MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
94


__ADS_3

Pertemuan yang baru saja mereka lalui kemarin merupakan pertemuan yang memberikan kenangan tersendiri. Pertemuan yang membuat mereka semakin dekat hubungannya secara batin dan emosional.


Rara baru saja sampai di kota Bogor setelah melakukan perjalanan yag cukup melelahkan menggunakan angkutan umum. Rara lebih memilih menggunakan angkutan umum dibandingkan harus menyetir sendiri karena takut kelelahan hingga megakibatkan kurangnya konsentrasi dalam menyetir.


Di sepanjang perjalanan Rafli pun terus memantau Rara dan tetap menghubungi Rara dalam sambungan video call, untuk memastikan perempuan yang di cintainya itu baik-baik saja.


"Kmau sudah sampai rumah Ra?" tanya Rafli pelan saat Rara menerima panggilan video call dari Rafli sesaat Rara sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur.


Tubuhnya sudah terasa letih dan lelah seteah perjalanan yang cukup lama, di tambah aktivitas yang hanya duduk saja selama berada di tempat kerja Rafli sambil menunggu lelaki itu bekerja.


Mereka berdua hanya bisa berbincang saat Rafli sedang tidak berbincang dengan konsumennya.


"Sudah. Aku sudah siap mau tidur. BArusan melihat Abuya juga sudah terlelap, mungkin besok akan aku berikan oleh-oleh yang Mas rafli titipkan untuk Abuya," ucap Rara pelan sambil menarik selimutnya hingga menutupi peutnya.


Terlihat sekali wajah lelahnya yang tersirat dai kedua matanya yang mulai sayu dan mulai terasa mengantuk.


"Sudah mau istirahat? Biar teleponnya Mas tutup dan istirahatlah," ucap Rafli pelan sambil tersenyum menatap wajah Rara yang semakin terlihat cantik dan menampakkan aura yang berbeda.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku memang lelah, tapi aku masih ingin mengobrol dengan Mas. Itupun jika Mas tidak keberatan aku temani sampai akan pulang nanti?" tanya Rara kembali pelan.


Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan rindu dan tidak ingin berpisah lama dan tidak ingin berjauhan.

__ADS_1


Kenangan indah yang tidak terlupakan bagi Rara dan juga bagi Rafli. Kejadian yang begitu cepat, di saat kesempatan yang emmungkinkan untuk melakukan hal itu dengan sangat singkat.


"Ya, temanilah. Mas sangat tidak keberatan kamu temani, bahkan Mas akan senang sekali ada kamu yang menemani. Ra ... terima kasih ciuamnnya tadi. Bibirmu sangat lembut sekali. Maafkan MAs yang lancang tanpa meminta ijin untuk menciummu," lirih Rafli. Hatinya tadi siang begitu menggebu-gebu saat melihat Rara yang terlihat cantik.


Saat Rara datang dan menyalami lelaki itu dengan sangat sopan dan mencium punggung tangan itu. Rafli pun tak kuasa menahan batinnya yang sudah rindu dengan menarik lengan Rara dan memeluk wanita yang di cintainya itu dengan sangat erat.


Kepala Rafli dengan tenang di letakkan di pundak Rara sambil kedua tangan itu memeluk erat.


Rara tersenyum manis sambil menatap Rafli yang juga sedang menatap kedua mata Rara. Tidak ada kepura-puraan dan tidak ada kebohongan, semuanya hanya ada rasa bahagia dan binar sinar kebahagiaa yang terpancar dari kedua mata mereka.


Sudah beberapa kali ini, Rara selalu menyempatkan datang atau bertemu Rafli saat Rara sedang berada di JAkarta untuk suatu urusan tertentu.


"Tidak ap-apa Mas. Aku suka, dan aku toidak keberatan. Aku pun tidak menyesali kejadian itu," ucap Rara pelan menjelaskan.


Sudah tidak ada lagi rasa sungkan atau malu. Bagi Rafli sudah saatnya tidak menutupi suatu kekurangan untuk saling mengenal lebih dalam lagi satu sama lain. Ciuman tadi siang bisa dibilang sebagai bukti rasa sayang bukan hanya nafsu sesaat karena rindu tapi lebih ke rasa ingin mengungkapkan perasaan sayang dan cinta dari lubuk hati yang paling dalam.


