MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
66


__ADS_3

Rara terus mengusap punggung Dyah dengan pelan hingga sahabatnya itu benar-benar tenang dan bisa lebih mudah menceritakan apa yang sedang terjadi.


Rara pun mengendurkan pelukannya agar Dyah bisa menarik napas panjang dan lebih lega setelah dihembuskan pelan. Terkadang kekurangan oksigen pun bisa membuat kita stres dan uring-uirngan terus.


"Kamu sekarang tenang ya, Dy. Tarik napas panjang dan hembuskan dengan sangat pelan. Kamu ulang sekali lagi. Baru kamu cerita sama aku, apa yang terjadi sama kamu," ucap Rara pelan sambil memegang kedua bahu Dyah.


Wajah Dyah seperti sedang tertekan, pucat, lesu dan terlihat sangat letih. Belum lagi bengkak di wajahnya serta kedua mata Dyah yang sembab. Sudah dipastikan semalaman lebih Dyah menangis karena memiliki masalah dalam rumah rumah tangganya bersma Mas Hendra.


Dyah pun ikut mengendurkan pelukan Rara dan mulai mengikuti arahan Rara yang meminta untuk menarik napas dalam dan menghembuskan pelan hingga rasa sesak di dadanya itu semakin tak terasa.


"Huffttt ...." hembusan napas Dyah begitu kasar hingga terdengar dengan jelas.


"Sudah agak tenang, Dy?" tanya Rara pelan dan menghapus sisa air mata yang masih membekas di pipi dan sebagian wajah Dyah. leleran air mata sudah bercampur menjadi satu dengan cairan hidung yang seketika ikut keluar karena sesak di dadanya.


Dyah hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah. Dirinya kini benar-benar bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Cantika? Kenapa kesini tidak ajak Cantika?" tanya Rara pelan sambil menatap dyah yang masih berusaha mengusap jejak air mata di wajahnya.


Lagi-lagi Dyah hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Cantika dibawa Ibu," jawab Dyah lirih.

__ADS_1


"Dibawa Ibu? Cerita Dy, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Gak biasanya kan, Kamu begii?" tanya Rara dengan pelan.


"Ra ..." lirih Dyah kembali memeluk Rara dengan erat. Hati Dyah saat ini benar-benar sedang kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Tangisannya pecah kembali dan terdengar meyayat hati. Jelas sekali kekecewaan dan rasa sakit hatinya begitu sangat kentara melalui tangisan itu.


"Dy, Ayolah jangan seperti ini. Aku penasaran. Ceritalah, kalau begini terus, aku malah bingung, bagaiman mendiamkan kamu," ucap Rara pelan sambil mengusap punggu Dyah dengan lembut.


Punggung Dyah bergetar naik turun, setiap napas yang mauk dan keluar dari indera penciumannya terasa hingga tubuhnya naik turun menahan sesak.


"Ra ... kamu mau dengerin aku kan? Kamu mau dengerin ceritaku kan? Cerita semuanya dari aal sampai akhir?" ucap Dyah lirih dengan sesegukan menahan tangisnya yang masih deras mengalir.


Perlahan Rara menganggukkan kepalanya di bahu Dyah. Rara melepaskan pelukan itu dan menatap Dyah dengan lekat.


"Aku mau dengerin semuanya. Aku siap dengerin semuanya, Dy. Ada apa?" tanya Rara dengan suara pelan.


Lega sekali sudah bisa mengatakan hal penting itu. Sesak di dadanya sedikit berkurang, tapi rasa sedihnya masih terasa di hati Dyah.


Rara terkejut dan menatap tajam ke arah Dyah dengan rasa tidk percaya. Telinganya masih baik-baik saja, tapi kenapa harus mendengarkan berita yang tidak mengenakkan ini.


"Aku gak salah dengar kan, Dy? Mas Hendra selingkuh? Dia lelaki sempurna di mata kita dan perempuan lain. Lelaki baik, ramah dan sepertinya jauh dari kata untuk macam-macam," ucap Rara memebrikan komentarnya.


