MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
12


__ADS_3

Hendra dan Baihaqi sudah duduk di sofa ruang rawat inap itu sambil berbincang dan menikmati minuman kopi beserta cemilan kering yang tadi di bawanya.


Dyah sudah selesai menyuapi Rara dan menghabiskan makan siangnya juga.


"Dy, tubuhku sudah enakan. Bisa pulang gak? Bosen disini," ucapnya pelan kepada Dyah yang sibuk dengan ponselnya.


Hari ini Dyah dan Rara terhitung cuti dari kantornya. Beberapa teman Dyah mengirim pesan dan mensupport Rara yang sedang sakit agar lekas sembuh. Beberapa teman dekatnya juga memberi informasi ketegangan yang masih terjadi di Kantor hingga membuat suasana pun menjadi tidak enak.


"Besok ya pulangnya. Sekarang biar disini dulu semalam," ucap Dyah pelan memberikan nasihat.


"Tapi, Kamu nginap disini kan?" tanya Rara pelan ke arah Dyah.


"Iya, aku menginap. Itu ada dua pengawal juga yang mau nemenin kita," ucap Dyah singkat.


Beberapa jam kemudian, ponsel Dyah pun berdering dengan keras. Dyah sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tunggu dan meletakkan kepalanya di pangkuan Mas Hendra. Sedangkan Baihaqi masih membaca buku filsafat yang di bawanya dan sesekali melirik ke arah Rara.


Dyah menggapai ponsel yang ada di atas meja dan mengangkat sambungan telepon itu.


"Assalamualaikum, Ada apa Mbok?" ucap Dyah kepada Mbok Anti yang bekerja dirumahnya untuk menjaga Cantika.


"Waalaikumsalam. Bu ... Tadi sore cantika jatuh dari sepeda dan kini badannya panas. Sudah dikasih obat, tapi tetap saja panasnya tidak turun. Sepertinya perlu di bawa ke rumah sakit, atau dipanggilkan dokter?" tanya Mbok Anti pelan agak sedikit ragu dan takut.


Dyah langsung duduk tegak. Perasaannya juga langsung tidak menentu. Ada rasa cemas dan khawatir kepada Cantika, gadis kecilnya yang kurang perhatiannya selama ini.


"Tunggu, Saya akan pulang dengan Mas Hendra," ucap Dyah lantang lalu menutup ponselnya dengan cepat.


Dyah menoleh ke arah Mas Hendra dan membangunkan lelaki kesayangannya itu dengan pelan.


"Mas ... Mas Hendra ... Cantika sakit, kita harus pulang," ucap Dyah pelan sambil menepuk pipi Mas Hendra pelan.


Hendra pun membuka matanya perlahan lalu menatap Dyah yang sudah berada tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa wajahmu panik dan cemas begitu?" tanya Mas Hendra pelan.


"Cantika, Mas. Cantika ... Jatuh dan sekarang badannya panas," ucap Dyah sedikit kalut.


Mas Hendra begitu paham dan tenang. Berusaha agar tidak terlalu panik malah akan memperburuk suasana. Mas Hrendra menatap Rara yang masih tertidur di ranjang rawat inap itu lalu menoleh ke arah Baihaqi yang juga menatapnya dan telah menutup bukunya sejak mendengar ucapan Dyah melalui sambungan telepon bersama Mbok Anti.


Mas Hendra kembali menatap Dyah dan memegang kedua pipi Dyah lembut.


"Rara bagaimana? Siapa yang akan menjaganya?" tanya Mas Hendra pelan.


"Kan ada Mas Baihaqi. Ini Cantika yang sakit, kok kamu malah tenang sih?" tanya Dyah kesal dan melepaskan kedua tangan Mas Hendra dari pipinya.


Mas Hendra tersenyum lalu menggeggam tangan Dyah dengan erat.


"Sabar ya. Jangan panik," ucap Mas Hendra menenangkan.


"Pulanglah Ndra. Biar Rara, aku yang temani. Itu juga kalau tidak keberatan dan percaya sama aku," ucapBaihqi pelan sambil meletakkan buku filsafatnya di meja ruang tunggu itu.


Dyah itu type penyayang. Seharian ini Dyah belum bertemu Cantika karena sibuk menjaga Rara. Biasanya tidak pernah ada masalah. Mbok Anti selalu menjaga Cantika dengan baik, bahkan bisa dibilang sebagai pegganti Dyah.


