MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
83


__ADS_3

Itu yang terjadi hari ini. Rara hanya bisa menarik napas dalam. Sejak tadi siang ponselnya memang sengaja di matikan agar tidak ada yang mengganggu dirinya yang fokus menjalankan usahanya.


Kini, malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rara terus memegang ponselnya dan berharap cemas dengan keraguan di hatinya.


Niatnya ingin melupakan dan melepaskan Rafli. Tidak ada gunanya memepertahankan hubungan ini. Hubungan yang tidak akan pernah ada ujungnya karena Rafli memang telah memiliki istri dan keluarga. Tidak akan mungkin tiba-tiba memilih dirinya, memprioritaskan dirinya. Semua itu adalah sesuatu hal yang mustahil.


Terselip rasa rindu mendalam. Biasanya jam segini, mereka saling bertukar kabar hari ini. Tidak hanya bertukar kabar melalui pesan singkat saja, kadang-kadang Rafli menelepon Rara dan saling beratatap muka secara online untuk melihat ujud mereka masing-masing dan memastikan keadaan orang yang disayanginya itu memang dalam keadaan baik-baik saja.


'Semoga saja sudah pulang. Aku memang ingin menjauh dari keadaan ini. Keadaan yang malah membuatku terus terusan sakit dan kecewa. Bukan berarti aku menyerah dengan keadaan tapi memang aku tidak sanggup jika harus menyakiti perempuan lain yang seharusnya lebih berhak mendapatkan cinta dan sayangmu secara utuh,' batin Rara di dalam hatinya.


Rara menyalakan kembali ponselnya. Suara dering notifikasi terus menerus bersahutan. Jari jemarinya dengan lincah membuka beberapa aplikasi yang memberikan notifikasi.


Banyak pesan singkat dari Rafli dan tidak lama ponsel Rara aktif, rafli pun langsung menghubungi Rara.


Senyum Rara langsung terbit bahagia. Lelaki yang di rindukan ternyata masih mencari kabarnya. Sambunagn telepon itu pun langsung diangkat dengan cepat. Suara khas Rafli yang selalu mengganggu hatinya pun ingin terus di dengar Rara.


"Assalamualaikum, Ra ... Kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa seharian ponselmu tidak bisa di hubungi?" tanya Rafli dengan cepat dan bertubi-tubi saat sambungan itu telah tersambung.


Belum juga mengucap salam ataupun menjawab salam. Rentetan pertanyaan sudah membuat Rara ingin tertawa bahagia mendengar kekhawatiran Rafli kepada dirinya.


"Hahaha ...." gelak tawa Rara terdengar tak tertahankan sejak tadi.


Senyum Rafli pun terbit. Terdengar jelas suara cempreng Rara saat tertawa terdengar riang, itu tandnya Rara dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin saja tadi ponselnya kenapa hingga mati dan tidak bisa dihubungi. Rafli tetap berpikir positif tanpa meragukan Rara.

__ADS_1


"Kok malah tertawa. Apa ada yang lucu?" tanya Rafli dengan sangat polos.


"Ada yang lucu. Aku bisa pastikan, wajah Mas yang khawatir itu pasti sangat lucu," ucap Rara pelan masih terus terkekeh.


"Oh ... Jadi sengaja? Sengaja membuat Mas khawatir, cemas, panik, dan bingung memikirkan kabarmu? Oke kalau kamu memang sengaja berbuat itu kepada Mas. Mas tidak akan peduli lagi, tidak akan cemas lagi dan tidak akan memikirkan kamu lagi," ucap Rafli dengan nada pura-pura marah dan kesal.


"Eh ... Jangan marah dong Mas. Maaf Mas, aku tidak sengaja," ucap Rara lirih dengan nada penuh penyesalan. Ternyata Rara juga merindukan Rafli. Bahkan sangat rindu. Rindu perhatiannya, rindu tertaanya, rindu leluconnya, rindu cara merayunya yang tiba-tiba membuat jantung Rara lemas seketika dengan sikap super bucinnya.


"Yakin? Kamu tidak melakukan ini dengan sengaja? Lalu? Kenapa ponselmu mati sejak siang? Sejak kamu menutup telepon dari Mas tadi siang?" tanya Rafli mendesak kepada Rara.


