MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
90


__ADS_3

Hampir setiap malam Rafli dan Fatarani selalu saja berdebat dan berantem untuk masalah kecil. Fatarani yang kini merasa hidupnya terancam semenjak kehadiran Rara di tengah-tengah hubungannya dengan dengan Rafli, suaminya yang semakin merenggang.


"Mau Ayah itu apa? Masih saja menghubungi wanita gatal itu!!" teriak Fatarani dengan keras saat menyambut Rafli, suaminya yang baru saja datang dari tempay kerjanya.


Rafli hanya bisa terdiam membisu. Bukan kalah karena memang mengakui salah, lebih baik Rafli diam dan mengalah jika Fatarani sudah mulai berapi-api.


Dengan santainya, Rafli memarkirkan motornya dan masuk begitu saja ke dalam rumah kontrakan.


Fatarani hanya bisa menatap tajam ke arah Rafli dan mengikuti kemana arah Rafli berjalan.


"Bangga, dicintai Rara. Wanita gatal, yang tidak punya harga diri dan selalu mengganggu suami orang. Wanita itu tidak laku dan tidak bisa mencari lelaki lain yang bisa memberikan kenyamanan. Apa harus tetap memilih merusak rumah tangga orang lain?" teriak fatarani semakin keras dan murka.


Kedua tangan Fatarani memukul punggung Rafli yang sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


Kepala Rafli sudah pusing sejak pulang dari tempat kerjanya. Hujan yang turun mngguyur kota Jakarta dari siang hingga malam ini tak kunjung berhenti membuat Rafli harus rela pulang dengan berbasah-basahan.


BUGH!!


BUGH!!


BUGH!!


Punggung yang sudah terasa lelah dan lemas itu harus mendapat hantaman keras dari kedua tangan mungil Fatarani. Terlihat kecil namun tenaganya begitu sangat kuat. Fatarani sedang kesal dan mengumbar rasa kesal dan amarahnya lewat Rafli Sang Suami.


Pukulan bertubi-tubi itu sangat menyakitkan, apalagi Rafli hanya diam dan tidak membalas. Tidak ikutterhanyut juga dalam emosi yang sedang mengelilingi Fatarani dan rasanya di dalam rumah itu terasa panas dan gerah.


Rafli membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Fatarani. Tapi, Fatarani dengan mantap mebalas tatapan tajam itu dengan pelototan.


"Apa?!! Ayah tidak terima?!! Mau marah?!! BUkannya yang seharusnya marah itu Bunda!!" teriak Fatarni semakin keras.


Suara lantang dan memekik itu mengganggu tidur keempat anak Rafli dan Fatarani yang sedang pulas. Melihat kedua orang tuanya berantem.


***


Sudah dua hari ini Rafli mendiamkan Fatarani, istrinya. Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan karena semua sudah jelas. Rafli pun sudah mengakui semua hubungannya dengan Rara. kedekatannya dengan Rara selama ini harus di bayar mahal dengan keretakan rumah tangganya yang sudah di bina oleh Rafli dan Fatarani selama sebelas tahun.


Pagi ini pun, Suami dan Istri itu menjalankan aktivitasnya masing-masing seperti biasa, tanpa sapaan hangat, tanpa panggilan sayang dan tanpa perhatian yang biasa sering mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.


Hati Fatarani sudah beku dan dingin terhadap Rafli, Suaminya. Setiap pagi Fatarani hanya terbangun kemudian menjalankan aktivitasnya sebagai Ibu Rumah Tangga.

__ADS_1


Sama seperti Rafli yang selalu pulang tengah malam dari tempat kerjanya dan langsung tertidur pulas untuk mengembalikan energinya di pagi hari. Setelah terbangun di pagi hari dan melaksanakan sholat shubuh, aktivitas Rafli adalah mengurus keempat buah hatinya.


Pagi ini, Rafli datang ke rumah orang tuanya untuk membantu mengeluarkan dagangan Ibunya. Ibu Rafli adalah seorang istri pekerja keras, berthaun lamanya mengurus Suaminya yang sakit tanpa ada rasa mengeluh dan menyerah.


"Kenapa dengan kepalamu? Bengkak dan bocor begitu?" tanya Ibu Rafli saat merapikan dagangan nasi uduknya di meja penyajian yang telah di persiapkan di depan rumahnya.


Rafli yang sedang membawa bangku panjang untuk tempat menunggu pembeli pun berpura-pura tidak mendengarnya. Rafli tidak menjawab pertanyaan dari Ibunya. Kalau saja tahu, Rafli habis berdebat dengan Fatarani tentu Ibu Rafli akan membela anaknya sampai titik darah penghabisan.


Dulu, Ibu Rafli adalah orang yang paling tidak menyetujui hubungan Rafli dengan Fatarani, entah feeling seorang Ibu yang melihat ada aura negatif dari Fatarani sewaktu berkenalan dan di bawa ke rumah oleh Rafli.


Ibu Rafli sudah sangat hapal dengan watak Rafli, anaknya itu. Rafli adalah seorang laki-laki bukan pengadu ataupun laki-laki yang suka bercerita dan menceritakan permasalahannya.


"Rafli, Kalau ditanya Ibu itu jawab bukan malah diabaikan atau pura-pura tidak dengar, nanti malah tidak dengr lho," ucap Ibu Rafli yang sedang mengaduk sayur id panci yang masih panas.


Rafli meletakkan bangku panjang itu lalu berjalan menghampiri Ibunya dan memeluk Ibunya dari belkang dengan erat sambil melingkarkan kedua tangan besar itu di depan perut Ibunya. Kepalanya di letakkan di pundak Ibunya hingga hatinya mulai sedikit terasa nyaman.


