MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
79


__ADS_3

Rara masih berdiam diri di dalam kamarnya. Hari ini benar-benar hari yang sial bagi dirinya. Mencintai Suami orang yang tidak pernah berharap untuk memiliki, namun tetap saja di tuduh sebagai perempuan perusak rumah tangga.


Suara Bunda Fatarani masih terngiang jelas di telinganya. Suara dengan nada tegas dan penuh amarah. Bunda Fatarani tidak pernah terima pengkhianatan yang dilakukan oleh Rafli, Suaminya dengan Rara yang dianggap sebagai perempuan perusak rumah tangganya.


Selama ini, sejak kehadiran Rara yang masuk ke dalam kehidupan Rafli, seolah membuat hubungan Rafli dan Bunda Fatarani semakin tidak baik.


Kejadian pagi tadi benar-benar tidak disangka-sangka akan terjadi dan berakhir dengan ketegangan dan kecemasan.


Pagi-pagi buta, ponsel Rara berbunyi dengan sangat nyaring. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Rara baru saja menyelesaikan membuat sarapan pagi untuk dirinya sendiri dan Abuya, anak semata wayangnya.


Satu nomor yang sangat familiar dan sangat dikenal baik oleh Rara. Hanya saja satu kejanggalan membuat Rara bertanya-tanya di dalam hatinya.


'Tumben sekali Mas rafli meneleponku sepagi ini? Ada apa ya? Atau mungkin ada sesuatu yang sangat penting, hingga harus menghubungi Rara sepagi itu,' batin Rara di dalam hatinya.


Ponsel itu kemudian diangkat dan di geser tombol hijaunya agar hubungan komunikasi dengan nomor yang meneleponnya bisa berjalan baik dan lancar.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Mbak Rara?" sapa seorang wanita dari sambungan telepon di seberang. Suara wanita itu tentu Bunda Fatarani. Siapa lagi, wanita yang berani memegang ponsel orang lain dan dengan mudahnya mengakses hingga menelepon salah satu nomor kontak yang ada di ponsel milik Rafli.


Bibir Rara menganga karena terkejut dengan suara bernada tinggi dan tegas itu, walaupun hanya menyapa.


"Waalaikumsalam, Iya saya Rara," jawab Rara pelan dengan sopan. Perasaan Rara jadi tidak menentu, ada kecemasan dan kekhaatiran tersendiri yang terasa mengganjal.


"Mbak Rara ... Saya Fatarani, Istri Rafli. Saya tidak mau banyak bicara, tolong jauhi Rafli, Suami saya. Kalau Mbak Rara masih punya hati dan rasa menghargai saya, sebagai perempuan dan sebagai Istri sah dari Rafli," tegas Fatarani tanpa banyak basa-basi.


Rara cukup terhenyak mendengar permintaan Bunda Fatarani untuk menjauhi dan meninggalkan Rafli, Suaminya.


"Tidak baik, seorang perempuan berteman baik atau saling meminta dukungan dengan lelaki yang telah beristri dan memiliki keluarga kecil. Semua itu hanya kepalsuan, lagi pula Rafli, Suamiku juga tidak mungkin menyukaimu, mbak Rara," tegas Fatarani semakin berapi-api.


Jawaban Rara semakin membuat Fatarani tersulut emosi dan kemarahannya.


"Tapi, memang kita hanya berteman baik. Mungkin kalau kita sama-sama sayang, itu karena hubungan kita sudah lama," jawab Rara yang tidak mau kalah.

__ADS_1


Rara sudah terlanjur nyaman dengan hubungan ini. Tidak mungkin Rara melepaskan Rafli begitu saja. Seseorang yang telah banyak membuat diri Rara lebih mengerti arti hidup yang sebenarnya. Rasa cinta itu memang hadir begitu saja dala hati Rara dan diikuti perasaan sayang yang begitu tulus. Tapi, Rara masih mawas diri, untuk tidak berharap banyak bisa memiliki lelaki yang sangat di cintainya itu karena lelaki itu memang sudah memiliki keluarga kecil yang bajhagia. Rara juga tidak ingin hadir di tengah-tengah kelurga itu sebagai perusak rumah tangga. bahkan Rara hanya ingin menjadi teman baik, sahabat ataupun saudara bagi Rafli ataupun Bunda Fatarani.


