MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
93


__ADS_3

Rara menggelengkan kepalanya dengan tegas. Rasanya semakin sesak dan perih. Ponselnya di letakkan di sebelahnya dan dibiarkan begitu saja.


"Rara!! Jawab Ra!!" teriak Rafli yang panik dan cemas pada keadaan Rara saat ini.


Wanita itu selalu seperti itu, bicara seolah tidak ada apa-apa, tapi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak apa-apanya seorang wanita selalu mengandung seribu misteri yang harus di pecahkan oleh pasangannya sendiri.


Tangisan Rara pecah kembali, suara sesegukan itu kembali terdengar sangat jelas oleh Rafli. Rafli hanya bisa diam dan bungkam percuma juga berteriak dengan keras dan terus-menerus kalau nyatanya Rara hanya mendiamkan saja dan mengabaikan Rafli.


Pedih, itu yang dirasakan oleh Rafli saat ini. Ingin memeluk wanita kesayangannya itu namun tidak bisa. Ingin membantu mendiamkan pun juga tidak bisa. Rafli berada di posisi sulit, posisi yang justru tidak nyaman dan malah menyakiti dirinya sendiri dan Rara sebagai wanita baru yang mencintai Rafli, begitu juga sebaliknya.


Rara mulai menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya. Ponselnya diambil lagi dan masih terlihat telepon itu masih tersambung dengan Rafli yang sejak tadi menunggu Rara. Lelaki itu tidak kuasa menahan kesakitannya mendengar wanita kesayangannya menitikkan air mata karena masalah ini.


"Mas ..." lirih Rara memanggil Rafli dengan suara sangat pelan.


"Iya Ra. Mas masih disini menunggu kamu," ucap Rafli pelan. Hatinya yang kacau bagai tersiram air sedingin es dan rasanya begitu nyes.


"Mas Rafli sudah makan?" tanya Rara pelan mencari tema baru untuk membuka pembicaraan.


"Belum Ra. Tidak nafsu makan, karena melihat kamu sedih," jawab Rafli lirih.


"Makanlah Mas. Nanti kamu sakit, Mas?" ucap Rara pelan.


"Mas mau makan, asal kamu cerita, kamu sebenarnya ada apa? Kenapa?" tanya Rafli pelan.


Terdengar tarikan napas yang di hirup dengan dalam oleh Rara.


"Aku tidak apa-apa Mas," jawab Rara pelan.


"Gak. Mas tidak percaya. Kalau kamu baik-baik saja, kamu tidak akan menangis Ra. Mas mengenal kamu itu sudah lama. Tidak satu hari ini saja, sudah hampir setahun Ra. Jadi, Mas itu tahu, manyunnya kamu, cara bicara kamu itu sedang ada masalah atau tidak," ucap Rafli pelan dengan penuh ketegasan.


"Aku tidak mau membahas masalah ini Mas. Ujung-ujungnya aku yang sakit hati, ku yang kecewa," ucap Rara pelan.


"Kita hadapi bersama Ra. Kamu mau kan? Berjuang bersama? Kuncinya sabar dan berjuang. Bukankah kamu selalu bilang sabar itu harus unlimited? Kenapa kamu sekarang seperti ini?" tanya Rafli dengan suara pelan memberi semangat.


"Tapi, posisiku sudah salah Mas?" ucap Rara mengiba.

__ADS_1


"Salah apa? Tidak ada yang salah karena ini juga keinginan Mas. Jadi, tolong berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Karena semua ini terjadi atas dasar keinginan kita berdua, maka kita harus berjuang bersama," ucap Rafli tegas.


"Aku tidak menyalahkan diriku sendiri!! Tapi, apa yang aku bicarakan ini fakta Mas?" ucap Rara semakin kesal.


Kenapa harus seprti ini. Kenapa Rafli tidak bisa mengerti sedikit tentang dirinya yang butuh perhatian. Kenapa rafli tidak peka dengan suasana hati Rara yang seharusnya Rafli bisa lebih bersikap manis.


"Sudah Ra. Cukup. Tolong, masalah ini jangan di perbesar. Mas tidak mau berdebat dengan kamu, karena Mas tidak ingin melihat kamu lebih sedih lagi," ucap Rafli tegas.


"Iya Mas. Aku paham. Tapi, bukan berarti aku harus bisa menyembunyikan kesedihanku ya?" ucap Rara lirih.


"Intiny Mas gak mau lihat kamu sedih. Mas mau lihat senyum kamu?" ucap Rafli pelan dengan nada memohon.


"Maaf, aku belum bisa menata hatiku untuk tersenyum. Mas Rafli makanlah, atau kerjalah. Biar Rara menenangkan hati dan pikiran," ucap Rara pelan.


"Gak. Mas gak akan matikan telepon ini. Mas ingin kamu. Mas ingin lihat sneyum kmau!" tegas Rafli sedikit mengeras.


