MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
8


__ADS_3

"Gue ada disini Ra. Gue bakal temenin loe sampai sembuh," ucap Dyah lirih di samping telinga Rara yang terbuka lebar.


Dyah paham, saat ini Rara membutuhkan sosok seseorang yang bisa menemaninya. Tidak hanya menemani tetapi juga mendengarkan segala keluh kesahnya dan memotivasi Rara agar bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya bersama anaknya nati.


Rara memang sedang terpuruk, bukan hanya tentang kandungannya saja, tapi pikirannya kini lebih bagaimana melahirkan bayinya nanti tanpa seorang Ayah.


"Jangan pergi Dy. Jangan tinggalin gue. Gue takut banget," ucap Rara lirih. Air mata Rara sudah mengumpul kembali di pelupuk matanya.


"Ra ... Ada Bapak disini. Dyah sudah berkeluarga dan memiliki anak, tentu tidak ada waktu yang banyak untuk bisa menemanimu, Ra," ucap Pak Udin yang sejak tadi berdiri menatap Rara dengan rasa iba.


Rara menoleh ke arah Pak Udin. Lelaki paruh baya itu masih saja berdiri disamping bed ruang rawat inap itu. Rara mendengar semua ucapan Pak Udin, tapi Rara berusaha mengabaikan. Jujur saja Rara itu tidak mau Pak Udin salah paham lagi terhadapnya. Sudah cukup salah pahamnya dahulu saat Rara masih magang di Perusahaan tersebut.


Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahu lalu. Waktu itu Rara sedang menyusun skripsi dan Rara harus magang di Perusahaan tersebut untuk mengetahui trend naik turunnya suatu Perusahaan yang dlihat dari berbagai aspek.


Saat itu Rara sedang meneliti dan mengimplementasikan suatu penilaian dengan tolok ukur dari empat aspek. Kecerdasan Rara sudah tidak diragukan lagi. Rara yang ramah, selalu ceria dan baik serta rajin membuat banyak karyawan menyukai kinerja Rara dan meminta bantuannya unytuk meyelesaikan segala tugas yang ada dikantor.


Pak Udin adalah tutor sekaligus pembimbing Rara saat magang. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar, cukup untuk mereka saling mengenal satu sama lain tentang sifat dan kepribadian keduanya. Tapi tidak untuk Rara yang memang apa adanya dalam berteman.


"Bapak juga sudah punya istri dan keluarga. Jadi tidak perlu peduli dengan Rara," jawab Rara dengan ketus.


Rara sudah jenuh dengan kehidupannya. Kebaikannya selalu disalahartikan. Keramahannya justru membuat Rara masuk ke lembah dosa. Ketulusannya malah membuat para kaum adam semakin nyaman bersama Rara. Semua pencapaiannya hanya dimanfaatkan oleh lelaki yang menginginkan hidup enak dan mengatasnamakan cinta.


Rara sudah kapok karena istri Pak Udin pernah datang ke Kantor dan melabrak Rara yang sedang menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Siang itu setelah jam istirahat dan makan siang bersama, Rara kembali ke meja kerjanya. Sambil menyelesaikan tugas kantornya dan membalas email kepada dosennya sebagai pengganti bimbingan skripsi yang tidak pernah dilakukannya sejak magang di Perusahaan itu. Jarak kota yang cukup jauh membuat Rara hanya bisa melakukan bimbingan skripsi secara online saja.


"Dasar wanita perusak rumah tangga orang. Pake pelet apa kamu, hingga suami saya terus mengigau nama kamu sat tidur bersamaku setiap malam!! Keluar kamu, Rara!!" teriak Hera, istri Syaifudin dengan suara yang sangat keras dan lantang.


Suara keras itu begitu menggelegar hingga terasa bagai tersambar petir di tengah siang hari bolong. Para karyawan yang baru saja datang dari istirahat dan makan siang langsung menoleh ke arah Rara, saat Hera mengucap nama Rara dengan sangat keras dan jelas.


