MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
114


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


Keluarga Rafli sudah berkumpul seperti sedia kala. Bunda Fatar sudah siuman dari koma dan kini sudah bisa merawat bayinya yang baru saja di lahirkan beberapa bulan lalu.


Rafli sendiri mulai fokus dengan pekerjaannya. Beban hidupnya tidak sedikit, dengan pengeluaran yang begitu fantastis setiap hari di tengah kota besar.


Komitmen Rafli dan Rara yang sepakat untuk berpisah pun di turuti oleh Rafli. Rara meminta Rafli untuk kembali bersama Bunda Fatar dan anak -anak yang sempat di urus oleh Rara. Rara hanya ingin yang terbaik dan ingin melihat Rafli dan keluarganya bahagia. Bukan berarti ia harus egois ingin memiliki Rafli seutuhnya. Mungkin dengan benih cinta yang di kandung Rara saat ini, bisa menjadi pelipur rasa rindu Rara kepada Rafli. Tak hanya itu saja, mereka hanya berkomunikasi melalui telepon. Rara yang sudah pindah dari tempat lama dan hidup di sebuah kota kecil yang baru dengan usaha barunya tanpa siapa pun yang bersamanya.


Rara memang sengaja tidak memberi tahukan alamat barunya kepada Rafli, karena ia sudah tidak ingin merusak kebahagiaan Rafli dan keluarganya. Mungkin, kekhilafannya ingin memiliki Rafli seutuhnya selama ini salah, walaupun menurut keduanya itu benar. Rara hanya berpikir, ia tidak pernah memaksa rafli dan sama sekali tidak menuntut apapun termasuk materi dan pertanggung jawaban.

__ADS_1


Rara sudah bahagia di tempat barunya, dengan Abuya dan kandungannya yang mulai membesar. Ia hanya di temani dua asisten rumah tangga, satu untuk mengurus Abuya dan satu lagi untuk mengurus rumahnya. Usaha barunya ada di pertokoan depan jalan raya. Ia memiliki dua ruko dengan usaha kecil -kecilan.


Rara berjanji ingin memulai hidupnya yang baru di tempat ini. Ponselnya sudah di ganti berikut dnegan kartunya. Ia hanya ingin melupakan semua masa lalunya yang buruk.


Siang ini, Rara ikut menjaga tokonya, Toko Baju muslim yang tidak besar tapi juga tidak kecil.


"Selamat siang, bisa mencari pakaian muslim untuk anak perempuan dnegan usia sekitar lima tahun," tanya seseoarng perempuan yang berjallan menghampiri salah satu pelayan toko milik Rara.


Perempuan baruh baya itu langsung memilihbeberapa baju yang ia sukai dan mengukur sekiranya itu cukup di tubuh anak gadis yang ingin di belikannya.

__ADS_1


"Untuk siapa?" tanay Rara yang tergerak hatinya mendekati wanita paruh baya itu.


"Untuk anak asuhku, di panti asuhan," ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman yang sangat tulus.


"Ibu pengurus panti asuhan?" tanya Rara pelan.


"Benar sekali. Ada anak asuh yang baru saja masuk ke panti asuhan dan dia tidak emmiliki pakaian. Dia mau tinggal di Panti Asuhan, sejak kemarin menangis terus dan tidak mau makan. Mungkin kalau di berikan pakaian baru, ia mau makan dan bermain dnegan teman -teman sebayanya dan melupakan semua kesedihannya," ucap wanita paruh baya yang mengurus panti asuhan itu.


Rara mengangguk kecil dann mengambil beberapa pakaian baru yang ia berikan secara khusus untuk Ibu Panti Asuhan.

__ADS_1


"Berikan saja, pakaian ini kepada anak itu. Ibu tidak perlu membeli dan membayar, aku berikan secara gratis. Tolong besok bawa anak itu kesini. Aku punya anak sebaya gadis kecil itu, di perumahan belakang. Mungkin ia mau bermain dengan anakku, yang bernama Abuya," pinta Rara dengan senyum penuh ketulusan.


__ADS_2