MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
43


__ADS_3

Rara sudah berada di dalam ambulan. Dokter kandungan itu datang tepat waktu dan memberikan suntikan penenang dan pereda nyeri.


Padahal bayi Rara mau tidak mau harus dikeluarkan. Tapi, dokter kandungan itu mencoba cara lain agar masih bisa bertahan dalam kandungan dengan alasan masih terlalu dini dan sangat berbahaya bagi kesehatan si jabang bayi.


"Apakah anakku akan baik-baik saja dokter?" tanya Rara dengan lirih.


Rasa sakit dan mulasnya sudah berangsur menghilang, namun rasanya sangat lemas dan lemah. Untuk duduk bersandar saja rasanya tidak akan mampu dilakukan oleh Rara.


Dokter kandungan itu terus memantau kondisi Rara dan sesekali memeriksa perutnya dengan cara memegang dan menekan bagian perut bawah.


"Percayakan semuanya kepada Tuhan. Jangan pasrah, keajaiban pasti ada," ucap Dokter kandungan itu pelan sambil tersenyum. Dokter kandunganaitu berusaha menenangkan hati Rara.


"Argh ... Kenapa rasa mulasnya timbul lagi, dokter? Apa yang terjadi pada anak saya sebenarnya?" tanya Rara dengan cemas. tangan kanan Rara secara spontan mengusap perut besarnya dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit yang kini mulai terasa timbul lagi.


"Sabar ya, Ra. kamu harus kuat dan kamu pasti kuat," ucap Baihaqi yang sejak tadi menemaninya tanpa meninggalkan Rara sedetik pun.


"Aku ingin menyerah Mas Rasanya sudah tidak kuat lagi," ucap Rara lirih.


"Kamu kuat Ra, pasti kuat," ucap Baihaqi pelan sambil memegang tangan Rara seolah memberi kekuatan.


"Sakit Mas. Apakah rasanya melahirkan juga sesakit ini? Apakah aku sanggup?" tanya Rara yang mulai merasa menyerah dan tidak mampu.


"Rara, kamu pasti kuat. tarik napas dan buang perlahan. Begitu seterusnya, kamu coba berulang kali agar kamu tenang dan tidak merasakan sakit," ucap dokter kandungan itu pelan.


Rara mengangguk pasrah dan melakukan apa yang disarankan dokter kandungan itu sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Dokter kandungan itu mengedipkan satu matanya kepada Baihaqi. Ada hal yang sangat penting, yang harus dibicarakan dan dicari solusinya.


Kurang lebih setengah jam perjalanan menuju rumah sakit. Rara pun langsung di bawa ke ruang tidakan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan lebih intensif.


Dokter kandungan itu mengajak Baihaqi ke ruangannya dan membicarakan tentang keadaan Rara yang sebenarnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rara, dokter?" tanya Baihaqi dengan cemas. Apalagi dokter kandungan itu mengajaknya berbicara empt amata entu semakin membuat Baihaqi bingung dan panik, tentulah ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan.


"Sesuai dengan dugaanmu, Bai. Bidan itu telah menyuntikkan perangsang agar Rara cepat melahirkan. Tapi, heran saya, kandungan Rara itu baru memasuki usia enam bulan. Ada masalah apa antara Bidan desa itu dengan Rara?" tanya dokter kandungan itu yang tak lain teman Baihaqi semsa SMA dahulu.


"Panjang ceritanya. Lalu sekarang kita harus bagaimana? Tindakan yang baik disarankan untuk Rara, apa?" tanya Baihaqi pelan.


"Satu-satunya cara adalah dengan operasi sesar. Satu hal yang paling utama adalah, meyelamatkan nyawa bayinya. Kalau dilahirkan secara normal, yang pertama kondisi bayi itu belum sempurna," ucap dokter kandungan itu memberikan penjelasan.


"Siapa dia sebenarnya? Secemas itu kamu terhadap wanita itu? Atau jangan-jangan, bayi itu adalah anakmu juga?" tanya dokter kandungan itu kepada Baihaqi sambil terkekeh.


Baihaqi mencoba tersenyum. Namun senyumnya terlihat kecut dan tidak mau terlalu dicampuri urusan pribadinya.


