MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
45


__ADS_3

Keduanya hanya saling bertatap dan diam tak bersuara. Rara yang ingin mencoba memulai hubungan dengan menerima Baihaqi malah justru sebaliknya. Saat ini Baihaqi yang meragukan keinginan Rara, bukan tanpa maksud, tapi karena Baihaqi tidak mau harapannya itu musnah kembli seperti kemarin.


Pandangan mereka bertemu da bertatap lama, hingga Baihaqi pun melepaskan pandangan itu dan menoleh ke arah lain. Bukan hanya rasa sayang yang dimiliki Baihaqi untuk Rara, tapi juga rasa cinta yang mulai tumbuh saat pertemuan pertama mereka.


"Kita jalani saja, Ra. Aku tidak mau kecewa dan aku tidak mau kamu menyesali keputusanmu. Jalani saja seprti air mengalir, kalau memang kita berjodoh pasti dipersatukan," ucap Baihaqi dengan bijak mengambil keputusan.


"Tapi, Mas, aku ingin sesuatu ....." lirih Rara kepada Baihaqi seperti memohon.


"Apa itu, Ra? Sebutkan saja? kalau permintaanmu itu mudah pasti u kabulkan secepatnya, tapi kalau aku kesulitan untuk mengabulkannya, maka aku akan berusaha se-optimal mungkin untuk mengabulkannya juga," jelas Baihaqi pelan.


"Jangan kamu hina, ya, Mas. Apalagi berkomentar yang kurang mengenakkan?" ucap Rara pelan.


"Apa itu? Katakanlah, jangan buat aku penasaran," ucap Baihaqi pelan.


"Aku ingin berpindah keyakinan. Mau menjadi pembimbingku?" tanya Rara lirih agak sedikit ragu.


Mendengar ucapan Rara yang menurut Baihaqi adalah sesuatu yang langka, Baihaqi pun langsung menatap Rara kembali dengan tatapan bingung. Bingung dengan keinginan Rara yang cukup aneh menurutnya.


"Aku tidak sedang bermimpi kan, Ra? Aku benar-benar mendengar kamu menginginkan berpindah keyakina? Maaf aku mengulangnya, karena aku ingin memastikan bahwa yang ku dengar ini nyata, bukansekedar bualan atau isapan jempol saja," ucap Baihaqi pelan mnjelaskan.


"Mas, coba pahami, dan lihat aku? Aku nyata, dan aku dlam keadaan sadar sehat secara jasmani dan rohani. Tidak ada kebohongan disini, tidak ada yang modus, semua yang aku ucapkan adalah benar bukan pembnaran atau mencari sensasi di kemudian hari," jelas Rara pelan.


Rara cukup paham dengan tatapan tajam dan penuh keraguan Baihaqi kepadanya. memang semuanya tidak ada yang instant dan semua ada prosesnya.


"Kalau kali ini aku benar-benar terkejut, tapi aku senang dan bahagia. Tapi, apakah kamu yakin dengan keputusan kamu, Ra? Apa alasanmu hingga kamu bisa memantapkan hati untuk berpindah keyakinan?" tanya Baihaqi dengan suara pelan.


"Bukankah Mas sendiri yang bicara, kalau hidayah itu bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja? Mungkin memang Tuhan menemukan aku dengan cara seperti ini?" ucap Rara menjelaskan maksudnya.

__ADS_1


Baihaqi menarik napas panjang dan menghembuskan dengan sangat kasar hingga suara hembusan napas itu terdengar dengan sangat jelas.


"Yakinkan dirimu dahulu, Ra? Jangan terburu-buru dengan ini semuanya. Aku tahu kamu sedang bimbang dengan pilihan hidupmu saat ini," ucap Baihaqi menyarankan.


"Ucapanmu seolah mengintimidasi aku, Mas. Sepertinya aku salah dan apa yang aku jalani ini adalah sesuatu yang salah," ucap rara dengan ksal dan penuh kekecewaan.


"Aku tidak mengintimidasi kamu, Ra. Agama itu bukan sebuah permainan, dima kita bisa datang karena sesuatu hal dan meninggalkannya karena sesuatu hal. Agama dan kep[ercayaan kita kepada Allah SWT itu berawal dari hati," jelas Baihaqi panjang lebar.


