MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
40


__ADS_3

"Tadi, Mas bilang apa?" tanya Rara pelan.


"Ekhm tidak bilang apa-apa. Hanya menggumam saja," jawab Baihaqi pelan.


"Gimana Mas?" tanya Rara menyakinkan Baihaqi yang masih fokus dengan setir mobilnya.


"Gimana apanya?" tanya Baihaqi pelan.


"Itu, aku ingin tenang dengan hijrah," jawab Rara dengan malu-malu.


"Kamu sudah yakin? Kmau sudah mantap?" tanya Baihaqi meyakinkan Rara.


Rara mengangguk pelan dan menatap lekat ke arah Baihaqi.


"Ra, Bukan aku tidak mau. Aku bahkan sangat senang sekali. Tapi, aku tidak mau ini semua hanya kamu lakukan seolah-olah untuk menghindari sesuatu hal atau kamu hanya ingin sesuatu hal yang menurut kamu bisa menutupi dirimu sendiri," jelas Baihaqi pelan.


"Oh tidak Mas. Aku beneran mau menjadi lebih baik. Aku ingin meninggalkan masa lalu aku dan semuanya. Kamu ragu, Mas? Apa seburuk itu aku, hingga kamu saja tidak lagi bisa percaya padaku," ucap Rara dengan lirih.


"Maafkan aku, Ra. Bukan maksud aku untuk tidak percaya dengan kamu. Memang hidayah dan inayah itu bisa datang kepada siapa saja dan pada waktu yang tidak di duga-duga. Mungkin doa-doa ku langsung di jabah oleh Allah SWT. Aku memang menginginkanmu untuk bisa berpindah keyakinan, dan menjadi manusia baru dan menjadi manusia yang lebih baik lagi," ucap Baihaqi pelan.


Rara tersenyum dan mengangguk pelan.


"Dan mungkin salah satunya kepadaku," ucap Rara pelan.


"Aamiin ya rabb," jawab Bahaqi mengaminkan.


Perjalanan menuju Bogor terasa cepat. Rara dan Baihaqi sudah mulai akrab dan bisa berbicara secara terbuka satu sama lain. Mungkin karena hubungan mereka lebih kepada hubungan kakak adik, jadi kedunya lebih bebas saling mengungkapkan dan mencurahkan isi hatinya serta segala pikiran dan permasalahannya.


Mobil yang ditumpangi Baihaqi dan Rara sudah memasuki kota Bogor. Waktu perjalanan selama kurang lebih enam jam itu terasa sangat singkat. Keduanya lebih menghabiskan untuk mengobrol, terutama Rara yang merasa ada lawan bicara yang bisa memberikan saran dan nasihat baik untuk dirinya.


"Mau langsung ke rumah bambu? Atau ke rumah utama dulu. Emak Warti pasti ada di rumah utama bersama anak-anak. Saran aku, lebih baik mengina dulu di rumah utama dan besok pagi baru kembali ke rumah bambu," ucap Baihaqi memebrikan saran yang baik.


Beberapa hari meninggalkan rumah bambu tentu harus perlu dibersihkan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya sudah, aku menginap di rumah utama dulu. Beneran tidak apa-apa? Secara aku wanita hamil, takut ada fitnah, Mas?" tanya Rara pelan.


"Tenang saja. Kalau di suruh menikahi pun, akan aku lakukan. Semua aku lakukan demi kamu, Ra, adikku tersayang," ucap Baihaqi sambil terkekeh.


Keduanya bsaling melempar senyum dengan kekonyolan mereka sendiri.


"Itu maunya kamu, Mas!!' jawab Rara pura-pura ketus.


"Memangnya kamu tidak mau punya calon suami sekeren dan setampan aku?" goda Baihaqi kemudia hingga membuat Rara menjadi salah tingkah.


"Memang tidak mau. Mencari suami jangan yang keren, susah mengikuti gaya hidupnya, dan mencari suami itu jangan yang tampan, karena sudah terlalu sering di sakiti oleh yang tampan," jelas Rara.


"Sepertinya sedang curhat," jawab Baihaqi sambil melebarkan senyumnya dan tetap fokus pada setir mobilnya.


"Lebih tepatnya seperti itu," ucap Rara singkat.


