
"Aku tidak bekerja, hanya menjadi supir saja," jawab Rara dengan singkat.
"Supir apa?" tanya Rafli sedikit ragu.
"Supir cantik dong. Aku kan perempuan. Kalau aku laki-laki pati namanya supir ganteng," jawab Rara sekenanya sambil tertawa lepas.
Tidak ada yang ditutupi semuanya di ungkapkan apa adanya. Bukankah lebih baik seperti ini, lebih baik jujur apa adanya dan tanpa ada kebohongan sedikit pun agar berteman pun lebih nyaman karena mengtahui kesibukan masing-masing.
"Oh ... Ya betul. Supir cantik, itu kamu patinya," ucap Rafli lembut.
Rara yang apa adanya dengan sikap ceplas-ceplos dan sedikit kekanak-kanakkan harus berhadapan denagn Rafli yang pendiamnamun menyimak setiap kata yang terucap dari bibir Rara. Seolah semua ucapan Rara itu direkam dengan baik oleh Rafli tanpa ada satu pun yang terlewati. Itu semua terbukti dari semua chat yang telah dilakukan lama sekali, saat diungkit kembali ternyata Rafli masih mengingatnya dengan baik tanpa ada yang kurang dan dikurangi semua sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Rara selama ini.
"Kamu sendiri bekerja dimana?" tanya Rara penuh keraguan. Rasanya memang tidak enak bertanya sesuatu hal yang bersifat pribadi. Ada beberapa orang yang tidak suka, kehidupan pribadinya di usik dan dijadikan konsumsi publik.
"Saya bekerja dengan orang yang biasa saya sebut dengan sebutan Bos," jelas Rafli dengan pelan.
"Semua orang yang bekerja dengan orang lain pasti namanya karyawan dan pemilik usaha pasti akan disebut dengan sebutan Bos. Jadi usaha ini bergerak di bidang apa?" tanya Rara yang malah makin penasaran dengan jawaban Rafli.
"Saya hanya tukang cukur saja," jawab Rafli pelan.
"Wah, bisa dong cukur gratis untuk anakku?" tanya Rara dengan sangat antusias.
Rafli pun tercengang luar biasa. Rafli berpikir sikap Rara tidak akan seperti ini. Mungkin dengan jujur, bia jadi Rara memilih untuk pergi. Namun kenyataanya Rara tetap sama dan tetap menyayangi Rafli apa adanya.
"Boleh, jika kamu main kesini, bawa anakmu untuk saya cukur," ucap Rafli penuh semangat.
"Kak ... Boleh aku panggil dengan panggilan lain? Aku lebih suka memanggil dengan sebutan Mas dibanding Kakak," tanya Rara dengan pelan.
__ADS_1
Rafli tidak kuasa menahan rassa bahagianya. Entah mengapa sebutan Ma itu lebih terasa enak di dengar dan juga lebih terasa sangat akrab dan sayang.
"Wah ... Dengan senang hati, Ra. Mas lebih suka dengan sebutan ini, lebih hangat rasanya," ucap Rafli pelan.
"Iya Mas," jawab Rara singkat.
Rara sendiri tidak kuasa menahan rasa bahagianya yang tidak terkira. Entah kenapa bersama rafli semuanya terasa berbeda sekali. Jujur saja, sebelum ini Rara baru saja patah hati dari seseorang yang sempat mendekatinya, namun semua janji-janji manis itu hanyalah bualan dan isapan jempol saja. Kemodusannya sebagai lelaki memang sudah tebaca dengan berpura-pura meminjam uang.
"Kamu sudah telepon Abuya, Ra?" tanya Rafli pelan.
"Sudah tadi, menemani minum susu penghantar tidur," jawab Rara pelan.
"Baguslah. Kasihan Abuya harus sendiri setiap hari" ucap Rafli lirih. Rafli bisa merasakan apa yag dirasakan Abuya karena ia adalah seorang Ayah yang penyayang.
"Kok jadi mellow ya. Sudah malam, sudah waktunya Mas pulng. Kasihan istri dan anak-anak Mas yang sudah menunggu Mas," ucap Rara pelan.