"Lalu, maksud Mas, aku hanya singgah dan masuk dalam permainan untuk bersembunyi dalam keterpurukanku? Begitu?" tanya Rara dengan nada suara yang agak meninggi dan sedikit meringis karena sakit yang dirasakan.


Baihaqi menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan ... Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kamu salah langkah dan mempermainkan agama. Pilihamu itu penuh dengan resiko besar bukan hanya untuk pribadi kamu sendiri, Ra, tapi juga untuk keluarga kamu dan orang-orang di sekitar kamu. Banyak hal positif dan negatif yang bisa kamu terima jika hal ini terjadi. Jadi semua ini butuh kesiapan mental yang sangat besar Ra," ucap Baihaqi pelan.


Baihaqi bukan hanya seorang ustad saja, dia bahkan sebagai kyai muda ynag sangat teladan. Ilmunya cukup tinggi, dan pengalamannya pun sudah cukup banyak di bidangnya. Apalagi membantu orang yang ingin mengucapkan dua kalimat syahadat untuk memeluk agama islam.


Baihaqi menganggukkan kepalanya dnegan sangat pelan dan penuh keraguan. Rasanya sangat tidak enak membuat Rara kecewa dan seolah dirinya menggurui Rara untuk sesuatu hal yang yang sedang diinginkannya.


"Benar sekali. Aku hanya ingin kamu lebih bisa menyikapi semuanya dengan sangat bijak dan logikamu itu harus jalan. Kamu siap? Dengan semua resiko dan konsekuensinya?" tanyaBaihaqi dengan suara pelan.


Tatapannya mengiba pada Rara. Entah kenapa Baihaqi merasa semua ini tidak di dasari dengan ketulusan, seperti ada paksaan dari dalam diri Rara yang tiba-tiba ingin berpindah keyakinan.


Tapi, Mas Bai, Kamu tahu buka, orang tuaku dan keluarga besarku itu seperti apa? Mereka juga akan tetap todak bisa menerima aku dengan baik, karena aku telah mengandung tanpa suami. Merea akan tetap mencapku sebagai wanita yang tidak baik," lirih Rara.


Kejadian ini benar-benar membuat Rara terpiuuruk, namun dengan sekuat tenaa Rara pun harus ttap bangkit dan menjalani semuanya dengan lebih baik lagi.


"Alasanmu ynag paling utama ingin berpindah keyakinan itu apa?" tanya Baihaqi pelan dengan rasa curiga dan penasaran yang kelewat tinggi.

__ADS_1


"Ya, Karena aku ingin mengenal lebih dekat sama kamu, Mas. Mungkin dengan aku belajar agama islam, di bawah pengawasan dan bimbingan Mas Baihaqi. Hanya cara ini yang bisa mempererat hubungan kita lebih intim dan berkomunikasi dengan baik," ucap Rara pelan menjelasakan.


"Jangan karena aku, Ra. Aku bukan orang baik, tidak perlu kamumenyanjung dan mengagumi aku seperti itu," ucap Baihaqi pelan.


"Semua sudah aku pikirkan Mas Bai," jawab Rara dengan nada yang begitu datar dan dingin.


"Membicarakan hal ini, tidak akan pernah selesai sampai kapan [un," ucap Baihaqi pelan.


"Kenapa ucapanmu seperti itu?" tanya Rara pelan kepada Baihaqi.


"Karena aku memang bukan lelaki pilihan hatimu, Ra. Kamu melakukan ini semua demi dirimu sendiri, kebahagiaanmu dan semua yang terbaik untukmu," jelas Baihaqi yang mulai tersulut dengan emosi jiwanya.


"Aku ingin menjalani semuanya karena Allah, Mas Bai ...." ucapnya lembut dan begitu ramah terdengar sangat merdu di telinga Baihaqi.


"Allah? Kamu bisa bilang Allah?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara.


"Semua orang juga bisa, Mas. Bukan aku saja," ucap Rara pelan.


"Bukan itu, Ra. Tapi kata yang kamu ucapkan sangat sulit untuk di utarakan, Ra," jelas Baihaqi.


Rara hanya tersenyum kecut lalu mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit sekali.


"Arghhh ...." teriak Rara secara spontan dengan tiba-tiba.


Baihaqi langsung menghampiri Rara dan bersaha membantu Rara kembali.


"Kenapa Ra, Aku panggilkan dokter ya?" ucap Baihaqi dengan suara pelan.

__ADS_1


__ADS_2