Rafli masih terdiam sambil menghirup aroma tubuh Ibunya yang selalu Rafli rindukan selama ini. Waktu Rafli sudah habis untuk pekerjaannya mencari nafkah, belum lagi urusan rumah tangganya yang mengharuskan Rafli mengurus keempat buah hatinya setiap pagi.


"Kamu kenapa, Rafli? Tidak biasanya? Ada masalah apa? Belum bayar cicilan motor?" tanya Sang Ibu dengan suara pelan.


Ibu Rafli pun menikmati pelukan hangat dari Sang Anak. Pelukan kasih sayang yangsudah lama menghilang sejak Rafli menikah dan berumah tangga. Dan, pelukan ini tidak pernah dirasakan kembali antara anak dan Ibu.


"Masalah kecil Bu. Ibu jangan khawatir," ucap Rafli pelan sambil mencium pipi Sang Ibu. Rafli pun mengendurkan pelukannya dan duduk kursi di samping Ibunya.


"Dengan Fatarani? Kemarin pun anak sulungmu, di marahi oleh Fatarani sepulang sekolah. Sampai kapan kamu bertahan dengan sikap Fatarani, istrimu itu. Ibu hanya takut pada psikis keempat anakmu, Rafli," ucap Sang Ibu menceritakan apa yang di lihatnya kemarin.


Ibu Rafli sangat iba melihat kehidupan rumah tangga Rafli dan Fatarani. Sebelas tahun mengarungi bahtera rumah tangga, namun kehidupannya tetap saja seperti itu.


"Rafli sudah berusaha merubah sikap keras dan watak pemarah Fatarani agar bisa lebih lembut. Tapi, sepertinya usaha Rafli sebelas tahun ini sia-sia," ucap Rafli melemah. Rasanya berat sekali menghadapi sikap kepala batu dan kasar dari perempuan yanh di sayanginya itu. Sikap seperti ini yanh terkadang membuat Rafli terkadang malas berdebat dan lebih baik mengalah agar suatu masalah tidak kembali panjang.


Ibu Rafli mengangguk pelan. Sang Ibu benar-benar memahami apa yang sedang di rasakan oleh Rafli saat ini.


"Katanya mau ganti istri?" tanya Sang Ibu sambil terkekeh pelan.


Rafli pun terkejut dengan ucapan Sang Ibu di tambah lagi, Sang Ibu tertawa sedikit mengejek.


"Masa iya, Rafli ganti istri?" ucap Rafli lirih dengan rasa gelisah.


Rafli sedikit cemas karena takut Sang Ibu mengetahui hubungannya dengan Rara.

__ADS_1


"Ya, Kalau ada yang lebih baik kenapa tidak?" ucap Sang Ibu pelan sambil mulai berjualan.


"Tidak mungkin kan, Bu? Walaupun ada calonnya juga," ucap Rafli dengan tertawa lepas.


"Carilah, Kalau memang ada. Kenalkan pada Ibu," ucap Sang Ibu pelan dengan nada serius.


"Huft ... Gimana nanti aja," jawab Rafli pelan.


"Iya, Mau makan nasi uduk? Masih hangat. Bungkus untuk Fatarani dan anak-anak?" tanya Sang Ibu kepada Rafli.


"Sudah Bu, tidak perlu. Rafli pulang ya. Kasihan si bungsu," ucap Rafli pelan sambil bangkit dari duduknya dan berlalu pulang setelah mencium punggung tangan Sang Ibu.


Rafli berjalan pelan dan mampir ke sebuah warung untuk membeli kopi dan bebrapa roti pesanan keempat buah hatinya.


"Hei Rafli?" sapa salah seorang Bapak tua yang sedang membeli sebungkus rokok juga.


"Iya Pak. Ada apa?" tanya Rafli dengan suara pelan.


"Kemarin ada apa? dari arah kamarmu tengah malam terdengar suara ribut?" tanya Bapak tua yang terlihat ingin tahu dan penasaran.


Rafli terdiam dan bungkam. Masalah yang sedang di hadapinya adalah masalah keluarga dan bukan masah yang bisa di konsumsi secara umum.


"Tidak ada apa-apa Pak. Biasa saja, obrolan keluarga sambil menonton televisi jadi ikut histeris," jawab Rafli seolah cuek dan mengabaikan.


Rafli yang tidak mau ambil pusing pun langsung membeli kebutuhannya dan berlalu pulang.


"Ayah !!!" suara si bungsu yang begitu keras dan terdengar nyaring berteriak.


Sang Ayah tersenyum dan menghampiri gadis kecil yang masih berusia sebelas bulan itu. Rafli pun menggendong gadisnya dan membawa masuk ke dalam rumah dengan diikuti ketiga kakaknya yang memang sengaja menunggu Sang Ayah pulang.


"Ayah bawa apa?" tanya si sulung dengan rasa penasaran dan mengambil kantong plastik yang di pegang oleh Sang ayah.


Plastik itu di buka dan si sulung langsung mengambil beberapa roti yang ada di dalamnya dan membagikan satu per satu roti itu kepada adik-adiknya.


Dengan lahap keempat anak Rafli pun mulai memakan roti itu dengan sangat nikmat.


"Enak? Roti coklatnya?" tanya Rafli keada keempat ananya yang mulai belepotan dengan isi cokelat di sekitar bibirnya.


"Enak Ayah. Besok beli lagi ya?" pinta si slung dnegan penuh harap.

__ADS_1


Entah kenapa roti isian cokelat itu terasa enak dan lumer di lidah saat mulai di kunyah.


__ADS_2