MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
88


__ADS_3

Rara sudah berjalan tepat di belakang Baihaqi memasuki Tempat Pemakaman Umum itu. Rara tidak banyak bertanya, namun Rara sudah tahu bahkan sangat yakin sekali, jika Baihaqi akan mengajaknya untuk menjenguk Fatima, istri Baihaqi yang beberapa tahun lalu lebih dulu menghadap Allah SWT.


Berjalan kaki menuju makam Fatima cukup jauh dengan medan tanah merah yang licin dan sedikit becek. Beberapa kali Rara sempat terpeeset karena salah menggunakan sepatu dan agak terpeleset namun tidak sampai terjatuh.


"Argh ....." teriak Rara agak keras karena kaget akan terjatuh.


Mendengar teriakan Rara yang berada di belakangnya, Baihaqi menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk melihat Rara.


"Ra? Kamu tidak apa-apa?" tanya Bihaqi dengan suara pelan sedikit khaatir dengan Rara.


Jantung Rara yang masih berdegup keras karena terkejut. Tangan Baihaqi terulur menggapai tangan Rara untuk di gandeng. Rara pun dengan malu-malu menggapai tangan itu dang mulai ikut menggenggam erat.


"Mas ... Maaf ya. Tadi aku mau jatuh," ucap Rara dengan suara pelan dan nampak sedikit malu-malu.


Baihaqi mangangguk pelan. Baihaqi paham sekali, memang jalan menuju makam Fatima begitu sangat licin.


"Pelan-pelan ya, Ra. Mas akan terus menggandeng tangan kamu. Jangan pernah kamu lepaskan ya?" ucap Baihaqi pelan dengan maksud lain.


Maksud kedatangan Baihaqi ke tempat pemakaman Fatima dengan mengajak Rara adalah selain ingin menabur bunga dan memberikan doa, ada keinginan lain Baihaqi yaitu meminta ijin dan restu di depan pusara Fatima, Sang Istri untuk menikahi Rara, wanita pujaan hatinya selama ini, yang saat ini di bawa bersama ke pemakaman Fatima.


"Masih jauh, Mas?" tanya Rara dengan suara pelan dengan napas sedikit tersengal.

__ADS_1


Cukup melelahkan berjalan dari arah depan parkiran sampai masuk ke dalam menuju pusara Fatima.


"Sedikit lagi," ucap Baihaqi dengan suara pelan.


Baihaqi masih terus menggenggam erat tangan kiri Rara. Pelan berjalan sambil menarik pelan Rara untuk terus mengikutinya hingga mencapai pusara Fatima yang berada di pojok bagian tengah.


Keduanya sudah sampai di pusara Fatima. tempat dimana Fatima di istirahatkan untuk terakhir kalinya.


Rara sudah berjongkok dan mulai mengguyurkan air mawar yang di bawa oleh Baihaqi tadi lalu menaburkan bunga mawar merah yang begitu harum.


Baihaqi menatap Rara dengan lekat. Wanita pujaannya kini terlihat lebih dewasa dan terlihat semakin matang dan cantik dnegan hijab panjang yang tidak pernah lepas dari kepalanya.


Merasa di perhatikan, Rara pun menghentikan aktivitasnya dan membalas tatapan Baihaqi yang tersenyum manis menatap Rara secara tidak sadar.


"Ekhm .... Tidak apa-apa," jawab Baihaqi dengan sedikit gugup karena dirinya tertangkap basah sedang menatap Rara penuh damba.


"Mas, tidak menabur bunga mawarnya?" tanya Rara pelan. Sejak tadi Rara hanya melihat Baihaqi berdoa lalu sibuk menatap Rara yang sibuk menabur bunga mawar dan menyiram pusara itu dengan air mawar yang begitu harum.


"Oh iya... Mana bunganya tadi?" tanya Baihaqi pelan sambil mencari keranjang yang berisi bunga mawar itu.


Rara memberikan keranjang kecil yang berisi bunga mawar itu kepada Baihaqi. Sedikit demi sedikit bunga mawar merah di taburkan di atas pusara istrinya. Tatapan Baihaqi cukup sendu, sekilas bayangan Fatima, Sang Istri pun seolah meari-nari dalam pikirannya. Tersadar, baha semuanya telah berlalu dan kini, Baihaqi ingin menjalani kehidupanya yang baru dan melamar wanita yang selama ini selalu mengganggu hatinya.

