MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
46


__ADS_3

Baihaqi berlari ke arah ruangan dokter kandungan untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi kondisi Rara mendadak tidak baik-baik saja. Rasa sakit dan nyeri pada perutnya kembali terasa.


"Dokter, Rara kambuh lagi," teriak Baihaqi saat memasuki ruangan dokter tersebut dengan tergesa-gesa tanpa permisi.


"Baihaqi, Apa yang terjadi? kenapa kamu begitu sangat cemas? Apakah Rara mengalami kejang?" tanya dokter kandungan itu dengan tenang.


"Perutnya terasa sakit kemablai katanya," keluh Baihaqi lirih.


Mengingat semua rintihan Rara dan tangannya yang terus-menerus memegangi perut besarnya sudah di pastikan itu semua terasa sangat sakit.


"Baiklah, Kita harus cepat bertindak," ucap Dokter Kandungan itu dengan sigap.


Keduanya berlari menuju ruangan khuss yang biasa di sebut dengan ruag tindak.


Rara masih memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bagian bawahnya sambil terlihat sesekali meringis dalam keadaan posisi menyamping. Jelas sekali Rara menaan rasa sakit di perutnya yang mungkin terasa nyeri dan mulas.


"Rara? Kamu baik-baik saja? APa yang kamu rasakana? Maksud saya, seperti apa rasa sakit di perutmu ini?" tanya dokter kandungan itu dengan sangat lembut saat menghampiri ranjang Rara sambil muali memeriksa keadaan Rara.


Tubuh Rara di terlentangkan dan dokter kandungan itu mulai memeriksa perut besar Rara yang sudah sanagt mengeras sekali seperti batu.


"Usia kandunganmu belum memungkinkan untuk mengeluarkan bayimu saat ini. Mau tidak mau kamu harus bersabar. Seharusnya suntukan perangsang itu sudah hilang rasanya karena dosis yang diberikan sangat rendah, tapi kenapa kamu masih merasakan sakit yang sepertinya luar biasa tak tertahankan," ucap dokter kandunagn itu pelan berbicara dengan diirnya sendiri sambil mera seluruh perut besar Rara untuk memastikasn kandungan itu tidak bermasalah.


"Apa yang terjadi dokter? Bagaimana keadaan Rara sebenarnya?" tanya Baihaqi dengan cemas.


Dokter kandungan itu pun keluar ruangan untuk memanggil perawat untuk mempersiapkan alat USG, lalu masuk lagi ke dalam ruangan Rara.


"Hei, Dokter? Sejak tadi aku bertanya dan dokter hanya diam saja?" tanya Baihaqi sedikit kesal.

__ADS_1


"Maaf Bai, aku benar-benar fokus kepada Rara. Bukan mengabaikan tapi memang aku tidak mau ada yang terlewatkan. Kondisi Rara benar-benar lemah,Bai," ucap dokter kandungan itu pelan.


Dua perawat tengah mempersiapkan alat USG yang akan digunakan untuk memeriksa Rara.


Baihaqi sendiri hanya bisa menerima dengan pasrah. Rasa kekhawatiran Baihaqi benar-benar sangat besar kepada Rara.


"Lalu Rara itu sebenarnya kenapa?" tanya Baihaqi dengan suara pelan.


"Rara sepertinya mengalami kontraksi palsu atau seringkali di sebut PREKON, ini prematur kontraksi, kontraksi ini memang akan sering ditemui pada masa kehamilan tujuh bulan, ini menyebabkan rasa sakit dan mulas seperti ingin melahirkan," ucap dokter kandungan itu dengan tetap tenang.


Mendengar penjelasan itu, Baihaqi sendiri semakin tak karuan, rasa khawatitnya semakin besar.


"Apa akibat terburuknya?" tanya Baihaqi dengan suara tegas.


Dokter kandungan itu telah selesai memeriksa Rara dan keluar ruangan sambil memberi kode kepada baihaqi.


"Jadi, mau tidak mau Rara harus segera melahirka bayinya? Kalau kita menunggu hingga usia kandungannya tepat, apakah bisa?" tanya Baihaqi pelan dan rasa bingung serta penasaran. Jujur, Baihaqi memang tidak mengerti urusan medis apalagi perihal kehamilan dan melahirkan, walaupun mendiang istrinya sudah memberikannya tiga orang buah hati, namun istilah-istilah medis dan kesehatan masih belum bisa dipahami.


