MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
62


__ADS_3

Pagi hari ini, sinar mentari sudah menyorot masuk kedalam kamar Rara dengan sinar yang paling hangat. Sejak malam, hordeng yang menutupi jendela kamarnya itu memang tidak di tutup rapat hingga Rara terbangun shubuh tadi untuk melaksanakan sholat shubuh.


Kini kedua matanya telah terbuka lebar dan menatap ke arah langit-langit kamar dan berpindah posisi berbaring ecara miring dan menatap jendela kamar hingga sinar mentari hangat itu mengenai wajah dan sebagian tubuhnya hingga terasa hangat.


Tangan mungilnya meraih ponsel yang ada di atas nakas dan membuka layar ponsel itu. Jari-jarinya secara otomatis membuka satu aplikasi bernyanyi yang beberapa bulan ini sudah menjadi candunya. Bukan untuk menyanyi atau bermain di dalam room bernyanyi tapi untuk membuka inbox dari Rafli yang sudah membuatnya nyaman beberapa pekan terakhir ini.


Seperti biasa sapaan pagi yang sangat manis sudah ada di dalam inboxnya. Dunia Rara seolah memang sedang berada di atas awan. Setiap pagi pasti selalu tersenyum manis dengan penuh rasa bahagia. Padahal isi chatnya sederhana dan biasa saja, tapi ini semua tetap dianggap Rara menjadi sesuatu yang luar biasa dan spesial.


Tidak lama ponselnya berbunyi, dan tertera nama Dyah disana.


'Tumben Dyah telepon? Ada apa ya?' batin Rara sambil menatap layar ponselnya untuk mengngkat sambungan telepon dari Dyah. Perasaan Rara tidak enak, seperti ada sesuatu hal yang sedang terjadi kepada Dyah, sahabatnya itu.


Jari Rara pun mengusap lembut tombol di layar ponselnya dan menyambungkan pada sambungan teleponnya kepada Dyah.


"Assalamualaikum, Iya, Dy? Ada apa? Tumben ini masih pagi lho? Biasanya masih repot sama urusan Cantika dan Mas Hendra?" tanya Rara bertubi-tubi tanpa ada rasa bersalah.


"Waalaikumsalam," jawab Dyah pelan. Suaranya terdenagrbergetar dan terasa sedih meyayat hati sambil sesegukan menangis.


"Dy? Kamu menangis? kenapa Dy?" tanya Rara cemas. Rara langsung bangkit dari tidurnya dan berdiri menuju jendela kamarnya yang tembus pandang langsung ke arh jalan raya.


Dyah hanya terdiam dan tetap meratapi kesedihannya di pagi ini.

__ADS_1


"Dy? Kamu kenapa? Kamu oke kan?" tanya Rara kembali yang mulai merasa khaatir dengan keadaan Dyah.


Tidak biasanya Dyah seperti ini. Belum pernah Dyah bersedih hingga menangis seperti ini. Bahkan waktu Cantika masuk rumah sakit saja, Dyah sangat tegar sekali. Tidak nampak sedikit pun raut sedih, cemas, khawatir dan bingung, karena tipe Dyah adalah wanita cuek padahal aslinya sangat perhatian sekali. Sikap dingin dan tomboynya tersekan ia adalah perempuan yang tidak puny hati, apdahal sebaliknya Dyah adalah wanita penyayang dan setia dengn sahabat. Apapun akan dilakukan untuk membela sahabatnya bila terbully atau terdzolimi.


"Ra ... kamu dimana?" tanya Dyah tiba-tiba dengan suara pelan dn sedikit serak.


"Aku di lembang Dy, tapi siang ini sudah balik lagi ke bogor kok," jawab Rara dengan polos dan sedikit cemas dengan keadaan Dyah.


Dyah itu wanita yang nekat. Kadang amarahnya sering di luar kendali, jika kita sebagai sahabat atau orang terdekatnya tidak bisa membantunya untuk meredam emosinya.


"Aku mau ke Bogor ya. Aku maunginep di rumah kamu, Ra. Besok aku cuti," ucap Dyah pelan.