"Siapa dia, lebih baik kamu tidak perlu tahu. Fokus saja kepada penyelamatan bayinya dan ibunya," ucap Baihaqi menitah dokter kandungan itu.


"Tidak sekarang Baihaqi, kecuali memang sudah terdesak baru kita tindak. Sebenarnya tunggu usia bayi itu paling tidak tujuh bulan, agar organ tubuhnya sudah terlihat utuh walaupun belum sempurna," ucap dokter kandungan itu.


"Apa tidak ada cara lain!! Jujur aku tidak tega mendengar rintihan Rara. Sangat menyiksa dan terdengar menyakitkan," tegas Bahaqi. Dirinya mulai kesal dan kecewa karena tidak bisa berbuat apa-apa. Semua harus menunggu waktu, menunggu keadaan dan kondisi yang tepat. Tapi ini semua berhubungan dengan nyawa.


"Semua ada aturannya Bia. Tidak bisa kita main ambil alih begitu saja. Jika terjadi apa-apa dan kita tidak melakukan tindakan sesuai SOP, maka kita yng kena teguran bahkan bisa-bisa di tuntut oleh keluarga pasien hingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap dokter kandungan itu.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin berbuat seperti itu. Semuanya kan takdir. Tapi, berusaha dan berikhtiar itu kan perlu, " tegas Baihaqi dengan lantang.


"Aku mengajakmu duduk disini untuk mencari solusi terbaik, bukan malah mencari musuh atau mencari perdebatan," ucap dokter kandungan itu dengan suara pelan.


"Tolong Rara, aku mohon. Lakukan yang terbaik," titah Baihaqi dengan lantang.


"Apapun resikonya? Kamu siap Bai? Atau seperti solusiku, kita tunggu hingga usia kandungannya cukup dan kita keluarkan bayinya. Kamu tahu, Bai, kenapa medis itu tidak mau gegabah, karena ini ada dua nyawa yang harus di selamatkan, bukan hanya ibunya saja yang sudah berjuang, tapi juga bayinya yang harus di perjuangkan," ucap dokter kandungan itu keras menjelaskan.


Dokter kandungan itu hanya ingin memberikan sedikit informasi dan penjelasan tentang semua ini. Kenapa, Rara seolah di abaikan dan tidk di urus dengan baik. Padahal semuanya itu ada aturan mainnya, ada SOPnya, ada tahapannya. Tidak semua itu bebas dilakukan sesuka hatinya, walaupun secara nurani tetap ada rasa tidak tega melihat pasien yang sedikit terbaikan.


"Aku cuma tidak tega melihat dan mendengar Rara seperti tersiksa. tapi, aku juga tidak mau melihat Rara dan bayinya tidak bisa di selamytkan. au bingung, aku dilema," lirih Baihaqi sabil memukul keplan tangannya di meja.


Hanya itu yang bisa mengobati rasa kesal dan kecewanya saat ini.


"Kalau begitu, kamu harus percayakan Rara dan bayinya kepada tim medis kami. Kami akan selalu memantau dan berusaha se-optimal mungkin demi kebaikan kedua jiwa tersebut," jelas dokter kandungan itu dengan pelan.


Baihaqi hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Baihaqi hanya mengiyakan semua yang di ungkapkan oleh doketr kandungan itu.


"Baiklah. Aku memang orang awam yang tidak tahu tentang medis, tapi setidaknya aku bisa menghargai semua keputusan terbaik tim medis, apalagi kamu temanku, tdak akan mungkin kamu mau menghilangkan nyawa seseorang dengan unsur kesengjaaan dan berakhir sia-sia," ucap Baihaqi pelan.


Dokter kandungan itu tertawa keras mendengar pengakuan Baihaqi yang sebenarnya sejak tadi cemas dan panik. namun, tidak mau mengakuinya.


"Aku pastikan, Rara ini seseorang yang spesial untukmu. Tidak perlu kamu jawab Bai, tapi aku sudah bisa merasakan," ucap Dokter kandungan itu dengan suara pelan sambil menahan ketawanya.


"Aku yang terlalu jujur atau aku yang terlalu bodoh? Sampai rahasia hati pun bisa kamu ketahui?" ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


__ADS_2