dengan kamu, Ra," ucap Rafli dengan suara penuh harap.


"Bukankah Mas Rafli yang bilang. Kita harus sabar dan mengikuti prosesnya," ucap Rara mengembalikan ucapan Rafli yang selalu bilang sabar dan nikmati saja prosesnya.


"Iya benar. Kamu mau sabar kan, Ra? Masih mau menunggu dan menjaga semua harapanmu itu, agar kita bisa bersama suatu saat nanti," ucap Rafli dengan suara pelan.


"Iya Mas. Aku pasti menunggu sampai kapanpun," ucap Rara pelan.


Dari awal memang Rara berjanji untuk sabar menunggu Rfli sampai kapanpun. Menunggu mendapatkan ijin dan restu dari Bunda Fatarani.


Rara siap untuk menjadi istri kedua Rafli, apapun resikonya. Kenyamanan Rara berhubungan dengan Rafli menjadi salah satu alasan yang kuat untuk mempertahankan hubungannya.


"Ya sudah. Ini sudah malam. Mas harus pulang, Mas sangat lelah sekali," ucap rafli dengan pelan. Waktu sudah menunjukkan tengah malam dan kini mulai berjalan ke waktu dini hari.


"Iya, pulanglah Mas. Kasihan Bunda Fatar dan anak-anak menunggu kamu," ucap Rara pelan menasehati.


"Kamu istirahat ya sayang. Jaga kesehatan dan kondisi kamu. Baik-baik disana. Doa Mas selalu yang terbaik untuk kamu," ucap Rafli dengan lembut," ucap Rafli menasehati.


"Aku selalu ingat semua yang Mas ucapkan. Terima kasih nasihatnya. Mas juga baik-baik disana ya?" ucap Rara pelan.


Sambungan telepon itu akhirnya terputus setelah keduanya mengucap salam. Keduanya terdiam di tempat masing-masing setelah menutup telepon dan menutup layar ponselnya.


Rafli masih terduduk bersandar pada kursinya dan mengangkat wajahnya sambil dipejamkan kedua matanya itu. Rasanya semakin hari semakin sayang dan cinta kepada Rara dan hatinya tus saja merindu kepada wanita yang pernah menemuinya itu.

__ADS_1


'Bagaimana aku bisa bicara baik-baik dengan Fatara


"ni, istriku terkait keinginanku untuk berpoligami? Padahal Rara sudah siap dan yakin serta bersedia untuk menjadi istri kedua tanpa tuntutan apapun,' batin Rafli di dalam hatinya.


Rafli cukup berpikir keras mencari cara dan solusi untuk membicarakan permasalahan ini.


"Huft ... Mungkin aku harus pelan-pelan bicara pada istriku," lirih Rafli di dalam hati.


Rafli pun berkemas dan membereskan rempat kerjanya dan seger apulang ke rumah.


Sesampai di rumah, Rafli menatp ke arah Fatarani yang sudah tertidur pulas sambil sesekali tangannya reflek mendorong ayunan tempat tidur si bungsu.


Belum lagi melihat ketiga anaknya yang lain yang juga sudah tertidur pulas di tempatnya masing-masing.


Rafli menutup pintu depan rumah kontrakan itu dan masuk menuju ke arah dalam untuk mengganti pakaiannya. Saat melewati meja makan, tidak ada satupun makanan atau minuman yang tersedia disana. Rafli segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera pergi keluar untuk mencari makan malam.


Rafli berjalan ke depan gang kontrakannya untuk membeli sebungkus nasi goreng.


"Hei Rafli!!" panggil teman sejawatnya sejak kecil yang sedang duduk di pos ronda dekat gerobak nasi goreng yang ingin di beli oleh Rafli.


Rafli pun menoleh ke arah Rendi, teman kecilnya itu.


"Hei Rendi. Sebenear ya, aku pesen nasi goreng dulu," ucap Rafli pelan menuju gerobak nasi goreng untuk memesan satu bungkus nasi goreng yang sangat pedas.


Setelah memesan Rafli berjalan menuju ke arah Rendi dan ikut duduk bersama di pos ronda itu.


