
Leguhan-leguhan dan erangan yang mendesah itu terdenagr sangat seksi dan sensasional di telinga Rafli.
Bukan hanya itu saja mimik wajah Rara yang menikmati penyusuran jari jemari Rafli terlihat sangat seksi.
Rafli menatap lekat pada kedua bola mata hitam milik Rara. Mereka saling bertatap dengan penuh sayang dan saling mendamba.
"Kenapa harus malu. Toh, kalau kita nanti sudah bersma hal itu bukanla hal tabu lagi, bahkan seiap hari akn Papah alkukan untuk Mamah," ucap Rafli pelan menjelaskan dengan suara sangat lembut.
Lagi-lagi Rara dibuat terkejut dan sontak berteriak.
"Arghh ... Mamah?" ucap Rara pelan namun bahagia.
"Bukankah Mamah yang mau dipanggil seperti itu sama Papah? Kita biasakan ya, biar terbiasa," ucap Rafli pelan sambil mengulum senyum dibalik ponselnya.
"Iya Mas ... Eh Pah ...Ya ampun lebay gak sih Pah?" tanya Rara sambil terkekeh pelan.
"Tidak ada yang lebay. Itu semua hanya perasaan kita saja, Mah. Makanya mulai dibiasakan biar gak canggung lagi. Mamah kan calon istrinya Papah," ucap Rafli meyakinkan Rara.
Lelaki itu memang sudah kepentok hati dan rasa cinta. Candunya kini bukan hanya memikirkan Rara dan melihat senyum Rara di balik telepon saat melakukan sambungan video call. namun, kini candunya adalah bibir Rara dan pelukan Rara dan bagian intim Rara yang sempat tersentuh Rafli karena gemas.
"Mamah merasa kita seperti anak ABG yang baru kasmaran dan jatuh cinta," tawa Rara semakin menggelegar.
"Tidak ada Mamah sayang. Ini wajar kok. Malhan Papah senang seperti ini, semuanya terasa dekat," ucap Rafli pelan.
"Baiklah, Mamah biasakan ya Pah. Sudah malam Pah? Papah gak pulang? Kasihan Bunda?" ucap Rara pelan mengingatkan.
Malam semakin larut, kini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam kurang lima belas menit. Itu tandanya sebentar lagi sudah memasuki dini hari.
Rafli pun menatap jam dinding yang ada di depannya.
"Iya benar sudah larut malam ya. Papah pulang dulu ya Mah. Besok kita lanjutkan lagi, Mah," lirih Rafli yang merasa tidak ingin mengakhiri.
"Kenapa kok kayak lemes gitu? Papah sakit?" tanya Rara lirih.
__ADS_1
Rara merasa seperti ada yang tidak beres. Baru siang tadi Rafli tampak senang dan bahagia, dan seperinya tidak sedang sakit. Kenapa sekarang terkesan sedang menahan sesuatu.
Rafli menggelengkan kepalanya pelan. tetap diam dan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Tidak apa-apa Mah Jangan khawatir ya?" ucap Rafli pelan.
"Gak. Coba cerita. Ada apa sebenarnya? Papah sayang Mamah kan? Apa susahnya cerita dan berbagi sama Mamah?" tanya Rara pelan dengan nada yang semakin penasaran.
"Gak ada apa-apa Mamah sayang. Papah gak apa-apa," jawab rafli pelan.
"Tatapan wajah Papah itu beda, mengisyaratkan ada suatu masalah," ucap Rara pelan menatap lekat wajah Rafli yang berbeda tidak seperti biasanya.
Rafli pun tersenyum.
"Papah rindu sama Mamah. Mamah itu sudah membuat candu bagi Papah. Papah hanya ..." ucapan Rafli sengaja di hentikan agar menggantung dan membuat Rara semakin penasaran.
"Hanya apa Pah? Apa? Jangan buat Mamah semakin cemas dan penasaran seperti ini," ucap Rara pelan.
"Papah ini kenapa sih? Hanya senyum-senyum ga jelas. Ada apa sebenarnya?" kesal Rara.
Gelak tawa Rafli akhirnya pecah dan tertawa semakin keras karena tidak bisa menahan rasa gemasnya terhadap Rara sejak tadi. Wajah panik Rara membuat Rafli semakin sennag untuk menggidanya.
"Kenapa malah ketawa. Mamah ini serius Pah?" ucap Rara semakin kesal.
"Oke Baiklah. Papah sejak siang menahan ingin memiliki Mamah seutuhnya," ucap Rafli lirih yang suaranya hampir tidak terdengar sama seklai.
"Apa? Apa maksud Papah? Mamah tidak mengerti," tanya Rara kemudian.
"Kita menikah Mah? Kamu mau kan menerima lamaran Papah?" tanya Rafli pelan namun mantap.
"Menikah? Tentu Mamah senang. Tapi, apakah Bunda Fatar sudah memberikan ijin dan restu untuk Papah? Karena Mamah tidak mau ada masalah di kemudian hari," tanya Rara pelan kepada Rafli.