"Tapi itu kenyataannya?! Itu faktanya, Ra! Apa kamu juga akan membela Mas Hendra seperti yang lainnya?!! Dan tidak mempercayai aku!! Tidak percaya dengan ucapanku!! Kamu kira aku ngehalu bicara hal ini?!!" teriak Dyah yang semakin histeris.

__ADS_1


"Dyah!! Aku tidak bilang tidak percaya dengan ucapanmu?! Aku hanya mengomentari apa yang aku lihat selama ini tentang Mas Hendra. Hanya itu saja!! Bukan berarti aku tidak percaya dengan kamu," jawab Rara dengan tegas dan lantang.


"Tapi ucapanmu seolah apa yang aku ucapkan hanyalah isapan jempol saja," ucap Dyah pelan. Dyah sudah frustasi, tidak tahu harus kepada siapa lagi dia mengadukan masalahnya ini. Ujiannya kali ini terasa sangat berat setelah sekian tahun berumah tangga bersama dengan Mas Hendra.


"Tidak Dy. Tidak sama sekali aku berpikir seperti itu. Aku cuma sedikit terkejut dengan semua ucapanmu itu. Aku mengenalmu sudah lama dan kita bersahabat sejak lama dari kamu belum mengenal Mas Henda hingga kamu menikahinya. Dan aku pun mengenal Mas Hendra dengan baik sejak kamu mengenalnya, tapi selama ini aku nilai baik hingga berita buruk ini aku dengar dari mulutmu sendiri tentang Mas hendra. Kalau aku kagget apakah aku salah?" tanya Rara pelan kepada Dyah.


Dyah hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Rara. Dyah pikir Rara sama dengan yang lainnya dan keluarganya yang tidak mau mendengarkan semua keluh kesahnya tentang Mas Hendra.


Jujur, Mas Hendra memang terlalu sempurna hingga perbuatan nistanya ii tidak ada yang percaya. Tapi, Dyah berhasil mengumpulkan bukti beberapa bulan terakhir ini. Bukti-bukti yang mengarah dan membuktikan semua tindakan perselingkuhan Mas Hendra itu nyata.


"Maafkan aku, Ra. Aku sudah menuduhmu tidak baik. Aku saat ini benar-benar bingung dan dilema," ucap Dyah pelan.


"Bukti apa yang kamu punya. Tolong kamu ceritakan semuanya," ucap Rara dengan nada memohon.


Dyah menganggukan kepalanya pelan. Hatinya sudah mulai tenang, pikirannya pun sudah muaia bisa diajak untuk berpikir jernih. Kini Dyah sudah bisa dan sudah lebih siap untuk menceritakan semua permasalahannya yang sedang dihadapinya.


"Jadi ... Awalnya ini semua bermula saat acara wisata ke Bali yang diadakan oleh kantor Mas Hendra sekitar satu tahun yang lalu," ucap Dyah pelan. Dyah mulai awal kejadian yang membuat mas hendra kini berubah sikapnya terhadap dirinya dan juga Cantika.


"Waktu acara ke Bali? Lalu?" tanya Rara dengan penasaran.


"Iya. Semua ini bermula satu tahun yang lalu. Mas Hendra dan tour guide itu. Empat hari empat malam selalu dalam kebersamaan baik di bis pariwisata atau di hotel dan mengenal satu sama lain membuat mereka semakin dekat dan berlanjut komunikasi setelah kembali ke Jakarta. Aku tidak pernah berpikir buruk, aku pikir Mas Hendra tetaplah menjadi Mas Hendra yang aku kenal dari dulu yang terus mencintai aku dan cantika dan tetap menjadi Mas Hendra yang teguh memegang janji kesetiaan tapi ternyata, pesona tour guide itu bisa menyihir pikiran dan hati Mas Hendra dalam sekejap. Rasa setia, rasa cinta, rasa sayang dalam waktu singkat bisa berubah," ucap Dyah pelan dengan tatapan nanar sambil mengingat beberapa kejadian yang menyakitkan itu.

__ADS_1


"Kamu yakin, Dy? Perubahan sikap Mas Hendra itu karena tour guide itu? Apakah ada bukti lain, Dy?" tanya Rara pelan dengan penasaran.


Dyah pun mengangguk dengan pelan.


__ADS_2