
Baihaqi hanya sebatas mengantar Rara sampai depan kamar. Beberapa pesan dan nasihat di tujukan kepada Rara untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya dan memperbanyak istiraht.
"Ra, setelah acara ini, Mas ijin lanjut acara. kamar ini sudah Mas bayar. Kalau sudah sehat, pulanglah ke Bogor, kasihan Abuya di rumah. tapi, kalau kamu masih mau istirahat di sini, silahkan dan besok baru pulang. Hitung-hitung kamu lagi liburan," ucap Baihaqi dengan suara pelan.
Rara mengangguk pelan.
"Iya Mas. Terima kasih sudah banyak menolongku," ucap Rara pelan.
"Mas selalu akan memprioritaskan kamu dalam hidup Mas. Biar bagaimana pun juga, Mas sudah berjanji di depan pusara almarhum Fatima untuk menjagamu," ucap Baihaqi lirih.
Pembiacaraan tadi sudah bisa di pastikan memang belum ada tempat untuk Baihaqi singgah di hati Rara.
"Terima kasih Mas Bai. tapi, Maaf belum bisa," jawab Rara dengan suara lirih dan menunduk.
Baihaqi tersenyum lalu berucap, "Lebih baik jujur dari hatimu, dari pada kamu arus berpura-pura untuk tetap mencitaiku karena perasaan tidak enak hati. Itu akan lebih menyakitkan, walaupun Mas akan bahagia dengan kebohongan itu."
"Ya, Aku hanya mengikuti kata hati saja. Saat ini hatiku memang hanya untuk Rafli, lelaki yang telah menjadi milik orang lain," lirih Rara.
"Semoga ada jalan terbaik. Kalau dia mau menikahimu utnuk menjadi istri kedu, lakukanlah sebelum datang percobaan perzinahan. Tapi, pastikan Fatarani, istrinya ikut mengetahui dan merestui," ucap Baihaqi pelan menasehati.
Hanya itu yang bisa Baihaqi katakan untuk menasehati dan menyarankan sesutu hal yang baik dan positif untuk Rara. Baihaqi hanya takut, Rara akan di jadikan bulan-bulanan Fatarani jika melakukan satu kesalahan yang menyudutkannya karena mengambil keputusan dengan terburu-buru.
"Mas Baihaqi, Aku doain semoga dapat perempuan yang baik, sholehah sesuai dnegan harapan Mas Bai. Hanya itu doa Rara untuk Mas. Maafkan Aku, jika banyak berbuat kesalahan?" ucap Rara pelan.
Tatapan Baihaqi semakin sendu dan begitu lemah. Hatinya ingin berteriak dan memberi thau ke seluruh dunia, hanya Rara, wanita yang bisa menggantikan mediang Fatimah dan tidak ada wanita lain yang diharapkan kecuali kepada wanita beranak satu itu.
"Mas, mau pulang. Mas rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini. Mas cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih kepadamu," ucap Baihaqi pealn.
__ADS_1
"Bukan begitu Mas Bai. Maafkan Aku, bukan begitu. JikaMas Bai mau masuk pun masuklah, aku tidak apa-apa," ucap Rara lirih dan pasrah dengan keadaan ini.
"Untuk apa Mas masuk dan menemani wanita yang memang Mas cintai, tapi dia tidak mencintai Mas. Lebih baik Mas pulang dan berdoa aga hatinya makin melembut dan peka," ucap Bihaqi pelan sambil tertawa.
Harapan Baihaqi begitu sangat sederhana sekali. Tidak macam-macam dan tidak banyak neko-neko. Hanya mendoakan agar hati Rara luluh dan bisa menerima ketulusan cinta Baihaqi.
"Mas Bai, kok bicaranya begitu? Berasa aku punya salah," ucap Rara dengan suara melemah.
"Sudahlah.Mas mau pulang. kamu hati-hati Ra. masih simpan nomor Mas? Kalau ada apa-apa silahkan telepon Mas ya?" ucap Baihaqi pelan.
"Iya Mas.Nomor Mas Bai masih aku simpan. Hati-hati di jalan dan sukses untuk proyek kita," ucap Rara pelan.