"Mamah mau sabar menunggu Papah kan? Mamah janji mau sabar? Janji mau berjuang bersama untuk cita-cita Papah yang ingin menjadikan Mamah sebagai teman hidup Papah di sisa akhir umur Papah?" tanya Rafli dengan sendu menatap wajah Rara yang sudah terlihat lelah namun di paksakan untuk fresh membahas hubungan mereka berdua mau di bawa kemana.
__ADS_1
Hubungan ini sudah terlalu jauh dan dalam bahkan bila ada celah dan kesempatan hubungan keduanya bisa lebih jauh dari ini.
"Iya Pah. Mamah pasti menunggu Papah. Tapi, kalau sudah terlalu lama mungkin Mamah juga akan meminta ijin untuk mencari sosok lain sebagai pendamping Mamah," ucap Rara pelan. Hati Rara sebenarny ragu, namun hal ini harus dilakukan. Tidak mungkin Rara menunggu waktu selam itu tanpa kepastian yang jelas. Rara pun butuh sosok pendamping untuk saling berbagi dan melengkapi perjalanan hidupnya.
"Tolong ... Jangan pernah katakan itu kepada Papah, Mah. Papah pasti akan berusaha untuk memperjuangkan Mama. Itu janji Papah, tapi semuanya harus pelan-pelan agar semuanya bisa berjalan lancar," tegas Rafli yang hatinya berselimutkan rasa cemburu.
Sudah beberapa kali, Rara sukses membuat Rafli cemburu. Itu juga karena kesalahan Rafli yang tidak pernah menunjukkan keseriusannya. Beberapa kali Rara nampak memunculkan di story statusnya bahwa sedang dekat dengan yang lainnya.
"Lho? Papah kenapa? Apa salah Mamah bicara begitu?" tanya Rara pelan.
"Salah. Mamah itu saat ini sudah milik Papah. Tidak ada lagi yang boleh mendekati Mamah, dan hanya Papah yang bisa mendampingi Mamah. Jadi, tolong Mamah tunggu Papah. Mamah mau kan menunggu Papah?" tanya Rafli pelan.
Rara begitu sennag sekali. Baru kali ini Rafli dengan tegas bicara seperti itu, bicara tentang kepemilikan. Bicara tentang keseriusannya untuk tetap menunggu Rafli sampai melamar Rara.
"Baiklah. Mamah tunggu. Mamah akan selalu menunggu Papah, sampai Bunda benar-benar bisa tulus menerima kehadiran Mamah ada ditengah-tengah kalian," ucap Rara lirih. Hati Rara sebenranya kesal dan kecewa. Dirinya tidak akan pernah menjadi priorita mau sampai kapan pun walaupun sudah menjadi yang kedua. Itu semua sudah menjadi konsekuensi Rara sebagai madu dan menerima menjadi yang kedua.
"Bagaimana jika Mamah dan Papah menikah secara siri dulu. Biar kita berdua dijauhkan dari hal-hal yang buruk, termasuk perzinahan," ucap Rafli pelan menyarankan.
"Tidak. Jika Papah sudah berani menikahi Mamah secara siri maka disitu akan muncul hak dan kewajiban. Apa Papah sudah siap? Itu permasalahan pertama, lalu yang kedua, pernikahan ini walaupun siri sama saja, Mamah sudah mengkhianati Bunda Fatar, dan merebut hak dari Bunda dan anak-anak Papah. Mamah kurang setuju, maaf," ucap Rara memberikan alasan.
"Tapi, Papah menginginkan Mamah," ucap Rafli lirih.
"Apa maksud Papah? Bukankah kita berdua sedang menjalani dan sudah berkomitmen?" tegas Rara mengingatkan.
"Iya memang, kita berdua sudah berkomitmen. Papah ingin memiliki ank darimu Mah," ucap Rafli dengan polos tanpa rasa berdosa.
"Anak? Papah menginginkan anak dari Mamah? Maksud Papah, Papah mau menanamkan benih di rahim Mamah? Gitu?" tanya Rara dengan perlahan menjelaskan apa yang ditangkapnya dari ucapan Rafli.
Rafli nampak mengangguk pelan dengan menunduk. Mungkin rasanya begitu malu Rara menjelaskannya dengan gamblang.
"Iya Mah. Papah tidak mau kehilangan Mamah. hati Papah benar-benar sudah sayang dan sudah utuh untuk Mamah. mamah mau kan? Punya anak dari benih papah?" ucap Rafli dengan suara pelan bertanya hal yang bersifat pribadi dan sedikit sensitif.
Rara menarik napas dalam. Kalau menuruti rasa egonya, mungkin saja Rara akan dengan cepat mengiyakan karena rasa cintanya kepada Rafli. Namun, ini sudah lebih jauh kearah keintiman. Mau tidak mau Rara harus mau melepaskan tubuhnya untuk dinikmati oleh Rafli seutuhnya walaupun mereka belum ada ikatan perkawinan yang SAH.
__ADS_1