
"Masih kenal?" tanya Rara kemudian setelah beberapa saat keduanya saling bertatap dan diam tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Ucapan Rara terdengar sangat ketus.
"Kok galak sih?" tanya Cantas dengan manis dan lembut.
Rara hanya menatap sekilas lalu membuang muka. Awalnya mungkin Rara masih mau berbaik-baik dnegan Cantas, tapi melihat gyanya yang masih saja terlihat selangit, Rara pun mulai ilfil denga semua sikap Cantas.
"Kenapa?" tanya Rara pelan bersaha memahami situasi yang sulit ini. Rara berharap Cantas bertanya soal anaknya.
"Aku rindu sama kamu, ra," ucap Cantas pelan sambil menatap kedua mata Rara dengan sangat lekat dan memegang erat tangan Rara yang berada diatas meja.
Rara pun melepaskan genggaman erat tangan Cantas di tangannya. Rara tidak ingin lagi terjebak oleh cinta buaya yang bermodalkan tampang untuk memuluskan kemodusannya.
"Maaf, Aku tidak rindu," ucap Rara dengan tegas dan lebih ketus lagi.
Tatapan cantas langsung tajam ke arah kedua mata Rara.
"Sejak kapan kamu mulai berani bicara ketus denganku?" tanya Cantas pelan dengan perasaan sedikit dongkol terhadap Rara. Padahal harapan cantas adalah bisa kembali kepada Rara, setelah beberapa bulan ini ia sempat frustasi karena di tipu oleh mantan pacarnyaa sendiri. Jelas karma itu ada, dan pasti.
__ADS_1
"Apa ada masalah? Dengan siapa aku ketus sekarang? Dulu mungkin kita punya hubungan? Tapi saat ini? Kita hanya saling kenal? Berteman pun tidak? Jadi jangan pernah berharap, kalau saya masih bisa berbaik-baik dengan anda?! Paham!!" jelas Rara dengan suara yang amat tegas.
Kedua mata Cantas semakin tajam menatap Rara. Kali ini Cantas benar-benar di buat terkejut dengan sikap Rara yang begitu tegas tanpa punya rasa takut. Biasanya Rara itu sangat penurut dan lemh lembut. Ya, Itulah Rara, hingga banyak llaki yang menyukai Rara karena keramhannya, tapi banyak lelaki yang tidak bersyukur telah memiliki Rara dan malah memilih untuk mempermainkannya, mengecewakannya dan bahkan menyakiti hatinya hingga rasa itu benar-benar mati dan Rara kini menjadi wanitayang berbeda.
"Bisa menjawab ya, sekarang? Semakin pintr? Berasa punya harga diri jadi perempuan? Padahal menta kamu itu sudah rusak?!!" ucap Cantas dengan mata melotot dan suara meninggi hingga orang-orang yang berda di sekitar meja tempat Rara duduk pun menengok dan menatap ke arah keduanya.
Rara terlihat santai dan membalas tatapan tajam Cantas lalu tersenyum kecut dan membuang pandangan itu ke arah lain. Rara sudah tidak peduli, dan sudah tidak ada kata malu. Seharusnya yang malu itu Cantas, yang tidak punya harga diri. Masih saja datang mengemis kebaikan dari Rara untuk mau mengasihaninya dengan segala cara rayuan jitunya.
"Maaf ya. Bukan sekarang!! Lebih tepatnya saat kejadian itu, aku berjanji untuklebih mengahargai diriku karena memang diriku lebih berharga dari apapun. Jadi orang-orang yang bisa memilikiku pun adalah orang-orang pilihan yang sngatlah berharga, bukan orang-oranga yang bermodalkan harga dri yang sebenarnya harga diri merea itu juga sudah digadaikan entah kemana!! Seperti kamu!!" jelas Rara dengan tegas sambil menunjuk dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah Cantas.
"Lihat wanita ini? Apakah menurut anda cantik?" tanya Cantas kepada seluruh isi pengunjung Kafe itu dengan ajah nyinyir penuh ketidaksukaan.
