MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
34


__ADS_3

Rara sudah ada di ruang rawap inap. Kondisinya cukup baik, janinnya masih bisa diselamatkan. Ada masalah dengan kandungannya yang membuat Rara harus banyak istirahat sejak saat ini dan tidak boleh banyak pikiran. Semua itu bisa membuat kondisinya melemah yang berefek samping pada kondisi bayinya.


"Dy, maksud dokter kandungan tadi itu apa? Prematur?" tanya Baihaqi yang nampk cemas. Sejak tadi Baihaqi mengurus administrasi Rara, sedangkan Dyah yang menemani Rara saat berada di ruang tindakan.


"Kondisi kehamilan Rara memprihatinkan. Besar kemungkinan Rara akan melahirkan prematur dengan cara operasi caesar. Tidak ada kemungkinan bisa melahirkan secara normal dengan usia kandungan yang normal juga. Air ketubannya sudah tinggal sedikit dan mulai keruh, ini bisa membuat bayinya mati," ucap Dyah dengan cemas.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan hingga usia kandungannya minimal cukup untuk melahirkan. Paling tidak kondisi bayinya sehat dan sempurna. Tentu usia kandungan lima bulan ini, janinnya pun belum terbentuk dengan sempurna," ucap Baihaqi yang juga ikut cemas dengan keadaan Rara dan bayinya.


Dyah menggeleng pelan.


"Entahlah, hanya keajaiban yang bisa merubah keadaan. Selain, sabar dan menjaga pikiran Rara agar tetap bahagia dan tidak tertekan apalagi sampai depresi. Itu akan membahayakan kandungannya dan juga kondisi Rara sendiri," lirih Dyah.


Baihaqi mengangguk paham. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Rara saat ini.


"Searhkan semuanya pada Allah. Dy, aku mau sholat dulu ya. Kamu, aku tinggal tidak apa-apa. Aku titip Rara, kalau sudah sadar belikan makanan sesuai keinginannya. Buat Rara bahagia, jangan memancing obrolan yang menjadi masalahnya saat ini," ucapbaihaqi pelan menasehatiDyah.


"Iya Mas Bai. Dyah paha dan tahu untuk hal itu. Dyah pasti jaga Rara dengan baik," ucap Dyah dengan pelan sambil mengangguk paham.


Baihaqi memutar tubuhnya dan erjalan ke arah depan untuk mencari mushola kecil. Niatnya ingin sholat hajat untuk kesembuhan Rara. Terbesit kemabli untuk mendatangi rumah kedua orang tua Rara, dan memeberi pengertian yang lebih baik kepada mereka.


'Aku hanya ingin membantumu, Ra. Maaf kalau caraku salah. Tapi, smeoga apa yang akan aku lakukan ini, bisa menjadi kebaikan di kemudian hari,' batin Baihaqi di dalam hatinya.


Setelah melaksanakan sholat hajat dan meminta petunjuk kepada Allah, Baihaqi pun melajukan mobilnya menuju kediaman Rumah orang tua Rara.

__ADS_1


Tidak ada ktakutan, hanya sedikit cemas bagaiman harus memulainya nanti. Kedua orang tua Rara sudah tidak ada niatan baik lagi untuk bisa di ajak berkomunikasi dengan baik. Tapi Baihaqi akan berusaha seoptimal mungkin agar kedua orang tua Rara bisa lebih luluh dan lembut hatinya.


baihaqi sudah berdiri di depan pintu rumah orang tua Rara. Jari telunjuknya sudah menekan bel. Pintu rumah itu terbuka lebar, Mama Rara cukup terkejut melihat kedatangan Baihaqi kembali ke rumahnya.


"Masih berani untuk datang ke rumah ini!! Tidak punya rasa malu sudah menghamili anak gadis saya," ucap Sang Mama dengan ketus.


Baihaqi hanya tersenyum dan berusaha memberikan salam kepada Mama Rara.


"Niat saya baik kesini Ma," ucap Baihaqi pelan dan tenang.


"Jangan panggil saya dengan sebutan Mama, karena saya bukan Mama kamu!! Paham!!" ketus Mama Rara.


"Bukan saya yang menghamili Rara. Mungkin kalau Rara masih bisa melahirkan anaknya dengan selamat, kita bisa tunjukkan dengan test DNA," ucap Baihaqi pelan.


"Kalau Mama ingin mengetahui cerita sebenarnya, saya akan ceritakan. Saya pun akan memberikan bukti-bukti yang akurat," ucap Baihaqi pelan.


Baihaqi mengeluarkan rekaman yang dibuatnya saat bertanya kpada Rara di rumah sakit beberapa waktu lalu.