Waja Rara tampak pucat pasi seketika. Keringat dinginnya pun ikut bercucuran dengan sangat cepat membasahi seluruh kulit tubuhnya.


Rara mngangkat wajahnya menatap ke arah lurus ke depan. Banyak pasang mata menatap dirinya seolah wanita hina yang tidak baik. Pak Udin sendiri terlihat panik dan cemas saat keluar dari ruangannya dan berlari menuju arah depan untuk menghampiri istrinya.


Pak Udin dengan tergesa-gesa setengah berlari dan melewati meja kerja Rara begitu saja. Baru seminggu yang lalu, Pak Udin mendapatkan promosi jabatannya tapi kini nama baiknya terjun bebas karena kesalahannya sendiri.


Kedekatan Rara dengan Pak Udin dan keluarganya membuat rumor tidak baik di Kantor. Ada yang bicara bahwa semuanya itu dilakukan untuk memuluskan rencananya agar dengan mudah Rara menikah dengan Pak Udin sebagai istri kedua.


Dari situ banyak teman-teman Pak udin yang merasa risih dan tidak suka dengan kedekatan itu.


"Ra ... Maafkan istri saya ya?" ucap Pak Udin lemah dengan wajah sendu meminta Rara untuk paham dan mengerti.


Rara memang sangat tahu, jika Pak Udin itu memiliki rasa sayang yang berlebih pada dirinya. Berawal dari rasa kagum menjadi rasa cinta.


Rara semakin terkejut dengan kedatangan Pak Udin yang secara tiba-tiba. Wajahnya malah semakin ketakutan luar biasa. Bru kali itu, Rara merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.


Pak udin meningalkan Rara begitu saja tanpa mendengar atau melihat jawaban Rara. Dirinya juga khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hera, istrinya itu sangat posesif dan keras. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya jika tindakannya sudah menjadi keputusan yang bulat.

__ADS_1


"Hera!! Untuk apa kamu kesini? Berteriak-teriak tidak tahu malu!!" ucap Pak Udin tegas kepada istrinya.


Jujur saja sebagai kepala bagian, Pak Udin sangat malu dengan tindakan bodoh istrinya itu tanpa pikir panjang yang bisaberdampak buruk pada reputasi dan karir Pak Udin.


"Kamu yang tidak tahu malu Pah!! Kamu yang sudah main gila dengan Rara yang lebih cocok menjadi anakmu sendiri!! Apa kamu sudah bodoh atau telah dibodohi oleh gadis itu!! Berapa uang yang kamu habiskan untuk merawat tubuh Rara!!" teriak Hera semakin keras dan lantang.


Hera sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Semua orang keluar dari dalam kantor dan melihat drama gratis antara Pak udin dan Hera, istrinya.


Pak Udin menarik tangan Hera dan membawa Hera ke dalam kantor dan berjalan menuju ruangannya.


BRAK!!


Pintu ruangan PAk Udin telah tertutup rapat. Tidak aa yang bisa melihat atau mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Pastinya pertengkaran itu sangat dahsyat.


Rara hanya bisa menghela napas panjang dan dalam. Rasanya masih sangat takut. Jantungnya pun masih berdetak sangat keras dan kencang.


Satu karyawan laki-laki memberikan minum kepada Rara.


"Minumlah Ra. Bapak tahu kamu sangat terkejut dengan kejadan ini. Bu Hera memang begitu," ucap lelaki tua itu pelan.


Rara menerima satu gelas air putih dan menghabiskan seketika.


"Terima kasih Pak. Maafkn saya atas kejadian ini. Saya tidak sengaja," ucap Rara pelan .

__ADS_1


"Bapak tidak menghakimi, kalau boleh menyarankan, selesaikan skripsimu dan cepat pergi dari Kantor ini, agar tidak ada salah paham lagi di kemudiaan hari," ucap lelaki tua itu menasehati.


__ADS_2