"Ya, tepat sekali. Rara harus segera mengeluarkan bayinya, air ketubannya sudah mulai mengering dan sisanya pun sudah mulai keruh dan berwarna hijau," ucap dokter kandungan itu menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik untuk Rara. Aku percayakan Rara kepadamu, selain memang kamu dokter kandungan terbak di rumah sakit ini, kamu juga teman sekaligus sahabatku yang bisa diandalkan," ucap Baihaqi dengan pelan.


"Aku pasti melakukan yang terbaik untuk Rara. Aku tahu, Rara sangat berharga dan berarti untuk kamu, Bai," ucap dokter kandungan itu dengan senyum dan menepuk bahu Baihaqi dengan pelan.


"Kamu memang selalu tahu tentangku," ucap Baihaqi pelan.


"Bukankah sejak dulu? Kamu saja yang tidak pernah peka," ucap dokter kandungan itu lalu berlalu begitu saja untuk tidak meneruskan kembali untuk membahas masalah ini.

__ADS_1


Baihaqi menatap lekat kepergian dokter kandungan yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun. Selama ini Baihaqi tidak pernah tahu jika dokter kandungan itu telah menaruh rasa suka dan harapan yang lebih kepada Baihaqi untuk menggantikan Fatima sebagai ibu sambung bagi ktiga anaknya.


'Apa maksud ucapan Karin?' batin Baihaqi dalam hatinya.


Baihaqi kembali masuk ke dalam ruangan Rara. Rara sudah mulai tenang dan mulai pulas dalam tidurnya. Wajah pucatnya yang sejak tadi menahan sakit pun sudah mulai menghilang. Bibirnya pun sudah tidak kering dan putih, bahkan kini sudah terlihat meerah dan sedikit lembab.


Langkahnya langsung menuju sofa yang ada di ruangan itu. Tubuhnya langsung di dudukkan dan bersandar dengan sangat nyaman sekali. Punggungnya yang sejak tadi terasa pegal pun kini terasan enak bersandar di sandaran sofa yang empuk itu. kepala Baihaqi di letakkan di sandaran sofa sambil menengadah ke atas.


Kepalanya kembali menoleh ke arah Rara yang masih terlihat tenang dengan senyum indah di wajahnya saat tertidur pulas.


'Apa yang sedang kamu impikan, cantik? Sampai kamu terlihat tersenyum bahagia di seluruh wajahmu itu?' batin baihaqi di dalam hatinya.


Baihaqi mengingat beberapa ucapan Rara tadi sebelum kontraksi dini terjadi pada wanita hamil itu.


'Jika saja, keadaanmu tidak sedang seperti ini, aku sangat bahagia kamu bisa mengucapkan itu. Tapi, aku takut apa yng kamu ucapkan itu semua hanya ilusi dalam alam bawah sadarmu, Ra. Lebih baik seperti ini, cukup aku yang mencintaimu tanpa ada balasan pun tidak apa-apa yang terpenting aku bisa selalu dekat dan mejaga kamu dan emmastikan kalau kamu itu sellau dalam keadaan baik-baik saja,' batin Baihaqi dalam hatinya.


Baihaqi mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, dengan menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan.


"Mas Bai ...." panggil seseorang dari arah berlawanan dengan suara yang lembut.


Kedua mata Baihaqi yang terpejam pun mulai membuka dan menatap wanita yang sudah berada di depannya. Senyumannya begitu indah dan sangat tulus.


"Kamu? Kamu datang kesini? Aku tidak sedang bermimpi kan? Ini beneran kamu?" tanya Baihaqi pelan sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa itu semua memang benar Fatima, mendiang istrinya.


Baihaqi sedang bermimpi setelah lelah memikirkan Rara yang sepertinya permasalahan antara hubungan mereka berdua tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik.


"Mas Bai .... Ini aku, Fatima. Aku hanya ingin bilang, Rara itu gadis yang baik, aku ikhlas dan merestui jika kalian berdua bisa bersama dan menjaga ketiga anak kita," ucap Fatima dengan suara lembut lalu menghilang begitu saja seperti tertiup angin.

__ADS_1


__ADS_2