Dalam diam Baihaqi, banyak hal yang di buatnya semenjak Rara berucap ada ketakutan tersendiri saat akan menemui kedua orang tuanya. Teranyata apa yang menjadi ketakutannya kini benar-benar terjadi.


Rekaman itu sudah di putar oleh Baihaqi. Mama Rara telah mendengarkan dari awla hingga akhir tanpa berkomentar sedikitpun. Suara itu memang suara Rara yang penuh ketakutan dan kecmasan. Penyesalan dan rasa kecewanya terhadapa Cantas di ungkap begitu saja tanpa ada rasa ragu atau kebohongan.


"Sudah dengar, ini semua yang terjadi sebenarnya. Tidak ada paksaan, tidak ada yang saya tambahkan atau saya kurangi. Semua yang di ucapkan Rara, adalah ungkapan perasaan hatinya yang paling dalam. Posisi saya hanya membantu, tapi hati saya malah terbelenggu dan akhirnya mencintai Rara," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Apa yang udah kami ucapkan tidak bisa kami tarik kembali, walaupun kebenaran ini terungkap. Saya sebagai orang tua benar-benar sudah kecewa dengan semua ini. Tidak mungkin saya menjilat ir ludah saya sendiri," ucap Mama Rara yang masih terlihat angkuh.


"Rara butuh motivasi. Kandungannya bermasalah, bisa-bisa keduanya tidak terselamatkan kalau pikirannya tidak tenang. Minimal beri pintu maaf, mungkin dnegan pintu maaf yang laus untuk Rara semuanya bisa berubah dan keadaan akan semakin membaik," ucap Baihaqi menjelasakan pelan.


Orang tua tetaplah akan sayang kepada anaknya, seburuk apapun anaknya, seberat apapun kesalahannya. Jika murka itu hanya suatu bentuk kekecewaan dan penyesalan yang mungkin sudah terlanjur menoreh luka batin mereka. Untuk memaafkan dari dalam hati setiap orang tua pasti akan memaafkan dan tetap akan mendoakan dnegan carany mereka sendiri.


"Mama sudah memaafkan untuk Rara. tapi, Mama masih kecewa dengan semua yang terjadi, Mama malu dan Mama tidak siap dengan sikap tetangga nantinya bila aib ini terbongkar. Ini yang paling berat, dihakimi secara moril di dalam masyarakat," ucap Mama Rara pelan. Kedua mataanya juga ikut basah dan meemerah. Hati Mama yang sebenarnya lembut, ikut menangis dalam batin.


"Sampaikan salam saya untuk Bapak. Saya akan menjaga Rara, apapun kondisinya, walaupun Rara juga tidak mau menerima saya karena perbedaan kita yang begitu jauh terlebih masalah prinsip,' ucap Baihaqi pelan.


"Lalu, Bagaimana dengan keadaaan Rara saat ini sekarang?" tanya Sang Mama Rara kepada Baihaqi pela.


"Alhamdulillah, lebih baik lagi. hanya saja, kondisinya memang tidak baik-baik dan bayinya harus segera dilahirkan karena Rara memiliki masalah dnegan kandungannya," ucap Baihaqi pelan menginformasikan keadaan Rara.


"Astaga," lirih Mama Rara.


"Bantu doa saja, akan lebih baik jika Mama mau melihat kondisi Rara dan datang ke rumh sakit. Mungkin itu bisa membuat Rara lebih abik lagi, ditambah dengan ucapan tulus pintu maaf Mama untuk Rara," ucap Baihaqi pelan menyarankan.


Mama Rara hanya menarik napas panjang dan menghembuskan pelan. Ada penyesalan yang besar dengan sikap perlakuan buruknya tadi terhadap Rara. Ternyata, Rara lebih sakit dan kecewa menerima takdir ini. Hidupnya tentu berat menerima kenyataan pahit yang harus ditelan dnegan mentah-mentah. Terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya semua tidak baik-baik bahkan membuat hati rara semakin sakit dan terluka. Luka yang tersembunyi bahkan tidak akan pernah dilupakan pengkhianatan ini seumur hidupnya.


Harapannya saat itu ada pada Cantas, seluruh jiwa dan raganya baik materil dan sipritualnya Rara serahkan kepada Cantas yang sudah dianggap sebagai calon suaminya.


"Jadi semua saya kembalikan kepada Mama dan Bapak. Jangan sampai ada penyesalan kedua setelah ini jika ada hal terburuk yang terjadi kepada Rara," ucap baihaqi pelan menasehati.

__ADS_1


Mama Rara mengangguk pelan. Hatinya lembut dan bis menerima nasihat Baihaqi tapi pikirannya sedikit berontak dengan rasa kecewanya yang sangat dalam.


__ADS_2