Mas Hendra mengangguk pelan.


"Ya sudah, Ayok pulang. Bereskan barang-barangmu. Baihaqi, aku titip Rara. Mobilmu ku pinjam dulu, besok aku kembalikan. Tidak apa-apa?" tanya Hendra pelan kepada Baihaqi, sahabatnya.


"Inshaa Allah, akan aku jagain Rara untuk kalian. Kalau ada apa-apa, aku kabari kalian ya?" ucap Baihaqi pelan.


"Iya Mas Bai. Terima kaasih sudah mau membantuku," ucap Dyah pelan.


Mas Hnedra dan Dyah sudah pergi untuk pulang ke rumah. Kini tinggalBaihaqi sendiri di ruang rawat inap luas itu. Baihaqi kembali mengambil buku filsafatnya dan membaca bukunya kembali. Sesekali kedua matanya melirik ke arah Rara, bila gadis itu terbangun dan meminta tolong sesuatu kepada dirinya.


Ingin rasanya duduk di samping gadis itu dan bercerita tentang masing-masing kehidupan mereka dan melupaka masa lalu mereka satu sama lain. Tapi, perbedaan prinsip tentu akan menjadi penghalang keduanya.

__ADS_1


Baihaqi sudah sangat siap untuk menerima keadaan Rara yang sidah mengandung, dan berusaha untuk mencinati gadis itu dengan sangat tulus.


Kini dirinya menyandang status duda dengan memiliki tiga orang anak. Rasanya sudah rindu memiliki keluarga kecil yang utuh dan lengkap kembali. Beberapa kali melakukan ta'aruf, namun selalu saja gagal. Pernah juga berhubungan dengan santriwatinya, namun tidak berjodoh. Intinya Allah belum ridho dan belum mengijinkan.


Waktu semakin larut. Arah jarum jam yang pendek tepat berada di angka dua belas sedangkan jarum panjangnya mengarah pada angka enam. Ya, pukul setengah satu malam. Rara membuka matanya pelan, tubuhnya menggigil dan terasa sangat dingin sekali. Ingin meminta tolong untuk mengecilkan suhu dingin itu. Rara berusaha bangkit dan mencari keberadaan Dyah, Sahabatnya itu.


Kebetulan, baihaqi baru keluar dari kamar mandi untuk berwudhu. Melihat Rara yang terbangun dan mencari-cari keberadaan Dyah, Baihaqi langsung menghampiri.


"Apa yang kamu cari? Atau kamu sedang butuh apa, biar aku ambilkan?" tanya Bihaqi lembut dengan menatap lekat dua bola mata bulat Rara.


Rara menunduk malu. tatapan itu mengingatkan tatapan Cantas sewaktu mendekatinya dulu.


"Suhunya terlalu dingin. Bisa minta tolong di kecilkan?" ucap Rara pelan menitah.


Baihaqi langsung mencari remote pendingin ruangan dan mengecilkan suhu ruangan itu sesuai dengan permintaan Rara.


"Cukup segini? Atau diturunkan lagi?" tanya Baihaqi lembut.


"Cukup Mas, segini sudah cukup," jawab Rara pelan.


Keduanya hening tanpa ada percakapan. Baihaqi sudah meletakkan kembali remote pendingin suhu ruangan. Baihaqi tampak canggung dan keki untuk memulai duluan jika tidak ada balasan dari Rara.


"Kamu mau makan atau minum biar aku belikan?" tanya Baihaqi pelan dan tampak peduli kepada Rara yang sedang mengandung itu.


Rara menatap lekat Baihaqi. Rara sedang ingin makan indomie rebus pakai telur dan minum susu putih full cream sepertinya enak dan hangat.


"Rara ingin ...." ucapan Rara terhenti karena malu mengungkapkan. Rasanya tidak enak meminta tolong kepada Baihaqi yang baru di kenalnya.


"Ingin apa? Sini aku belikan di kantin," ucap Baihaqi pelan.


"Benar tidak merepotkan dan tidak mengganggu Mas Bai?" tanya Rara pelan.

__ADS_1


Baihaqi mengangguk pelan dan tersenyum. Ini awal yang baik untuk kedekatan mereka. Keinginan Hendra mendekatkan Baihaqi dan Rara semoga saja bisa berhasil. Hendra ingin membuat Rara melupakan Cantas, dan melupakan semua yang sudah terjadi kepada dirinya.


__ADS_2