"Jangan seperti itu, Ra. Covbvalaj membuka hati, tidak semua otia keren dan tampoan seperti itu," bela Baihaqi terhadap kaum adam.


"Tapi, Kamu tidak boleh menilaiseseorang dari luarnya saja," ucap Baihaqi pelan.


"Aku sedang tidak ingin membahas hal ini," jawab Rara kemudia dengan sanagt ketus.


Tiba-tiba Rara teringat dengan Cantas. Perlakuan manis Cantas yang akhirnya membuat Rara kecewa dan sakit hati karena sikap Cantas.


Baihaqi langsung terdiam, karena ini bukan kali pertamanya Rara tidak ingin membahas masalah pria. Bagi Rara saat ini, semua pria itu sangat membuat dirinya muak.


Tidak lama mobil Biahaqi masuk ke dalam pekarangan Pndok Pesantren dan parkir tepat di depan rumah utama Baihaqi.


"Ra, sudah sampai," panggil Baihaqi pelan saat melihat kearh Rara yang sedang memejamkan kedua matanya.


Satu jam terakhir tadi saat memasuki kota Bogor, Rara dan Baihaqi sempat saling mengoreksi. Tetap saja, Rara yang menang dengan ini semua.


Rara mendengar panggilan lirih Baihaqi lalu membuka kedua matanya dengan pelan. Tubuhnya seakan masih ingin menyender di jok mobil itu dan malas untuk beranjak bangkit untuk masuk ke dalam rumah utama. Punggungnya sudah terlalu nyaman menempel pada sandaran jok mobil.

__ADS_1


"Sudah sampai kah?" tanya Rara dengan suara serak. Terlihat sekali baru bangun tidur.


"Sudah samapi, Ra. Barusaja sampai? Mau aku bantu bangun dan berjalan atau ingin snediri?" tanyaBaihaqi dengan suara pelan.


"Aku coba sendiri dahulu, ya," jawab Rara pelan.


Baihaqi sudah keluar darimobilnya dan membuka bgasi belakang untuk menurunkan beberapa tas pakaian milik Rara dan miliknya sendiri. Perjalanan yng cukup mengesankan dan memberikan kenangan tersendiri di hati Baihaqi.


"Ra ... Bisa tidak?" tanya Baihaqi pelan saat ingin menutup pintu bagasi belakang mobil. Baihaqi melihat tidak ada pergerakan dari Rara. Kepalanya masih terlihat menyender pada sandaran kursi jok mobil.


Setelah menutup pintu bagai mobil, Baihaqi pun menghampiri Rara.


Ketukan pada jendela pintu samping mobil tidak juga membuat Rara menoleh ke arah baihaqi yang sudah berdiri tepat di samping pintu mobil itu.


"Ra ..." panggil Baihaqi pelan.


Baihaqi pun membuka pintu mobil itu. Tubuh Rara sydah terlihat lemas dan tidak berdya. Kedua tangannya memegang perutnya yang membuncit seperti kesakitan. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya kering memutih.


"Ra ... Bangun Ra ... " panggil Baihaqi sambil menepuk pelan kedua pipi Rara.


Namun, Rara tak kunjung membuka matanya. Tubuhnya masih diam dan terbujur kaku menyender pada sandaran kursi jok mobil.


Tanpa berpikir panjang Baihaqi langsung mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke dalam. Baihaqi sudah tidak sepanik di awal kemarin. Dirinya sudah tahu dengan kondisi Rara yang begitu lemah hingga sudah tahu apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi lagi dan lagi.


Emak Warti yang masih terjaga dengan sengaja menunggu kedatangan Baihaqi langsung menghampiri dan membuka pintu kamar utama Baihaqi.


Rara sudah dibaringkan di tempat tidur dan sabgian tubuhnya sudah ditutup dengan selimut tebal. Bidan terdekat pun sudah di hubungi untuk datang ke rumahnya dan memeriksa Rara dan kandungannya.


"Apa yang terjadi dengan Non Rara, Pak Ustad?" tanya Emak Warti saat memberikan olesan aroterapi pada indera penciuman Rara.


Baihaqi menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku juga tidak tahu. Tapi, yang jelas hal ini akan terus terjadi hingga masa melahirkan nanti," ucap Baihaqi menjelaskan sesuai penjelasan dokter kandunagn kemarin.

__ADS_1


__ADS_2