Rara tahu, Dyah, sahabatnya sedang berada dalam masalah yang sangat besar. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin di ceritakan Dyah kepada Rara sebagai sahabatnya. selama ini Dyah jarang seki bercerita tentang kehidupan maslah pribadinya, bukan tidak pernah, karena memang rumah tangganya dengan Mas Hendra begitu sempurna hingga tidak ada maslah yang muncul sebagai ujian dalam perjalanan membangun rumah tangganya. Usia pernikahan Dyah mungkin sudah lima tahun lebih sedikit.


"Iya, Ra. Terima kasih, aku mau jalan sekarang," jawab Dyah lirih.


"Sekarang? Cantika?" tanya Rara dengan cepat menanyakan keadaan Cantika.


"Nanti kita bahas ya, Ra. Aku mau setir mobil dulu,"ucap Dyah pelan.


"Iya, Dy. Hati-hati ya," ucap Rara pelan.

__ADS_1


Ponsel itu sudah di putus sepihak oleh Dyah. Rara hanya bisa diam termenung. Baru saja bahagia membaca isi chat dari Rafli. Dan kini, mendapatkan kbar yang kurang mengenakkan dari Dyah. walaupun Dyah belum menceritakan masalahnya, tapi Rara sudah bisa membaca apa yang sedang diarasakan Dyah saat ini.


Rara bergegas mandi dan merapikan dirinya untuk bersiap bertugas kembali. Sarapan pgi sudah diantar ke kamarnya dan Rara mulai memakan makan paginya itu.


Mobil Rara sudah trparkir di depan villa tua di seberang hotel. Sudah sejam yang lalu, Rara check out dari hotel tersebut dan kini sedang menunggu keluarga yang telah menyewa jasanya untuk mengikuti acara family gathering. Sesuai jadal yang di berikan, mereka akn selesai jam sepuluh pagi ini dan dilanjutkan acara bebas.


Rara menunggu di sebuah coffe shop yang berasda di pelataran parkiran mobil. tempatnya tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk sekedar kongkow dan menikmati segelas kopi atau cokelat hangat sambil ditemani dengan cemilan ringan.


Sedikit demi sedikit kopi panas di dalam cangkir itu pun habis terminum. Sesekali Rara terlihat meniup kopi panas yang nikamt dengan aroma kopi menyengat membuat indera penciuman Rara semakin manja untuk teus mencicipi kenikmatan kopi hitam khas lembang itu.


"Rara!!" panggil seseorang yang tiba-tiba datang dari arah samping dimana Rara duduk.


Rara pun menoleh ke arah asal suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya, anmun sedikit lupa siapa pemilik suara itu.


"Cantas?" lirih Rara dengan kedua bibir yang mengeja nama Cantas, namun tidak mengeluarkan suara. Rara tidak percaya dengan pertemuan yang tidak sengaja ini. semuanya seperti mimpi, tapi memang nyata terjadi.


Cantas menghampiri Rara yang duuk sendiri di meja yang mengahdap jalan besar itu. tanpa malu-malu dan tanpa ada rasa berdosa, Cantas pun duduk di depan Rara yang masih memegang cangkir kopi panas itu.


Degub jantung Rara berdetak dengan kerasa. Jujur saja, Rara sangat bingung harsu bersikap seperti apa.


Rasa bencinya sudah berangsur menghilang selama hampir tiga tahun ini. Rara mencoba untuk tidak dendam kepada cantas. tapi, untuk kembali berkomunikasi atau sekedar menyapa saja, Rara sudah malas. Rara sudah tidak ingin banyak basa-basi yang malah akan merugikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hei, Kok lihat aku kayak gitu?" tanya Cantas pelan yang berpura-pura seolah tidak pernah ada masalah diatara mereka berdua.


Rara hanya menatap lekat ke arah Cantas dan meletakkan cangkir kopi itu di meja. Tubuhnya yang tegak lurus pun kini mulai bersandar pada sandaran kursi besi dan mencari posisi nyaman. Kedua matanya terus menatap wajah Cantas yang terlihat sedikit brewokan dan kurang rapi.


__ADS_2