
Pintu kamar rawat inap itu terbuka, dan baihaqi masuk dengan mengucap salam. Saat membalikkan tubuhnya, Baihaqi cukup terkejut karean ruangan itu cukup ramai. Senyum Baihaqi terbit, ada rasa bahagia melihat Rara yang ikut tersenyum ke arahnya. Terlohat sekali, Rara benar-benar bahagia pagi itu.
"Eh ... Ada Mama dan Bapak. Saya mohon ijin keluar dulu, hanya ingin memberikan nasi goreng kambing ini, permintaan Rara," ucap Baihaqi pelan. Baihaqi terkejut saat masuk ke dalam ruang rawat inap Rara dan mendapati keluarga Rara sedang berkunjung untuk menjenguk Rara.
Hati Baihaqi senang melihat kebersamaan itu. Ketulusan seorang Mama yang tidak ada bandingannya. Tidak ada orang tua yang membenci anak kandungnya sendiri, mereka hanya kecewa dan sakit hati, tapi tidak akan dendam.
"Nak Baihaqi, kemarilah Nak," panggil Sang Mama kepada Baihaqi dengan suara lembut.
"Mas Bai, sini aku sudah lapar mau makan nasi goreng kambing itu," panggil Rara dengan pelan.
Baihaqi berjalan sambil menyalami Mama Rara dan Bapak Rara, lalu menghampiri Rara dan membuka bungkusan kotak makan pesanan Rara.
"Mau makan sendiri?" tanya Baihaqi mempersiapkan makanan itu.
"Suapin ya, Mas? Bisa kan?" tanya Rara pelan.
Baihaqi mengangguk pelan dan duduk di tepi ranjang mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng kambing itu ke dalam mulut Rara.
"Kalian cocok, kenapa tidak menikah saja?" ucap Bapak Rara tiba-tiba.
Rara menatap Sang Bapak dengan heran. Kunyahannya terhenti, Rara cukup terkejut dengan pendapat Sang Bapak.
"Pak, Mas Bai ini sudah Rara anggap sebagai Kakak Rara. Mas Bai juga tidak mungkin menyukai Rara, perempuan hamil yang ternoda dan berdosa besar," ucap Rara pelan.
"Maaf Pak. Biar semuanya mengalir seperti air. Rara butuh waktu untuk bisa menerima saya dan ketiga anak saya," ucap Baihaqi meluruskan.
"Kamu menyukai anak saya?" tanya Mama Rara memastikan.
Baihaqi mengangguk mantap.
__ADS_1
"Sangat suka," jawab Baihaqi dnegn matap dan tegas.
Baihaqi sengaja untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Rara agar jalan merek untuk dekat semakin mudah.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Mas ... Kita tidak mungkin ...." ucapan Rara terhenti karena Baihaqi langsung menyela ucapaannya.
"Aku sudah bilang kan, kita jalani saja. Kita memang berbeda, tapi kalau memang kita sudah berjodoh, kamu bisa apa, Ra?" ucap Baihaqi dengan tegas.
"Mama juga setuju dengan hal itu. Kamu sudah dewasa, dan kamu bisa memilih jalan hidupmu sesuai keinginanmu. Tapi, maaf kalau Mama sedikit tegas, untuk sementara ini, kamu jangan pulang dulu, sebelum kamu punya suami," ucap Mama mengintimidasi.
Rara haya bisa mengangguk pelan. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rara berharap Sang Mama dan Bapaknya berubah pikiran dan mengijinkan Rara untuk bisa berkunjung mengunjungi kedua orang tuanya.
"Rara, akan tinggal di rumah kedua saya. Saya pastika Rara aman disana," ucap Baihaqi menjelaskan. baihaqi hanya ingin memastikan bahwa Rara berad dalam pengawasannya hingga kedua orang tuanya tidak perlu khawatir dan cemas.
"Mama titip Rara ya. Jaga Rara dengan baik, beri kabar kepada Mama jika Rara melahirkan. Rara ... Mama sayang dengan kamu, tapi memang situasi ini sangat tidak memungkinkan hingga membuat Bapak dalam posisi sulit. Tolong kamu bisa memahami ini semua, Ra. Bukan kami membencimu tapi semua ini butuh waktu. Kami berharap kamu bisa paham dengna keadaan kami, Ra," ucap Sang Mama sedikit sesegukan.