Niat Cantas ingin mempermalukan Rara di dean khalayak ramai di dalam ruangan Kafe itu. Rara sudah bisa membaca situasi dn kondisi tersebut dengan baik. Itulah sifat buruk Cantas yang selalu mencari-cari kesalahan Rara atau orang lain di saat Rara tidak bisa memenuhi setiap keinginan Cantas dengan baik. Cantas pikir Rara yang sekarang masih sama dengan Rara yang dulu dikenalnya. Sedikit pun kini Rara tidak ada rasa takut dan cemas. Rara bisa bangkit dan move on dari keterpurukannnya dan kini Rara bisa membiayai semua biaya hidup untuk dirinya dan Abuya, anak semata wayangnya, benih dari Cantas yang sudah lama terlupakan.
Rara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Kafe itu dan menatap satu per satu pengunjung Kafe itu dengan tatapan tajam.
Seluruh pengunjung pun yang tadinya menatap ke arah Cantas dan Rara, kini pun beralih tatapan pada urusannya masing-masing. Mereka semua terdiam dan tidak ada yang menjawab pertanyaan Cantas.
__ADS_1
Cantas mulai keki dan terliht mencari cara lain untuk bisa mempermalukn Rara di tempat umum itu.
"Sudahlah, jangn mencari-cari cara untuk menjatuhkan aku. Carilah cara untuk kamu itu bertobat dan jalan ke jalan yang benar. Mau sampai kapan hidup kamu seperti ini? Mencari keuntungan dengan mendekati wanita kaya dan dihisap madunya lalu ditinggalkan bagaikan sampah. Ingat dosa!! Dosa meninggalkan anak!! Dosa tidak mengurus anak!! Makanya kmau jadi seperti ini!! Dosa tidak mau mengakui anak kandungmu sendiri!! Darh dagingmu sendiri!! Dan malah kamu menuduh aku, bermain dengan lelaki lain!! Kamu lelaki tidk tahu diri!!" uacpa Rara dengan keras dan lantang. Nada suaranya makin meninggi hingga pengunjung yang ada di Kafe itu mendengar semua keluh kesah Rara dan terdiam.
Tidak ada satu pun pengunjung yang bersuara, mereka memilih diam dan tidak berkomentar. Satu per satu, pengunjung itu muali mengabaikan Rara dan Cantas karena mereka berpikir, memang ada maslaah yang harus diselesaika secara pribadi berdua saja tanpa ada ikut campur orang lain.
"Waw ... Sudah bisa membalikkan fakta ya!! Belajar dimana ilmu membela diri seperti itu!!" tanya Cantas sambil mengebrak meja dengan kedua telapak tangganya.
Rara pun melakukan hal yang sama tanpa ada rasa takut dan tidak gentar. Kedua telapak tangannya pun menggebrak meja dan memajukan tubuhnya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Cantas dan mulai berbicara dengan nada keras.
"Ini bukan perkara bela membela diri. Tapi ini adalah salah satu cara bagaimana kita sebagai perempuan mempertahankan harga dirinya agar tidak selalu di injak-injak oleh lelaki modus seperti kamu!!" tegas Rara.
"Jaga ucapan kamu, Ra!! Aku bukan lelaki seperti itu!! Kamu saja yang selingkuh!!" bela Cantas terhadap dirinya sendiri. cantas kini malah tersudut sendiri. Niat hati ingin menjatuhkan Rara di depan orang banyak, malah kini dia sendiri yang harga dirinya di jatuhkan oleh Rara karena keberanian Rara mengungkap itu semua.
"Pintar!! Kamu itu buaya!! Modus!! Jadi pbisa membolak-balikkan fakta sesuai keinginan hati kamu!! Dulu aku diam, karena aku taut kehilangan kamu!! Karena aku mencintai kamu!! Tapi, apa?! Seberapa erat aku mempertahankan kamu, tetap saja kamu tinggalkan aku!! Karena kamu masih ingin bebas!! Dan kini kamu kembali lagi ke kehidupan aku, untuk sesuatu hal kebaikan denagn semua janji manis kamu. Makan saja semua bualanmu itu!!" tegas Rara.
Rara mengambil tas nya dan pergi meninggalakan Kafe itu dengan sejuta pertanyaan yang masih berkecamuk di benak Cantas.
__ADS_1