__ADS_1


Jujur, Baihaqi dan Rara sudah sangat jarang berkomunikasi dan tidak seintens dahulu sewaktu Rara masih tinggal di Rumah BAmbu. Setelah Rara memutuskan untuk pindah dan hidup mandiri dengan semua usahanya sendiri pun, bagai terpisah antara jarak dan waktu padahal mereka berdua masih hidup dalm satu kota.


Rara memang dekat, memang sayang kepada Baihaqi dulu. Mungkin kalau dulu Baihaqi gerak cepat untuk melamar Rara maka Rara akan mempertimbangkan semuanya. Tapi, kini semuanya telah berubah. Rara telah memiliki tambatan hati yang lain walaupun hanya ada di dunia maya. Tapi rasa cinta dan kasih sayangnya itu nyata dan tidak halusinasi karena mereka berdua sudah pernah bertemu dan menatap wajah secara langsung.


Baihaqi mengusap nisan Fatima dengan lembut. Ingin rasanya mengungkapkan isi hatinya sekarang juga agar terasa lega dan tidak mengganjal setelah beberapa bulan BAihaqi hanya bisa menyimpan perasaan cintanya dalam diam kepada Rara. Tarikan napas dalamnya begitu segar mngisi kekosongan rongga dada yang tadi terasa sesak hingga oksigen yang masuk pun mampu memberikan ketenangan dalam hatinya dan kejernihan dalam berpikir. Sudah tidak ada waktu lagi, saat ini aalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya dengan bak. Ada pusara Fatima, ada Rara, wanita pujaaanya yang akan menggantikan posisi Fatima di hati Biahaqi di sisa umurnya.


"Fatima, Mas datang ke tempat kamu karena ada dua hal, selain memang Mas rindu kepadamu dan hal ini sudah menjadi rutinitas Mas yang selalu mengunjungimu satu bulan sekali untuk menghapus semua perasaan rindu kepadamu. Tapi, Maafkan Mas yang belum bisa menepati janji-janji Mas kepada kamu selama kamu hidup. Dan kini, Mas datang untuk memperkenalkan kamu pada wanita yang begitu baik dan sama baiknya seperti kamu, Fatima," ucap Baihaqi pelan dan begitu sangat tenang.


Rara cukup kaget mendengarkan ucapan Baihaqi yang begitu juju dan sangat tulus dari hati sanubari yang terdalam. Baihaqi termasuk tipe lelaki yang tidak pernah mengada-ada atau pintar beralasan demi mendapatkan sesuatu.


"Apa maksudmu Mas?" tanya Rara yang penasaran dengan ucapan Baihaqi baru saja.


Baihaqi menatap Rara dan tersenyum. Keduanya saling berjongkok berhadapan dan saling menatap. Baihaqi menatap Rara dengn tatapan penuh damba, sedangkan Rara menatap Baihaqi dengan tatapan bingung dan peasaran.


Ini baru kali pertamanya Baihaqi mengajak Rara ke pusara Fatima. Entah apa tujuannya harus mengajak Rara, itu pertanyaan yang sejak tadi ada di benak Rara.


Kini tangan Baihaqi terulur melewati pusara Fatima, dan menarik lembut tangan Rara yang sejak tadi hanya memegang botol kosong yang telah habis isinya untuk mengguyur tanah di pusara Fatima.


Rara pun melepaskan botol kosong itu hingga jatuh ke bawah dekat kakinya dan mendiamkan Baihaqi menarik kedua tagganya dan menggenggam erat kedua tangan Rara. Ada kenyamanan tersendiri, namun sedikit hampa. Perasaan Rara kepada Baihaqi sudah tidak sebesar dahuluasaat Rara benar-benar mengagumi sosok Baihaqi.


Rara mulai mundur dan tidak lagi mau berharap dengan perasaanya setelah Baihaqi dekat dengan salah satu santri yang di tugaskan untuk magang di Pndok Pesantren miliknya. Kedekatan keduanya membuat Rara menjadi lebih peka degan perasaannya dan lebih bisa waspada menilai diri sendiri untuk suatu kepantasan.

__ADS_1


Rara yang hanya seorang mualaf dan tidak berilmu tentu akan kalah bersaing dengan wanita yang benar-benar mumpuni di bidangnya.


Muali saat itu Rara memutuskan pindah dari Rumah Bambu dan tidak lagi menyimpan dan betahan pada perasaannya itu.


__ADS_2