Pertanyaan yang membuat Rara tidak bisa berkata-kata lagi dan tidak bisa menjawab dengan alasan lain. Rafli tahu persis kapan ponsel Rara mati. Tidak masuk akal kalau ponselnya kehabisan daya baterai atau tidak mungkin juga bila berkata kalau ponselnya lupa menyimpan, karena lupa mneyimpan tidak akan mungkin sampai mati, atau alasan lain? Tentu Rafli bisa membedakan mana alasan yang benar adanya dan alasan yang hanya di buat-buat oleh Rara untuk menghindari Rafli.


"Tidak Mas. Maaf, aku memang sengaja mematikan ponselnya. Aku masih kepikiran soal tadi pagi," lirih Rara dengan sanagt jujur.


"Cih .... Kenapa kamu tidak percaya dengan Mas? Kenapa harus kamu pikirkan masalah itu. Sudahlah, Bunda itu hanya sedang emosi saja, karena mengetahui hubungan ini," ucap Rafli menjelaskan.


"Sudah jangan bahas masalah ini. Intinya Mas sedang berusaha agar semua harapanmu dan mimpi kamu itu terwujud," ucap Rafli dengan tegas.


Rafli hanya ingin Rara percaya padanya, bahwa Rara tidak berusaha sendiri. Ada Rafli yang juga berusaha untuk kebersamaan mereka berdua dengan cara yang berbeda.


"Iya Mas. Tapi ..." ucapan Rara terhenti karena langsung di sela oleh Rafli.


"Sudah Sayang. Tidak ada tapi. Jangan bahas ini lagi, lebih baik kita bahas hal lain," jawab Rafli dengan sangat tegas.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Rara lirih.


"Ingat ya, jangan cuma iya iya saja. Jangan di ulangin lagi, membahas hal yang membuat kamu sakit dan kecewa. Mas tidak mau dengar lagi ya?" tegas rafli kepada Rara.


"Iya Mas. Aku akan ingat semua kata-kata Mas. Sudah malam Mas tidak pulang?" tanya Rara dengan suara lembut.


"Mas masih rindu sama kamu. Ini efek seharian tidak ada kabar dan ponsel kamu mati, membuat Mas cemas. Jangan ulangi lagi ya, Mas tidak suka," tegas Rafli kemudian dengan lembut menasehati.


"Iya Mas. Maafkan aku ya. Sebenarnya tidak seperti yang Mas pikirkan, hanya tadi aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran saja," ucap Rara pelan.


"Ada Mas yang selalu ada buat kamu. Mas rindu kamu. Mas rindu memeluk kamu kayak kemarin saat kamu disini. Pelukan kamu membuat Mas nyaman," ucap Rafli dengan jujur. Keintiman hubungan keduanya semakin mengeratkan satu sama lain. Ikatan batin mereka pun semakin terasa sekali kedekatannya.


"Aku pun rindu dengan Mas. Rindukan pelukan Mas yang terasa hangat. Rindu ...." ucapan Rara kembali di sela oleh Rafli dengan candaan dan gelak tawa.


"Rindu kecupan bibir Mas tentunya? Hayo ngaku?" tanya Rafli smbil tertawa dan tersenyum penuh kemenangan.


Rara hanya bisa terdiam mengiyakan itu semua. Kejadian demi kjadian yang terjadi saat pertemuan keduanya memang membuat candu.


"Ih ... Kok malah kecupan yang diingat?" kesal Rara berpura-pura.


"Yakin tidak rindu kecupan bibir dari Mas? Mas sayang sama kamu, Ra," ucap Rafli lembut.


"Rindu sih. Rindu banget malah. Pengen di ulang lagi," ucap Rara pelan dengan sangat jujur.

__ADS_1


Rafli tersenyum penuh kemenangan lagi untuk kesekian kalinya. Rasanya sangat bangga saat gadis kesayangannya itu mengakui semuanya dengan jujur.


"Mas ingin semua itu terulang lagi. Pertemuan pertama yang menginginkan adanya pertemuan kedua dan selanjutnya. Mas ingin hubungan ini terus berjalan baik, karena Mas juga tidak mau kehilangan kamu, Ra," ucap Rafli lembut mengungkapkan isi hatinya.


__ADS_2