
"Bolek kok, Aku sama sekali tidak keberatan," jawab Rara begitu bersemangat karena suasana hatinya memang sedang bahagia.
"Oke, Mas pindahin ke video ya?' tanya Rafli memastikan.
"Iya," jawab Rara pelan.
Sambungan telepon itu pun berubah menjadi sambungan video. Ini kali pertamanya mereka saling bertatap muka secara online dalam dunia maya/. Mereka berdua saling menyembunyikan rasa bahagianya yang tidak terkira. Kebahagiaan yang bear-benar tak terlukiskan lagi dengan kata-kata. Satu bulan ini mereka hanya bisa bercerita daan saling mendengarkan via suara dan kini mereka bisa menatao wajah satu sama lain walaupun secara online. Padahal sebelumnya pun mereka sudah saling bertukar foto.
"Hai, Cantik banget hari ini? Mau kemana?" tanya Rafli lembut. Kedua matanya tidak berkedip dan tidak bisa berpaling untuk melihat hal indah lainnya selain Rara yang ada di layar ponselnya itu.
Keduanya benar-benar puas bisa saling memandang dan mengagumi kecantikan dan ketampanan satu sama lain.
"Aku mau ke lembang, bukannya kemarin aku sudah bilang sama Mas? Bahkan sudah ijin juga? Mas lupa?" tanya Rara mengingatkan obrolan kemarin malam hingga tengah malam.
"Oh, Iya, Maaf Mas lupa. Kamu tahu kan, Mas punya penyakit lupa? Jadi jangan kaget ya?" ucap Rafli pelan sambil terkekeh pelan.
"Iya tahu, tapi kan kesannya kayak lagi ngeprank," ucap Rara sambil tertawa.
Banyak hal yang mereka bicarakan sambil terrtawa bahagia, hingga tidak terasa waktu terus saja berjalan.
Setengah jam kemudian, mobil pun sampai di tempat yang sudah dituju. Rara pun mengakhiri obrolannya di video call itu.
"Mas, Aku sudah sampai tempat konsumen. Kita lanjut nanti ya, gak apa-apa kan?" tanya Rara dengan suara pelan dan terasa tidak ingin mengakhiri.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa. Nanti malam kita sambung lagi. Mas juga mau ngumpulin receh buat anak-anak," ucap Rafli dengan lembut dan terdengar pasrah.
"Oke, Aku tunggu nanti malam," jawab Rara pelan dengan senyuman lebar di balik layar ponselnya.
rasanya seperti kembali ke masa remaja yang sedang kasmaran. Rasanya jatuh cinta yang berjuta rasa dengan debaran jantung yang tak kuasa ditahan bila sudah rindu.
"Insha Allah, Mas usahakan ya," ucap rafli lembut. Rafli sendiri juga memiliki debaran jantung yang sama seperti Rara. Rasanya berkecamuk, degub jantungnya membuat dirinya semakin tidak waras memikirkan wanita impiannya yang baru saja dikenalnya itu.
"Hati-hati buat kamu. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," ucap Rafli menasehati.
"Iya Mas. Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Rara lembut. HAtinya bahagia sejali. Diperhatikan seperti ini rasanya seperti melayang, seolah lawan bicaranya itu mengetahui isi hati Rara saat ini.
"Ra ..." panggil Rafli dengan suara lirih.
"Apa Mas?" tanya Rara pelan dengan rasa penasaran.
Degub jantung Rara semakin berdetak kencang tidak beraturan. Rasa penasarannya semakin besar menunggu ucapan Rafli yang tidak biasa itu.
"Ekhem ... Mau bicara apa, Mas? Bicara saja," ucap Rara dengan suara lembut tanpa mengintimidasi.
"Mas kok, merasakan antara Mas dan Kamu seperti ada yang beda. Tidak seperti dengan teman-teman wanita lainnya. Kamu itu beda, dan perasaan MAs keKamu itu nyata adanya," ucap Rafli pelan dengan nada yang sangat meyakinkan.
Rara menyimak dan mendengarkan dengan baik, setiap kata yang terucap dari bibir Rafli yang menyihir hatinya menjadi taman bunga yang begitu indah. Kalau dilihat dengan seksama, wajah Rara pun sudah memerah seperti tomat dengan rasa tidak percaya dan rasa bahagia yang bercampur menjadi satu dan tak karuan rasanya.
