
Rumah Bambu, adalah rumah kesayangan Baihaqi, rumah itu di desain dan di buat sesuai dengan keingan mendiang istrinya, Fatima yang belum sempat merasakan tinggal di rumah baru yang tlah di persiapkan Baihaqi secara khuus untuk istri kesayangannya itu.
Fatima, meninggal setelah berjihad melahirkan Fatih, anak bungsunya. Nyawanya tidak tertolong karena pendarahan yang luar biasa hingga menghilangkn nyawanya setelah bayi mereka lahir.
Baihaqi begitu terpuruk saat itu. Baihaqi tidak ada di samping Fatima saat Fatima melahirkan. Saat itu Baihaqi harus mendatangi salah satu tempat majelis taklim untuk berceramah. Penyesalan Baihaqi hingga kini yang tidak pernah bisa di maafkan oleh dirinya sendiri. Mungkin akan berbeda critanya bila saat itu Baihaqi ada di dekat Fatima.nyawa Fatima pasti akan tertolong, tapi itulah takdir.
Baihaqi melamun dalam kondisi menyetir. Hatinya pedih mengingat keadian beberapa tahun lalu. Baihaqi tersadar dan melirik ke arah Rara yang masih tertidur pulas. Baihaqi sangat tahu persis, bagaimana perasaan seorang wanita hamil yang ingin berada di dekat keluarganya saat melahirkan. Ada banyak hal, selain untuk mengusnya dan merawt bayinya. Mereka butuh motivasi untuk menguatkan hati mereka.
Emak Warti sudah membereskan Rumah bambu yang minimalis dan sederhana itu. Beberapa masakan sudah tersaji di atas meja makan yang juga berasal dari furniture bambu. Kamar tidur untuk Rara juga sudah dibersihakn lengkap dengan box bayi berukuran minimalis yang terbuat dari bahan bambu juga.
"Assalamualaikum," ucap baihaqi dari arah luar Rumah Bambu itu.
"Waallaikumsalam," jawab Emak Warti sambil berlari ke arah depan rumah dengan tergopoh-gopoh.
Pintu rumah bambu sudah terbuka. Baihaqi berdiri di depan berdampingan dengan Rara yang cantik dan perut yang membuncit. Emak Warti tersenyum lebar. Ia sudah tahu tentang kondisi Rara dari Baihaqi. bahkan Emak Warti yang menyarankan Baihaqi untuk membawa Rara ke rumah bambu, bila memang Baihaqi akan menjalani hubungan yang lebih serius dengan Rara. Rara pun membalas senyuman itu dengan keramahan.
"Ini rumahnya?" tanya Rara pelan sambil mengedarkan pandangannya denagn rasa takjub dan kagum.
Baihaqi pun ikut menatap ke arah rumah bambu itu dan mengangguk pelan. Ada cerita dibalik sederhananya rumah bambu ini. Kerja kerasnya hingga rumah bambu unik ini terwujud yang akan di persembahkan untuk Fatima.
"Kamu suka?" tanya Baihaqi kembali sambil memeberikan koperbesar kepada Emak Warti untuk di bawa ke kamar Rara.
__ADS_1
"Suka banget. Ini benar-benar alami banget, dan lihat pemandangannya sangat sejuk," ucap Rara dengan rasa bahagia dan memutarkan tubuhnya sambil menghirup udara sejak kota Bogor.
"Syukurlah kalau kamu suka. Itu tadi Emak Warti, kamu bisa minta tolong apapun kepadanya. tidak perlu sungkan dan ragu, apalagi kalau berhubungan dengan kandunganmu. Aku akan ada disana, aku apsti terus memantau keadaanmu, Ra?" ucap Baihaqi pelan menjelaskan sambil menunjuk ke arah Pondok Pesantren yang ada di depann rumah bambu itu.
Di balik Pondok Pesantren milik Baihaqi, ada bangunan utama seperti joglo tempat tinggal Baihaqi selama ini.
"Ini benar rumahmu, Mas?" tanya Rara dengan suara pelan. Satu tangan Rara menyentuh bambu-bambu yang tersusun rapi dengan pernis hingga terlihat mengkilat.
"Kamu pikir aku berbohong?" tanya baihaqi menggoda. Keduanya masuk ke dalam rumah bambu itu dan berjalan menuju satu ruangan ke ruangan yang lain untuk sekedar meliha dan menghapal.
