MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
38


__ADS_3

Rara menatap punggung Baihaqi hingga menghilang dari pandangannya. Satu bungkusan makanan berisi hamburger dan kentang goreng itu pun mulai di makan dengan nikmat.


Sambil membuka bungkusan hamburger, Rara menegakkan duduknya dan megedarka pandangannya menatap bangunan Masjid dan melihat aktivitas yang dilakukan di dalam Majid lewat kaca besar yang tembus pandang itu.


Terlihat Baihaqi yang sedang khusyuk melaksanakan ibadah sholat wajib. Rara begitu kagum dengan Baihaqi, yang jarang bahkan tidak pernah meinggalkan kewajibannya untuk sholat walaupun saat itu baihaqi sedang sibuk merawat dan mnejaga Rara.


Sambil menggigit hamburger itu dan mengunyah pelan, pandangan Rara tidak terlepas sedikit pun kepada Baihaqi yang sedang beribadah.


'Wajahmu begitu tenang dan cerah bersinar, Mas. Tidak sedikit pun aku melihatmu mengeluh dengan keadaan ini. Semua Mas jalani dnegan tenang dan santai, seolah semua itu hanya untuk dinikmati dan disyukuri,' batin Rara du dalam hatinya.


Lamunannya buyar saat satu tangan Baihaqi di kibaskan tepat di depan wajah Rara.


"Hei ... Ra? Kamu melamun? Melamunkan apa?" tanya Baihaqi pelan saat masuk ke dalam mobil dan duduk kembali di belakang setir mobilnya.


"Eh ... Tidak kok. Aku tidak melamun," jawab Rara yang terkejut. Baru saja tadi melihat Baihaqi masih sholat di dalam Masjid, tapi kini tiba-tiba lelaki itu sudah duduk di sampingnya lagi. Sungguh makhluk ajaib, batin Rara di dalam hatinya.


"Kalau tidak melamun, kamu tidak bakal kaget melihat aku masuk ke dalam. Lalu, yang kedua kertas bungkus hamburger itu tidak akan mungkin ikut termakan olehmu," ucap Baihaqi pelan sambil menunjuk ke arah hamburger Rara yang masih dimakan. Terlihat jelas kertas bungkus tipis yang menutup hamburger itu sudah termakan sedikit oleh Rara secara tidak sadar.


Rara menatap hamburger yang masih terbalut dengan kertas tipis di tangannya. Memang benar bekas gigitannya itu mengenai kertas pembungkus itu.


Rara terkekeh pelan, meratapi kebodohannya.


"Aku tidak melamun. Tapi, sedang fokus menatap sesuatu yang begitu penting untukku," ucap Rara pelan.


Baihaqi cukup kaget dengan ucapan Rara. Hal penting apa yang membuat Rara hingga fokus menatapnya.


"Apa itu? Ini hanya sebuah bangunan Masjid yang sepi dan hujan deras masih mengguyur. Lalu, hal apa yang menarik untuk kamu hingga kamu harus fokus menatapnya?" tanya Baihaqi pelan dengan rasa penasaran tapi tetap mencoba terlihat tenang.


"Rahasia ... Biar hanya aku, anakku dan Tuhan yang ttahu tentang hal ini," ucap Rara pelan. Lalu, menggigit kembali sisa hamburger yang masih ada di tangannya.

__ADS_1


"Oh, Jadi main rahasia ini?" tanya baihaqi pelan sambil membuka kotak rice bowlnya dan mulai menikamti makanan itu bersama Rara.


Malam itu memang terlihat sangat indah, dan tidak akan pernah lagi hingga kapanpun. Makan malam bersama di dalam mobil yang penuh kenangan. banyak pembicaraan yang mereka bicarakan dengan santai dan terbuka satu sama lain.


Hubungan yang sagat dekat dan hanya seagai Kakak dan adik saja, tidak lebih dan tidak kurang. Hubungan yang malah akan langgeng untuk selamanya dibandingka dengan hubungan cinta yang bisa terhenti di tengah jalan saat salah satunya sudah tidak lagi memiliki rasa.


"Bukan rahasia, lebih tepatnya ini misteri," ucap rara semakin tertawa lebar.


Hatinya juga sedang tidak baik-baik saja. Melihat senyum Baihaqi kini dirinya seperti tersihir untuk membalas senyuman itu dengan senyum yang juga tulus untuk Baihaqi.


"Misteri? Kamu bertemu siapa sih? Kok jadi curiga begini?" tanya Baihaqi yang semakin menatap kedua mata Rara dengan sangat lekat.