__ADS_1
Lebay, mungkin kata itu sangat tepat di ucapkan untuk seorang Rara yang memang sedang jatuh cinta. Usia Rara memang sudah tidak muda lagi, tapi rasa cinta yang diberikan oleh Allah itu begitu nyata dan sempurna ketulusannya, benar-benar suatu anugerah yang tidak bisa dihindari.
Rara hanya bisa diam, terkejut, bingung, bahagia, sedih, kecewa dan takut, semua rasa itu ada dan bercampur menjadi satu. Rara tidak tahu harus bersikap seperti apa? Haruskah senang? padahal Rara tahu, Rafli sudah memiliki keluarga, mmiliki isti dan lima orng anak. Haruskah bahagia? Kalau pada ahirnya harus kecewa menelan pil pahit, bahwa hubungan mereka tidak mungkin bisa di persatukan.
"Rara? Kamu marah?" tanya Rafli dengan pelan. nada suaranya terdenagr sangat bingung.
Rara bingung harus menjawab apa. Kedua matanya menerawang ke langit-langit mobil, tubuhnya disandarkan di jok setir.
"Aku tidak marah Mas. Aku tidak mau rasa sayangku bersambut karena suatu keterpaksaan," ucap Rara pelan.
Dari awal perkenalan mereka berdua, Rara sudah mengakui kekagumannya dan ketertarikannya terhadap Rafli. Sampai akhirnya Rara tahu, Rafli telah memiliki istri dan anak, tapi tetap saja Rara masih menyukai dan sayang kepada Rafli dengan sangat tulus.
Rara tidak butuh balasan atau Rafli ikut menyukainya juga. Sama sekali tidak, Rara hanya ingin Rafli cukup tahu saja dan menerimanya sebagai teman bicara itu saja sudah cukup tanpa ada embel-embel yang lain.
"Tidak Ra. Mas sama sekali tidak ada keterpaksaan. Jauh sebelum kamu mengupkapkan perasaan kamu kepada Mas, Mas sudah memiliki perasaan yang berbeda kepada kamu. Hanya saja, Mas memendam semuanya dengan berbagai macam alasan termasuk alasan, Mas tidak ingin menyakiti kamu," ucap Rafli pelan menjelaskan semua isi hati dan uneg-unegnya.
Rara mendengarkan sambil menggelengkan kepalanya. Rara menganggap ini semua tidak benar dan tidak mungkin bisa dilanjutkan. Rara tidak mau menumbuhkembangkan cinta yang slaah sasaran, cukup Rara hanya memendam tanpa harus memiliki dan dimiliki.
"Mas, Ini adalah awal yang salah. Dari awal aku hanya ingin kamu tahu isi hatiku dan aku tidak pernah sama sekali menginginkan balasan atau berpikir untuk memilikimu. Sama sekali tida. Aku masih sehat secara jasmani dan rohani, tidk mungkin aku lakukan demi kebahagiaan aku tapi ada wanitalain yang tersakiti. Kalaupun aku sia menjadi yang kedua pun itu harus seijin istrimu," ucap Rara penuh kemantapan.
Rara tidak mau disalahkan dalam hubungan ini. Sama sekali Rara tidak ingin menggoda, walaupun Rara mengungkapkan rasa sukanya kepada Rafli. Kalau sampai terjadi, maka Rara akan tahu apa akibatnya nanti. Rara akan dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain.
"Tidak ada yang salah, Ra. Semuanya ini anugerah, bukankah kita tidak bisa memilih kepada siapa kita memberikan perasaan kita? Walaupun kita bisa memilih kepada siapa kita akan menikah? Setiap perasaan itu nyata dan unik, kita tidak bisa melawan takdir jika hati yang sudah bicara?" ucap Rafli pelan sambil meyakinkan Rara. Rafli tidak maumenyalahkan siapa-siapa termasuk menyalahkan Rara dalam urusan perasaan.
__ADS_1
"tapi, Mas, Ini semua tidak benar. Aku tidak mau dianggap buruk dan dianggap perusak rumah tangga antara Mas Rafli dan Kak Fatarani," ucap Rara dengan jujur.
Ada ketakutan yang menyelimuti hati dan perasaan Rara.