
Fatarani tertegun dalam pelukan Rafli, Sang Suami. Ingatannya kembali mengingat kejadian beberapa tahu yang lalu. Mungkin sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, saat dirinya meminta cerai kepada Rafli, Sang Suami karena memiliki pria idaman lain yang lebih banyak menjanjikan sesuatu yang bisa membuatnya bahagia.
Saat itu posisi Fatarani memang berjauhan dengan Rafli, Sang Suami hingga Fatarani tidak mempunyai batasan diri yang mengontrolnya dalam beteman dengan orang lain yang berbeda gender. Sama seperti saat ini, seperti halnya yang di lakukan Rafli dengan Rara. Diam-diam memiliki aktivitas rutin berkomunikasi dan akhirnya memiliki hubungan yang spesial karena ketertarikan dan kekaguman satu sama lain.
Beberapa tahun lalu, Fatarani bahkan meminta dengan tegas kepada Sang Suami untuk berpisah dan bercrai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan dalam rumah tangganya. Saat itu, fatarani baru saja melahirkan anak yang keempat, dan kira-kira bayi itu baru berusia sekitar tiga bulan. Fatarani datang ke Jakarta untuk menemui Rafli, Sang Suami dan menyerahkan putra keempatnya untuk di rawat dan di asuh oleh Rafli.
Bagai tersambar petir di siang hari bolong. Rafli begitu kaget dengan kedatangan fatarani, Sang Istri siang itu dnegan wajah memerah dan pebuh kebencian kepda Rafli, Suaminya.
"Kenapa Bunda datang tidak memberitahukan Ayah. Ayah bisa jemput di terminal? Kemari masuklah, Ayah rindu," ucap Rafli saat menatap Fatarani yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumah kontrakan itu.
Sudah satu minggu, Rafli, Sang Suami tidak mencari nafkah dan sedang mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Usaha potong rambut yang sudah di rintisnya selama beberapa tahun ini mengalami kemunduran dan bahkan penurunan omset secara drastis hingga tidak bisa mengumpulkan uang untuk memperpanjang sewa kiosnya.
Posisinya saat itu sangat sulit sebagai Suami.
__ADS_1
"Bunda, hanya datang untuk memebrikan anak ini kepada Ayah. Tolong, jaga, rawat dan asuh. Kedua anak kita akan ikut bersama Bunda. Satu hal lagi, Bunda minta cerai dari Ayah!!" tegas Fatarani dengan suara yang begitu lantang.
Rafli tercengang menatap lekat kedua mata Fatarani, Sang Istri yang trlihat tajam, tegas dan tidak main-main. Keputusannya sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat. Fatarani benar-benar ingin bercerai dengan Rafli, Sang Suami.
Kedua tangan Rafli menarik satu tangan Fatrani yang masih menggendong putra keempatnya itu dengan gendongan kain.
"Bunda masuk dulu, kita bicara baik-baik di dalam. Jangan berteriak-teriak seperti ini. Lihat, banyak tetangga nanti yang mendengar. Sebenarnya ada apa?! Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja? Kenapa jadi begini?" tanya Rafli, Sang Suami yang terlihat kebingungan dengan situasi yang terjadi saat ini.
Tangan dan tubuh Fatarani di giring masuk ke dalam. Rafli langsung menutup pintu rumah kontrakan itu. Kewajiban sebagai istri pun tidak dilakukan, walaupun hanya sekedar mencium punggung tangan Rafli, Suaminya itu sebagai tanda kehormatan dan menghargai sosok kseorang laki-laki yang dianggap sebagai suami sekaligus imam bagi Fatarani.
Fatarani pun menghempaskan genggaman erat tangan Rafli, Sang Suami yang sejak tadi memegang erat tangan Fatarani.