"Bukan siapa-siapa kok. Tidak ada pertemuan dan tidak bertemu dengan siapapun. Sejak tadi aku disini, Mas. Mana ada, aku keluar dari mobil?" ucap Rara membela diri.


Baihaqi mengunyah suapan terakhirnya sambil mengangguk. Jujur, Baihaqi penasaran dengan ucapan Rara.


Rara hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Yakin sekali. Yuk, jalan lagi," ucap Rara pelan mengalihkan pembicaraannya.


"Aku masih mau makan, Ra. Belum makan kentang goreng dan chicken filletnya," ucap Baihaqi sedikit merajuk.


"Ya ampun, Maafkan aku, Mas. Makanlah, ini?" ucap Rara sambil membukakan chicken fillet untuk Baihaqi dan kentang goreng ukuran large.


"Terima kasih, Ra," ucap Baihaqi sambil menerima makanan yang telah di buka oleh Rara.


"Terima kasih untuk apa? Kalau hanya untuk ini, tidak perlu berterima kasih," ucap Rara pelan sambil memperlihatkan makanan yang telah dibuka dari bungkusnya.


"Berterima kasih itu dari hal-hal yang kecil agar terbiasa diucapkan," ucap Baihaqi tersenyum.

__ADS_1


Rara hanya mengangguk pelan.


"Mas ...." panggil Rara pelan saat mulai menikmati kentang goreng hangat itu dengan cocolan saos sambal semakin membuat makanan itu terasa nikmat di cuaca dingin seperti saat ini.


"Iya? Ada apa?" jawab Baihaqi lembut sambil menikmati kentang goreng itu dan menyeruput hot capucinno miliknya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada Mas Bai," ucap Rara dengan suara pelan yang penuh keraguan.


Baihaqi pun mengangkat wajahny alalu emnoleh ke arah Rara dan menatap lekat kedua bola mata indah milik Rara. Wajah Rara seperti bingnung dan sedikit ada kecemasan.


"Apa? katakan saja, tidak perlu ragu atau bingung. Kalu aku bisa menjawab pasti akan au jawab," ucap baihaqi pelan.


"Mas Bai, aku lihat seperti tenang sekali menjalani kehidupan ini. Seperti tidak ada beban dala hidupmu?" tanya Rara pelan. Rara sangat hati-hati dalam bicara agar tidak menyinggung Baihaqi. Sebaik-baiknya seseorang dan selembut-lembutnya seseorang tentu akan ada masanya lelah an jenuh hingga sifat aslinya pun terlihat seperti apa.


"Pertanyaanmu ini sangat aneh sekali, Ra? Tidak ada pertanyaan lain, apa gitu?" tanya Baihaqi pealn.


"Apa Mas tidak mau berbagi agar aku bisa sepertimu? Menerima dan menjalani dengan santai?" tanya Rara pelan.


"Bukan begitu, Ra. Jujur dengan sholat aku menenangkan hatiku. Mungkin kamu perlu mencoba dengan datang ke tempat ibadahmu dan berdoa disana? Mungkin itu juga bisa membuatmu lebih baik lagi. Intinya dengan kita dekat pada Sang pencipta, semuanya akan baik-baik saja, karena kita berserah diri," ucap Baihaqi menyimpulkan dan menjelaskan arti tenang dalam hatinya selama ini.


"Aku jarang berdoa atau beribadah di tempat ibadahku. Selama ini hidupku terlalu bersenang-senang dan berfoya-foya, hingga aku lupa diri dan mendapat teguran yang terasa berat ini," ucap Rara pelan.


"Tidak ada kata terlambat, bukan? Semuanya masih bisa diperbaiki, masih ada waktu selama kita masih diberi hidu. Semiua akan terhenti dan tidak akan pernah kembali lagi jika kita sudah mati," ucap Baihaqi menjelaskan.


"Dosaku berat Mas?" tanya Rara lirih.


"Tuhanmu pasti memaafkanmu asal kamu berniat untuk memperbaiki diri dan merubah diri untuk tidak mengulanginya lagi," ucap Baihaqi dengan lembut dan tenang.


Baihaqi tidak ingin menyinggung perasaan Rara karena ucapannya yang bisa saja salah dan diterima dengan pendapat yang berbeda. Secara perbedaan prinsip keduanya bisa membuat tingkat kesensitifan lebih tinggi.

__ADS_1


__ADS_2