"BUkan tidak percaya. tapi, ini luar biasa keren, seperti vila di puncak," ucap Rara pelan dengan polos.
"Bukankahh ini sama saja, ini juga di Puncak Bogor, lihat gunung salak itu tampak dekat bukan?" ucapBaihaqi mbil menunjuk ke arah samping melalu jendela besar yang menghubungkan dengan dunia luar untuk melihat pemandangan persawahan. Rara hanya tersenyum lebar dan mengangguk pelan.
"TIdak masalah, itu yang aku harapkan. Aku betah, kamu nyamna, dan kamu akan aman," ucap Baihaqi dengan mantap.
"Pak Ustad, makanan sudah siap di meja. Takut dingin, nanti mengurangi kenikmatannya," ucap Emak Warti pelan mempersilahkan majikannya itu untuk segera makan siang yang sudah menjelang senja itu.
Rara berjalan di belakang Bihaqi memasuki ruang makan yang terlihat mungil, namun apik dalam menata. Ruangan itu tanpa pintu penutup dan bisa memandang bebas ke arah sawah-sawah yang mengelilingi rumah itu.
"Wah, Seru banget. Bisa betah duduk disini sambil menulis cerpen atau novel yang sudah menjadi hobbyku," ucap Rara tersenyum merekah. Wajahnya tampak bersinar karena hatinya benar-benar bahagia dan senang.
__ADS_1
"Lakukan sesukamu, dimana kamu ingin duduk dan menikmati hari-harimu. aku akan datang sesekali saja, untuk melihat keadaanmu karena aku juga memiliki kesibukan lain, yang paling penting aku tidak akan menganggumu," ucap baihaqi pelan.
"Tapi, bukankah besok pagi, Mas mau antar aku ke kampung halamanku?" tanya Rara denagn ragu.
Baihaiqi mengangguk pelan.
"Itu janjiku, untuk mnegantarkanmu ke kampung halaman, akan aku pastikan kamu baik-baik saja sampai di rumah orang tuamu. Apa kamu akan lama? Atau aku menunggumu hingga kamu bosan disana?" tanya Baihaqi mengambil piring dan memasukkan nasi putih ke dalam piring makan untuk Rara.
Rara menerima piring itu.
"Terima kasih. Masa sih, di rumah orang tuaku sendiri bosan? Mas cukup antar aku saja, atau menginap sehari di rumah boleh. Biarkan aku disana dulu, kalau sudah melahirkan mungkin aku akan kemabli atau mungkin aku menetap disana," ucap Rara dengan penuh keyakinan. Rara mengambil saur aem lengkap dnegan tepe goreng dan bakwan udang serta bakwan jagung kesukaanya.
"Kamu yakin seklai dnegan ucapanmu? Tapi, aku suka dengan keyakinan harapanmu itu, tandanya aku mempunyai semangat hidup yang sangat besar," ucap baihaqi yang sudah mengumpulkan lauk pauk di piringnya. Kini Baihaqi mulai mnikamti makn sian menjelang sore itu ditemani angin sepoi dari sawah dan langit seja yang mulai menampakkan kemerahan.
"Kan Mas Bai yang menyuruhkan untuk tetao optimis dan move on. Melupakan semua yang telah lalu dan tetap bertahan serta memikirkan anak yang akan aku lahirkan ini. Dia penguatku saat ini," ucap Rara pelan dan mengusap lembut perutnya.
"Jaga dia, sayangi anakmu, cintai dia. Dia tidak berdosa, jangan sekali-kali kamu marah dan mengungkit keburukan Ayah anakmu karena selamanya kamu akan membenci anakmu sendiri," ucap Baihaqi menasehati.
Rara mengangguk pelan.
"Terima Kasih atas semuanya. Semua bantuanmu begitu berharga hingga aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya," ucap Rara pelan sambil mengunyah makanan itu.
__ADS_1
"Simpan terima kasihmu. Aku melakukannya dengan tulus, tanpa pamrih," ucap Baihaqi pelan.
Tidak lama Emak Warti pun kembali ke meja dengan membawa segelas susu putih hangat untuk Rara. Susu khusus untuk Ibu Hamil.