
Rara ;angsung menelepon petugas hotel yng ada di bagian lobby hotel dan menyuruh oetugas itu untuk mencarikan satpam untuk mengusir lelaki yang sedang mengganggu istirahatnya dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya secara keras.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara riuh di depan kamar Rara dan tiba-tiba suara itu menghilang sekejap bagai ditelan bumi. Semuanya langsung terasa sunyi dan senyap, apalagi memang waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Ponsel Rara kembali berbunyi. Satu nama aang sudah tidak asing dan membuat candu bagi Rara setiap hari sudah kembalii menghubunginya.
Rara mengangkat ponsel itu dan tersenyum manis di balik ponsel itu tanpa bisa dilihat oleh si penelepon, paling tidak rasa bahagianya terpancar dari suara Rara yag terdengar sangat antusias dan semangat.
"Assalamualaikum," ucap lembut Rafli dari sambungan telepon itu.
Kata-kata dan suaranya sangat manis dan enak untuk di dengar. Suara ini yang selalu dirindukan Rara setiap hari hingga suara ini lama-lama menjadi candu dan membuat Rara menjadi semangat. Padahal intens berkomunikasi baru hari ini, karenamereka baru saja bertukar nomor telepon. Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat dm satu aplikasi dan saling mendengarkan suara dari hasil rekaman lagu dari salah satu aplikasi dimana mereka tidak sengaja bertemu dan langsung mendapatkan chemistrynya.
"Waalaikumsalam, Mas. Apa kabar?" tanya Rarapenuh semangat. Rara langsung mendudukan tubuhnya dan emnyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran tempat tidur itu.
"Baik, Alhamdulillah tadi banyak customer, dan sekarang baru selesai, sebeentar lagi Mas pulang, tapi ..." ucapan Rafli terhenti sepertinya sengaja menggantungkan kalimatnya agar Rara bertanya dengan rasa penasarannya.
"Tapi apa? Kenapa paling suka menggantungkan kalimat dan membuat aku cemas seperti ini," ucap Rara pelan dengan nada ketidaksukaannya.
"Tapi, Mas rindu sama kamu," ucap Rafli dengan malu-malu.
Senyum Rara terbit bahagia, rasanya begitu senang da berada di awan-aan yang begitu indah sambil melayang tinggi. Rara benar-benar sedang jatuh cinta dan kasmaran kepada Rafli, teman online dunia mayanya itu. Mereka memang belum pernah bertemu, tapi kedekatannya seolah sudah sangat akrab dan selalu hangat saat berkomunikasi.
"Paling pinter kaalu buat perempuan kesengsem," ucap Rara pelan dengan nada pura-pura jengkel namun suka. Setiap wanita memang paling sennag di rayu dan di gomablin hingga kadang perempuan tidak tahu mana lelaki yang benar-benar tulus dan modus, karena candaan mereka hampir mirip-mirip.
__ADS_1
"Hem ... Mas itu tidak pernah ngegombal lho. Kalau memang bicara begini, ya memang apa adanya begini. Karena ini yang Mas rasakan sama kamu. Tidak pernah mengada-ada," ucap Rafli pelan meyakinkan Rara dengan ucapannya.
Rafli tahu, Rara pernah mengalami trauma terhadap laki-laki. Mungkin sampai saat ini pun Rara masih tidak bisa percaya seratus persen terhadap laki-laki yang akan mendekatinya dengan tulus. Rasa cemas dan khawatir akan terjadi lagi kejadian di masa itu membuat Rara akan semakin banyak pikiran yang negatif.
"Iya, Aku paham dan tahu sifat Mas. Satu bulan ini, sudah cuku aku mengenal baik siapa Mas sebenarnya. Tapi, semua ini tidak berati jalan kita mudah kan?" ucap Rara pelan dengan wajah sendu di balik layar ponselnya.
Entah mengapa Rara begitu sayang dengan Rafli, yang jelas-jelas tidak ada secara nyata. Mereka hanya bertemu secara online dan di dunia maya, bisa saja suatu saat mereka saling menghilang dan tidak memberi kabar dan pura-pura tidak mengenal kembali. tetapi, yang mereka rasakan saat ini itu beda. mereka benar-benar saling tulus menerima satu sama lain dnegan baik. Rafli yang begitu sabar harus bertemu dengan Rara yang sangat cerewet luar biasa.