Hari ini benar-benar hari yang buruk bagi Rafli. Hari yang tidak di inginkan dan bahkan sebagai hari yang tidak diinginkan. Kedatangan Fatarani yang tiba-tiba datang dan mengejutkan itu, awalnya membuat Rafli senang dan bahagia. Rafli berpikir, Fatarani, Sang Istri datang untuk memberikan support dan motivasi serta penyemangat bagi Rafli atas apa yang baru saja menimpanya. Dukungan seorang istri yang tulus dan penuh kelembutan serta kasih sayang bisa memberikan aura positif baru dan mood booster baru bagi Rafli, Sang Suami.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya ini? Apa yang membuat Bunda, tiba-tiba ingin bercerai? Apa ini semua karena usaha Ayah yang mulai bangkrut dan Bunda takut Ayah tidak bisa memenuhi smeua kebutuhan Bunda? Begitu? Atau ini semua ada campur tangan Abah? Atau apa? Berikan alasan dan penjelasan yang masukakal!! Tidak seperti ini, biar Ayah tahu, dimana letak kesalahan Ayah dan dimana kurangnya Ayah bertanggung jawab sebagai seorang Suami dan seorang Ayah!!" ucap Rafli dengan nada yang agak meninggi, namun tetap tenang dan tanpa ada emosi disana.
Suaranya hanya terdengar tinggi dan itu hanya ingin meegaskan apa maksud permintaan gila Fatarani, istrinya ini. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, datang secara tiba-tiba dan meminta talak cerai. Bukankah itu suatu ide gila?!.
Fatarani menggelengkan kepalanya pelan. Hatinya sudah dikuasai kebncian karena ulah setan yang setia hari sellau menutp kebaika nRafli, Sang Suami kpada dirinya karean sedang bermain gila dan mencari kenyamanan dengan lelaki lain yang dianggapnya lebih baik dari sumainya.
Lelaki baru, yang dikenal Fatarani di media sosialnya. Fatarani sudah mengenal lelaki itu, kurang lebih tiga bulan. Dan dalam waktu tiga bulan itu, Fatarani sudah termakan rayuan gombal lelaki modal dusta itu dengan memberikan segala fasilitas dan kenyamanan yang lebih abik dan melebihi apa yang sudah di berikan oleh Rafli, Sang Suami, hingga Fatarani mulai membandingkan antara Suami dengan lelaki yang baru dikenalnya.
Dunia setan tidak jauh dari dunia fana. memberikan kebahagiaan setinggi langit dnegan harapan menggapai bulan, namun semua janji itu hanyalah semu dan hanya sesaat bisa dirasakan karena semua dilakukan berdasarkan nafsu dan hasrat perasaan yang terkikis dengan pondasi iman agama yang tipis. Berbeda dengan apa yang sudah dijalani dengan keihklasan dan ketulusan. Mungkin semuanya akan tampak berat dan terbebani disaat ijian dan cobaan mulai melanda.
"Bunda sudah tidak mencintai Ayah lagi. Jangan sangkut pautkan urusan kita berdua dengan Abah," ucap Fatarani tegas.
Memang hubungan Abah, orang tua Fatarani dengan Rafli kurang harmonis sejak masa pacaran jauh sebelum mereka berdua menikah. Tapi, karena Fatarani sudah terlihat mecintai dan tidak bisa melepaskan Rafli, mau tidak mau Abah merestui pernikahan itu. Maklum, Fatarani sudah tidak memiliki Ibu sejak kecil. Tapi, memiliki Ibu sambung yang berbeda dalam memberikan kasih sayang antara dirinya dan saudara tirinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan lantang dan begitu teg terlontr begitu saja dari bibir Fatarani membuat pikiran Rafli seketika sangat kacau. Pengharapan Rafli, dnegan kedatangan Fatarani bisa mengobati rasa rindu yang membuncah antara Rafli dengan Fatarani, Sang Istri dan dnegan ketiga anaknya. Namun, ternyata pengharapan itu hanyalah tinggal keinginannya saja. Bhakan yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan apa yang menjadi harapannya.
Rafli hanya bisa diam. mnecerna semua ucapan fatarani yang tetap teguh menginginkan sebuah perceraian.