Hati Rara terasa berdesir. Bangga rasanya bila di cintai, namun saat ini Rara mencintai orang yang salah. Kalaupun anugerah cinta bisa memilih? Tentu tidak ingin rasa cinta itu jatuh kepada lelaki yang sudah beristri dan memiliki anak. Semua ini terlanjur, semua ini takdir yang membuat Rara tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa mencari solusi lain.


"Mas ... Aku capek. Aku mau istirahat," lirih Rara yang suudah merebahkan tubuhnya.


"Tidurlah ... Istirahatlah kalau memang lelah. Biarkan sambungan telepon ini tetap tersambung dan Mas tetpa bisa mendengar suara dengkuranmu," ucap Rafli dengan polos.


"Apa? Mas kira tidurku mendengkur?" teriak Rara sambil tertawa seketika seolah melupakan apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Rafli memang sengaja membuat ucapan yang konyol agar Rara tertawa dan tersenyum seperti biasanya. Suasana hatinya kembali ceria dan bahagia. Melihat jawaban yang singkat dan ketus, mungkin saat ini wajahnya pun sedikit judes dan tidak enak di pandang.


"Bisa jadi? Dan hanya itu yang mungkin terjadi saat kamu tertidur Ra?" jawab Rafli sambil terkekeh.


"Aku tidak mendengkur Mas kalau sedang tidur," ucap Rara kesal.


"Mas mana tahu. belum pernah juga melihat kamu tertidur. Makanya Mas mau sesekali menemani kamu tidur? Boleh?" tanya Rafli pelan kepada Rara.


"Modus!! Pepet terus dengan pertanyaan ujung-ujungnya kayak begini?" jawab Rara pura-pura kesal dan marah.


"Cie ... Marah nih. Tapi setidaknya Mas sudah mendengar kamu tertawa tadi, dan itu membuat hati Mas sedikit tenang," ucap Rafli jujur.


Rara tersenyum lebar dari balik ponselnya. Rara tahu Rafli memang sedang menggodanya dan berusaha membuat dirinya tertawa lagi seperti hari-hari kemarin.

__ADS_1


"Gak ada marah dan gak marah sama sekali. Untuk apa marah? Tidak ada gunanya!!" kesal Rara.


"Beneran nih sudah gak marah?" tanya Rafli lmbut.


"Benar," jawab Rara singkt.


"Oke. Kamu kapan acara dengan kegiatanmu itu? Mas bisa cari waktu untuk menjemput kamu?" tanya Rafli pelan mengalihkan pembicaraannya.


"Minggu depan Mas. Mas bisa jemput aku?" tanya Rara pelan.


"Untuk kamu, pasti akan Mas usahakan. Jemput di hotelkan?" tanya Rafli pelan.


"Iya ... Di hotel," jawab Rara pelan.


"Kamu tidak mau melepas rindu dengan Mas?" tanya Rafli lembut.


"Melepas rindu? Baru satu bulan yang lalu kita ketemu lho, Mas?" ucap Rara pelan dengan nada suara yang sedikit bingung namun tampak bahagia.


"Mas itu rindu sama kamu. Mas itu serius sama kamu. Mas itu sayang sama kamu," ucap Rafli pelan.


"Simpan rasa sayang Mas untuk Bunda Fatarani karena beliau yang lebih berhak untuk itu," ucap Rara lirih.


"Sudah ada porsinya dan itu semua sama. Tidak ad yang beda karena Mas berusaha adil sejak sekarang. Mas sedang berusaha mencari cara unrtuk mendapatkan restu dari Bunda dan segera menikahi kamu," ucap Rafli pelan.


"Tapi, itu semua tidak mudah. Bahkan sampai hari ini saja, Bunda masih saja tidak bisa berkomunikasi baik dengan aku," ucap Rara pelan.


"Sabar ya sayang. Semua butuh sabar, dan Mas tidak tinggal diam. Mas ingin cepat-cepat bisa meminang kamu, kamu mau kan? Menikah dengan Mas?" tanya Rafli dengan suara lembut.


Tenggorokan Rara langsung terasa kering. Rasanya campur aduk mendengar pertanyaan yang tidak biasa lolos begitu saja dari bibir Rafli dan membuat lutut Rara pun terasa lemas seketika.


Setelah pertemuan yang ketiga itu, rasanya Rara meliha ada keanehan pada Mas rafli. Keanehan yang berujung hal yang positif. Sifat Rafli kini terlihat santai, lebih terasa sayang dan terkesan lebih pemerhati terhadap Rara.


"Mas butuh jawaban, bukan diam," ucap Rafli tegas.


Rafli ingin sekali Rara menjawab di saat memang Rafli pun mempertanyakan ini.

__ADS_1


__ADS_2