"Eh ... Iya, sudah jam dua belas malam. Kalau sudah sama kamu, Mas jadi suka lupa waktu," ucap rafli sambil terkekeh pelan.
"Ya ampun, pinter banget gombalin aku ya," ucap Rara pelan.
"Mas itu tidak pinter ngegombal dan tidak pintar merayu. Jadi apa yang terlontar ya, itu semua murni apa yang Mas rasakan saat ini," ucap Rafli pelan menjelaskan.
"Apa maksud Mas?" tanya Rara pean.
"Bukankah waktu itu kamu ma menjadi istri kedua Mas? Atau saat itu hanya kepalsuan?" tanya Rafli mendesak.
"Oh ... Itu. Aku serius Mas. Tapi, aku kan tidak mau egois Mas. Selama tidak ada ijin ya, semua itu tidak akn aku jalani," ucap Rara pelan.
__ADS_1
"Kamu mau berjanji dengan Mas? Mau sabar menunggu prosesnya?" tanya Rafli dengan sedikit keraguan.
"Ya Mas. Aku janji untuk sabar, dengan catatan semua harus sesuai prosedur. Selama prosedur ini tidak berjalan dengan baik maka aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Rara pelan.
"Terima kasih cantik. Mas pulang ya. Ini sudah malam," ucap Rafli mengakhiri chatnya di aplikasi itu.
"Sam-sama Mas. Hati-hati di jalan ya," ucap Rara menasehati.
"Iya. Assalmaualaikum," ucap Rafli mengucap salam.
"Waalaikumsalam," jawab Rara lirih.
Keduanya menutup pesan inbox aplikasi bernyanyi itu. Rafli langsung menghapus semua chat itu agar semua aman terkendali. Bukan takut dengan Sang Istri tapi Rafli sedang malas berdebat dengan Sang Istri.
Rara kembal termenung di atas tempat tidurnya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur kamar hotel itu. Ingatannya masih jelas dan benar-benar terekam engan sempurna dari awal perknalannya dengan Rafli hingga hari ini. Semuanya memang tampak biasa saja, tapi bagi Rara semua ini snagat spesial sekali.
Sosok Rafli pun adalah sosok llaki yang biasa saja, tidak ada yang spesial dan sebagai lelaki tidak banyak kelebihannya. Tapi mengenalnya dan bersamanya selama ini telah membuat Rara merasa aman dan nyaman.
'Cintaku slah tidak sih sebenarnya. Aku tidak mau dianggap perusak rumah tangga orang lain. Aku hanya mencintai dan tidak lebih. Sedikitpun aku tidak berpikir untuk bisa memiliki dia. Aku hanya mencintai saja, kalaupun aku bisa memilikinya dan diijinkan untuk menjadi yang kedua pun aku sudah cukup senang tanpa mengabaikan dan meninggalkan istrinya,' batin Rara di dalam hatinya.
'Apakah salah jika cinta ini hadir secara utuh untuk dia? Salahkah aku mencintaimu yang sudah memiliki keluarga?' batin Rara kembali dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya saat ini.
Entah kepada siapa sekarang Rara harus berkeluh kesah selain kepada Tuhannya.
'Bukankah setiap hati manusia akan diberikan rasa cinta yang entah kepada sipa cinta itu tertuju. Jadi cinta itu suatu anugerah? Lalu, jika cinta yang aku rasakan adalah cintayang salah, aku harus menyalahkan siapa? Bukankah semua cinta juga pemberian dari Allah SWT?' batin Rara yang masih saja membela diri.
'Sudahlah aku tidak mau pusing. bagiku selama aku tidak meuntut apapun darinya dan hanya mencintai dan bisa saling bertukar komunikasi saja, ini smeua sudah lebih dari pada cukup. Mungkin sesekali dan kalau sempat ingin rasanya bertemu dan saling bertatap muka. Tapi, itu smeua tidak menjadi prioritas aku,' batin Rara di dalam hatinya.
__ADS_1