"Mama hanya merasa berdosa dengan kejadian kemarin," ucap Sang Mama sedikit terbata.
"Rara tahu, Mama pasti kecewa dengan Rara. Rara sudah merusak kepercayaan Mama dan Bapak!! Rara yang salah," ucap Rara dengan nada meninggi hingga dadanya terasa sesak lagi.
"Ra ... Sudah, ingat kondisi kamu belum pulih. Habiskan makannya, lalu minum vitami," titah Baihaqi sambil memberikan suapan nasi goreng itu kembali ke dalam mulut Rara.
"Sudah kenyang Mas," jawab Rara singakat.
"Kalau kamu tidak mau habiskan sarapan kamu. Aku akan pulang ke Bogor sekarang juga," ancam Baihaqi dengan suara tegas.
Sudah saatnya Rara di tegasi seperti itu, agar tidak mengabaikan kesehatannya. Hampir saja hidupnya lewat kemarin, karena kesalahannya sendiri yang tidak menjaga tubuhnya.
__ADS_1
Rara menatap tajam ke arah Baihaqi.
"Mas Bai mau meninggalkan aku!! Mas Bai mengancam aku?!!" tanya Rara dengan nada meninggi.
"Kalau kamu sudah tidak mendengarkan nasihat aku lagi. Lalu untuk apa aku bertahan untuk menemani kamu? Bukankah kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri dengan mengabaikan aku? Lalu posisiku disini untuk apa? Satpam?" tanya Baihaqi tegas.
Rara menggelengkan keplaanya pelan. Rasanya tidak percaya dengan ucapan Baihaqi yang begitu tegas dan tidak main-main. Ucapannya sangat menohok dan terlihat posesif.
"Kan Mas bai sudah menjadi Kakak? Bukankah seharusnya menjaga adiknya dengan baik?" ucap Rara dengan jujur dan polos.
"Kalau kamu menganggap aku sebaga Kakak kamu. Kamu harsu mengahrgai aku, Ra. Sekarang makan dan habiskan, lalu minum obat," tegas Baihaqi tanpa ampun.
Sang Mama hanya tersenyum dan memberikan angguka kecil ke arah Rara dengan maksud untuk menuruti kata-kata Baihaqi. Semua ucapannya adalah benar, kondisi Rara belum pulih dan belum stabil, jadi untuk urusan maka, minum vitamin dan istirahat sudah tidak ada tawar menawar lagi.
"Mama dan Bapak serta adik-adikmu mau pamit pulang. Besok Mama kesini lagi untuk menjengukmu," ucap Sang Mama pelan.
Keluarga Rara sudah berpamitan untuk pulang. Ruang rawat inap itu pun kembali sepi.
Rara sudah menghabiskn sarapan paginya dan minum vitami sesuai petunjuk dokter kandungannya. Kini Rara diharuskan untuk istirahat dan menenangkan hati dn pikirannya agar kondisi tubuhnya dan bayinya semakin baik.
"Kapan aku bisa pulang? Aku sudah rindu rumah bambu, ingin duduk di teras samping sambil menatap sawah dan membuat novel seperti biasanya untuk mengisi waktu luangku," ucap Rara pelan.
"Ikuti pesan dokter agar kamu cepat pulang ke rumah bambu," jawab Baihaqi dengan mantap.
Rara hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Tubuhnya sudah berbaring kembali, kedua matanya berusaha terpejam untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.
Baihaqi pun keleuar dari ruangan Rara untuk menemui dokter kandungan yang memeriksa Rara. Niatnya akan membawa pulang Rara. Mungkin dengan cepat pulang tingkat kestresan Rara pun bisa berangsur menghilang.
Bisa saja, Rara tertekan karena situasi lingkungan sekitar yang tidak membuatnya nyaman. Tidak semua orang menikmati dan bisa ikhlas saat berada di rumah sakit untuk dirawat.
__ADS_1
"Jika memang ingin di bawa pulang silahkan, pastikan untuk tetap menjaga kondisi kejiwaan Rara, agar kejadian seperti ini tidak terulang dan bisa merugikan Rara dan bayinya juga," ucap sang dokter menasehati