Ungkapan rasa sayang yang kemudian di implementasikan saat keduanya sudah saling berhadapan, namun tidak bisa mengucap satu patah kata pun hingga bahasa cinta itu berubah menjadi bahasa tubuh yang lebih intim.


Mendengar permintaan Rafli yang semakin berani itu, membuat hati Rara sedikit berdenyut dan berdesir. Rara mengangguk pelan. Sentuhan dan ciuman tadi membuat keduanya candu dan menginginkan lebih.


"Boleh Mas. Jujur, aku suka dan sangat suka sekali.," ucap Rarapelan agak ragu menjawab itu. Sebenarnya malu mengungkap isi hatinya dan kesukaannya bila di sentuh dan di cium oleh Rafli.


Tapi bahasa tubuh keduanya tadi siang terlihat jelas, keduanya menginginkan sesuatu yang lebih lagi.

__ADS_1


"Terima kasih sayang. Sampai kapan pun Mas pun akan sangat sayang kepadamu, dan semuanyatidak akan pernah berubah. Kamu yang sabar ya? Mas juga sedang berjuang untuk hubungan kita. Mas tidak hanya diam saja, tapi juga cari cara terbaik dan solusi terbaik lewat doa," ucap Rafli pelan.


"Iya Mas. Terima kasih sudah mau memperjuangkna aku," lirih Rara berucap.


Rara sungguh sennag sekali. Walauapun tidak bisa memiliki Rafli secara utuh dan hanya akan dijadikan yang kedua sesuai kesepakatan mereka. Merka berdua berusaha untuk tidak saling menyakiti dan tidak saling mengecewakan.


"Mas sambil beres-beres dan siap-siap untuk pulang. Mas sudah tidak cemas lagi, karena sudah melihat kamu ada di urmah dengan selamat. Jujur, hati Mas sangat cemas dan khawatir tadi, apalagi ponselmu sempat tidak bisa di hubungi karena baterai ponselmu habis," ucap Rafli polos.


Tadi memang Rafli sempat kacau pikirannya saat tidak bisa menghubungi Rara. Beberapa kali ponsel wanita itu tidak dapat di hubungi, sambungan telepon pun langsung tertolak dan tidak bisa menghubungi.


"Maaf ya Mas. Bateraiku memang lemah makanya aku matikan biar cukup sampai di rumah. Takutnya aku tidak bisa memesan ojek online sesampai di kota Bogor malah akan menyusahkan aku untuk sampai di rumah," ucap Rara pelan memberikan alasan.


"Iya, Mas paham. Eh ... Kenapa kita belum mulai panggilan Mamah dan Papahnya?" tanya Rafli tiba-tiba mengingat permintaan Rara tadi siang yang menginginkan memiliki panggilan khusus antara Rafli dan Rara agar keduanya merasakan lebih dekat lagi.


Sontak Rara pun tertawa keras mengingat ucapannya tadi yang masih di ingat oleh Rafli.


"Mas kok masih ingat sih? Kirain sudah lupa?" tawa Rara masih terdengar terkekeh.


"Semua tentang kamu pasti akan selalu Mas ingat. Apalagi tentang ******* tadi siang,' ucap Rafli yang ikut terkekeh pelan mengingatkan kejadian siang tadi yang tidak akan pernah terlupakan.


"Arghhh ... Mas Rafli ... Aku malu," ucap Rara pelan sambil menutup sebagian wajahnya dengan satu telapak tanganny.


Siang tadi saat Rafli mencium bibir Rara dan ******* dnegan lembut, dengan naluri pun permainan lidah di bibir itu pun terjadi hingga satu tangan Rafli pun dengan naluri kelakiannya pun mulai nakal menyusuri tubuh Rara di balik kemeja Rara hingga menyentuh bagian-bagian intim pada bagian atas. Sontak Rara terkejut dengan keberanian Rafli dan mendiamkan lelaki itu tetap dengan pencarian kenikmatannya.

__ADS_1


Tak terasa Rara pun meleguh nikmat karena rasa ciuman dan sentuhan itu yang semakin mendalam dirasakan hingga terasa nikmat untuk dinikmati.


__ADS_2