"Kemana aja, Raf?" tanya Rendi pelan sambil menghisap rokoknya yang baru saja di nyalakan.


"Ada saja. Kamu tahu kan, aku sibuk dengan kegiatan pekerjaanku yang menyita waktu," ucap Rafli dengan jujur.

__ADS_1


"Ya benar. Kamu itu orang paling sibuk bekerja," ucap Rendi tertawa keras.


"Gimana pekerjaanmu Rendi? Lalu istri keduamu, masih? atau sudah menambah?" tanya Rafli pelan yang tiba-tiba ingat temannya itu sudah lebih dulu berpoligami.


Rafli ingat betul, saat Rendi membawa wanita lain datang ke rumahnya untuk di perkenalkan kepada raya, istri pertamanya. Sempat terjadi percekcokan, perdebatan, dan amukan dari Raya yang tidak terima dengn keadaannya yang ternyata telah di madu. Rendi sudah satu tahun menikah dengan Rita tanpa sepengetahuan Raya.


"Hahaha .... Ada apa ini? Tumben bertanya tentang istriku yang lain? Apa ingin mengikuti jejakku? Atau kamu sedang memiliki anita lain, dan anita itu menuntut untuk di nikahi?" tanya Rendi pelan dengan rasa penasarannya sambil menatap wajah Rafli yang terlihat bingung.


Rafli menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak ada. Aku hanya teringat waktu Raya mengamuk dan semua tetangga datang untuk memisahkan perdebatan kalian. Dan akhirnya semua orang tahu dengan status poligami kamu, Ren," jawwab Rafli pelan menjelaskan.


"Rita, baik-baik saja, bahkan dia sedang mengandung anak kedua kami. Dia sabar banget, Raf. Kalau boleh memilih, aku ingin bisa selalu bersama dengan istriku itu," ucap Rendi pelan dengan wajah yang sendu.


"Lalu? Bukankah rumah Rita pun dekat disini? Kenapa tidak datang kesana?" tanya Rafli pelan agar tidak menyinggung perasaan Rendi.


Rafli sengaja bertanya, kasus permasalahan yang sedang dihadapinya tidak berbeda jauh dengan Rendi. Saat ini Rafli juga dihadapkan dengan masalah poligami. Jujur Rafli sudah terlanjur mencintai Rara dengan semua kelebihan dan kekuragan yang dimiliki oleh Rara.


Rendi menatap Rafli dengan penasaran. Tidak bisanya dan bukan karakter Rafli yang ingin tahu urusan seseorang.


"Kamu mau poligami? Tidak biasanya kamu ingin tahu urusan orang lain. Tapi kalau kamu ingin tahu, ku bisa berbagi ilmu," ucap Rendi pelan sambil tersenyum lebar.


Rafli mengangguk pelan.


"Cerita saja, aku hanya ingin mendengar saja pengalaman seseorang yang sudah melakukan poligami. Tidak da maksud apa-apa," ucap Rafli pelan yang pura-pura tidak peduli padahal hainya sangat ingin tahu. walaupun sudah banyak ilmu yang Rafli tahu dari seorang ustad yang selalu meberikan nasihat pada dirinya saat sharing segala permasalahan rumah tangganya.


Rendi mengangguk pelan. Paham dengan maksud Rafli yang hanya ingin tahu saja.


"Ya, waktu itu saat mengenal Rita, aku merasa dia sangat berbeda dengan wanita lain. Dan memang rasa itu muncul dengan sendiriny, akhiranya aku dekat dan semakin dekat hingga aku pun tidak bisa melepas Rita dan aku nikahi dia sebagai istri keduaku, tanpa sepengetahuan Raya. Tidak ada perempuan yang mau di madu, dan Rita mau di madu dan mau mengerti posisiku. Jujur, saat ini Raya menyuruhku untuk meninggalkan Rita dan aku tidak bisa. Aku sedang mencari cara, agar Rita pun tetap menjadi milikku. Rita tidak keberatan dengan statusnya kini yang hanya seagai istri kedua," ucap Rendi menjelaskan. Urusannya berpoligami menjadi sangat rumit saat Raya, istri pertamanya yang tidak bisa menerima kenyataan yang sedang bahkan sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2