"Mas hanya merasakan ada sesuatu yang beda dari diri kamu.tidak seperti wanita lain kebanyakan yang begitu ribet dan banyak tingkah. Kamu itu sederhana dan begitu simple anti ribet," ucap Rafli memuji Rara dengan penuh ketulusan.
"Terima kasih ya, Mas," ucap Rara pelsn dengan nada bahagia. Rafli sangat tahu baha Rara memang sangat suka di puji, dan hampir semua wanita pasti paling senang di puji.
"Terima kasih untuk apa? Mas tidak memberikan apa-apa," ucap Rafli pelan.
"Bukankah itu yang memang harus Mas lakukan untuk kamu?" tanya Rafli pelan.
Rara dengan sigap mengangguk pelan menyetujui ucapan Rafli.
"Ya memang. Apakah itu tandanya, mas jugasayng ma aku?" tanya Rara pelan dengan penuh keraguan.
"Mas sayang sama kamu. Kalau kamu tidak percaya dengan ucapan Mas, paling tidak kamu bisa percaya lewat tindakan yang Mas lakukan kepada kamu. Semua yang Mas lakukan itu secara sadar dan tulus," jelas Rafli pelan kepada Rara.
"Iya Mas,' jawab Rara singkat dengan penuh rasa senang. Hati Rara seolah seperti taman bunga saat ini, benar-benar di pebuhi bunga-bunga cantik yang tmbuh bermekaran hingga membuat dirinya sangat bahagi sekali.
__ADS_1
"Jadi jangan pernah kamu tanyakan lagi atau kamu ragukan lagi kasih sayang Mas untuk kamu," ucap Rafli pelan.
"Iya Mas. Aku janji gak akan tanya hal ini lagi sama Mas," ucap Rara lirih. kadang seorang perempuan bertanya itu untuk memastikan sebuah kepastian, bukan saja sekedar ucapan tapi lebih pada sebuah pengakuan dan kepemilikan.
"Kamu tidak usah takut dengan semua ini. Jalani saja semuanya sesuai takdir Allah SWT untuk kita. Kalau niat kita baik, insha allah semuanya akan lancar dan diberikan yang terbaik juga. Tapi, jika sebaliknya maka kita juga akan mendapatkan hal yang sama ganjarannya," ucap Rafli menjelaskan kepada Rara.
"Iya Mas Rafli. Aku mengerti," ucap Rara dengan lembut dan suara yang khas menggida.
Rafli tersenyum lebar. Suara ini yang selalu mengganggu tidur malamya beberapa bulan ini. suara yang lembut khas manja dan terkesan kanak-kanak itu terdengar sangat menggemaskan.
"Sudah malam. Kamu istirahat ya? Mas juga mau pulang. Setidaknya Mas sudah mendengar suara kamu dan mengobati rasa rindu Mas sama kamu," ucap Rfali dengan jujur.
"Iya Mas. Hati-hati pulangnya ya, jangan ngebut-ngebut baa motornya," ucap Rara pelan menasehati.
"Iya sayang, diingat terus pesannya," ucap Rafli pelan sambil tersenyum geli menyebut kata sayang untuk Rara, gadis yang telah berhasil mencuri hatinya setelah Fatarani, istrinya it.
Rara pun terkejut mendengar ucapan Rafli yang tidak biasa itu tapi membuatnya sungguh bahagia.
"Terima kasih sudah diingat," ucap Rara pelan. Keduanya bear-benar sedang jatuh cinta. masa pubertas kedua yang melingkupi diri keduanya sehingga bersikap seolah-olah masih remaja kembali.
Kisah cinta yang terlarang, karena salah satunya sudah memiliki dan dimiliki oleh orang lain.
"Mas pulang ya. Assalamualaikum," ucap Rafli dengan suara lembut.
__ADS_1
"Iya Mas. Waalaikumsalam," jawab Rara pelan. Keduanya saling menutup ponsel dengan senyuman yang merekah bahagia.Entah kenapa setelah bisa saling berkomunikasi via suara keduanya makin tambah saling menyayangi dan mencinta.