"Aku tidak yakin dengan semua ucapanmu wanita penggoda!! Hubungan lawan jenis, walaupun di awali dengan [ertemanan, pershabatan, semua itu ujung-ujungnya pakai hati, lalu berharap lebih!! Cari saja lelaki yang masih single untuk kamu cintai, bukan malah tetap bertahan dengan lelaki yang sudah memiliki istri!! Seharusnya kamu paham Mbak Rara!! Kita sama- sama seorang perempuan!! Bagaimana jika kamu ada di posisi saya saat ini!! Tentu kecewa!! Sakit hati!! Bukankah seperti itu!! Sekarang jaab dengan jujur!! Apa kamu mencintai Rafli, Suamiku!!" teriak Bunda Fatarani semakin keras dan kesal.


Emosi Bunda Fatarani semakin meledak. Merasa apa yang diminta tidak di hargai sama sekali oleh Rara. Malahan Rara menganggap semua yang terjadi dan hubungan ini adalah wajar.


Rafli yang sejak tadi duduk di sebelah Bunda Fatarami pun tidak bisa berkutik. Semuanya sudah terbongkar dan Rfali tidak bisa mengelak lagi tentang hubungannya bersama Rara. Rafli pasrah jujur mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Bunda Fatarani. Kejujuran yang menghancurkan dan semakin membuat Bunda Fatarani semakin tersakiti dan tersiksa batinnya.


Tdak ada yang salah pada hubungan ini. Cinta yang datang itu memnag sebuah anugeah terlebih cinta yang tulus yang diberikan oleh Rara kepada Rafli yang tanpa pamrih. Tidak sedikit pun Rara berharap lebih tentang hubungannya ini besama Rafli.


"Baiklah aku akan jujur dengan perasaanku sendiri. Aku memang mencintai Mas Rafli, Suami Bunda. Tapi ..." ucapan Rara yang belum selesai itu lang di sela oleh Bunda Fatarani yang semakin geram setelah mendengar kejujuran Rara yang mencintai rafli, Suaminya itu.


"Jadi benar semua yang terjadi!! Perasaan seorang wanita, perasaaan seorang istri yang telah di khianati itu tidak bisa di bohongi. Feeling seorang istri itu selalu tepat dan tidak pernah salah, Di saat ada pengkhioatan yang dilakukan suaminya dnegan anita lain di luaran sana. Dan kamu, Saya anggap tidak memiliki harga diri!! Wanita rendah dan murah yang mau merendahkan diri sendiri demi lelaki yang sudah memiliki istri!! Sampai kapan pun Rafli, Sumi saya akan tetap menjadi milik saya bukan milik kamu!! Paham!! Tolong camkan kata-kata saya ini!! Jangan pernah berharap lebih kepada suami saya!! Bisa jadi dia hanya ingin mempermainkan kamu saja, Mbak Rara. Ingat kita sama-sama perempuan. Kalau saya sakit hati maka kamu juga akan lebih merasakan sakit hati. Jadi sebelum semuanya terlanjur maka tinggalkan Rafli, Suami saya!!" teriak Bunda Fatarani yang semakin terdengar frustasi.


Sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa dan harus bagaimana lagi bicara baik-baik dengan Rafli, Suaminya dan Rara sebagian teman dekat Suaminya itu. Hubungan keduanya benar-benar sudah membuat Bunda Fatarani semakin kesal sendiri.

__ADS_1


"Tapi saa hanya mencintai Mas Rafli, Bunda, tidak lebih. Dan saya tidak pernah berharap cinta ini terbalsaka atau pun bisa saya miliki. Kalau saya memang menginginkan itu, mungkin sejak awal sudah saya lakukan dengan cara-cara kotor untuk bisa mendapatkan Mas Rafli. Tapi, semua itu tidak pernah saya lakukan, karena memang hubungan ini hanya bisa saya jaga untuk menyambung silaturahmi saja," jawab Rara dengan tegas namun terdengar melemah.


__ADS_2