Baihaqi mengangguk pelan. Motivasi kecil seperti ini saja sudah membuat hatinya begitu berbunga-bunga.
"Iya Ra. Mas pulang ya? Assalamulaikum ...." ucap Baihaqi pelan sambil teresenyum penuh arti.
"Waalaikumsalm ..." jawab Rara pelan sambil menatap punggung Baihaqi yang sudah berjalan jauh dan menghilang dari koridor apartemen.
Baihaqi mengintai dari pilar yang menutupi tubuhnya menatap ke arah pintu kamar Rara dan berjalan berbalik lagi lalu masuk ke dalam salah satu kamar, tepat berada di seberang kamar Rara.
Baihaqi masuk ke dalam dan mengeluarkan ponsel kepada Ridwan.
"Tolong lanjutkan proyek ini. Kalau bisa bangun kafe itu sekarang jua, aku akan urus semuanya," ucap Baihaqi pelan menitah Ridwan sebagai rekan kerjanya.
"Anda serius Pak Baihaqi? Menerima proyek ini dan langsung ingin membantu saat ini juga?" tanya Ridwan masih dengan rasa tidak percayaya. SAking bahagianya ridwan pun sampai lupa menanyakan keadaan Rara kepada Baihaqi.
"Iya, ini kerja sama. Tidak ada kebohongan. Saat ini juga lahn itu akan saya bangun. Silahkan cek ke lokasi, dan temui Pak Deni, beliau orang kepercayaan saya. Saya sudah menghubunginya, dan hari ini akan briefing mulai pengerjaanya," ucap baihaqi dengan santai.
__ADS_1
Untuk Rara apapun akan dilakukan. Semua hanya untuk kebahagiaan Rara dan Abuya. Tidak ada salahnya membangun kafe yang telah menjadi keinginannya itu mulai hari ini. Hatinya sudah kadung berbahagia karena bisa bertemu Rara dan menatap wanita cantik itu yang semakin menawan.
Hari ini proyek Kafe Setulus Jiwa akan mulai dala tahap pembangunan. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, baik Deni sebagaia tangan kanan Baihaqi dan Ridwan sebagai penegelola Kafe dan Rara sebagai pemilik Kafe.
Rara sudah memberikan sejumlah uang untuk pembangunan Kafenya dan mencari investor untuk membantu proses percepatan pembangunan.
Baihaqi sesekali melihat lubang yang ada di pintu dan menatap ke arah seberang. hanya ingin memastikan wanita kesayangannya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Rara duduk berdiam di atas kasur dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Satu tangannya memegang ponsel dan memutar-mutar ponsel itu seperti sedang bimbang.
'Perasaanku hari ini sepertinya kurang enak. ada apa ya?' batin Rara di dalam hatinya.
Tidak lama ponsel Rara pun berbunyi dengan nyaring. Seulas senyum terbit dari bibir Rara. Orang yang di rindukan sudah meneleponnya.
"Assalamualaikum, Iya Pah?" tanya Rara sambil mengucap salam.
"Waalaikumsalam, semangat sekali Mamah hari ini?" tanya Rafli sambil tertawa.
Padahal jantung Rafli juga sedang berdegup dengan sangat kencang. hari ini rasanya ada yang aneh tapi rindu sekali pada wanitanya yang selalu dipanggil dengan sebutan Mamah itu. Rafli sudah siap lahir batin untuk membawa Rara menuju hubungan yang lebih serius dan SAH.
"Papah dimana?" tanya Rara dengan suara plan dan lembut.
"Papah sudah di jalan Mah. Mamah dimana? mamah bisa share lokasi Mamah saat ini?" tanya Rafli dengan lembut dan penuh harap.
Sejak pagi ada kecemasan tersendiri saat mengingat wajah Rara.
"Aku ada di hotel Pah. Acaranya sudah selesai, tadi tubuhku sempat lemas dan akhirnya aku pesan kamar untuk istirahat. Papah kesini saja, tidak apa-apa," ucap Rara pelan.
__ADS_1
Dalam hatinya sungguh senang bisa bertemu dengan lelaki pujaan hatinya yang sangat di cintainya.
Tidak ada prasangka dan tidak ada pikiran negatif apapun tentang hari ini.