
Tubuh Rafli semakin lelah, membayangkan sosok wajah Rara tidak akan pernah habis dan akan sellau terbayang dan itu akan menyiksa Rafli untuk ingin segera menelepon wanita kesayangannya itu.
Rafli pun bangkit berdiri dan berjalan untuk mematikan lampu ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya. Kamar itu sudah gelap, hanya ada sorot lampu dari ponsel Fatarani yang masih menyala serta suara tuts dari tombol-tombol ponsel yang masih di tekan.
Fatarani hanya melirik ke arah Rafli yang terlihat gelap namun jelas sedang mendekat ke arahnya. Entah apa yang akan di lakukan lelaki itu kepadanya.
Tiba-tiba saja, Rafli menjatuhkan tubuhnya tepat di atas Fatarani yang masih asyik dengan berbalsa chat dengan sahabat dunia mayanya. Fatarani mengeluarkan uneg-unegnya dan itu sudah membuat hatinya sedikit lega.
Ponsel itu di rebut oleh Rafli dan dimatikan lalu di lempar ke sembarang arah yang masih di sekita kasur empuk itu.
Dengan rakus, Rafli pun menciumi seluruh wajah Fatarni dan bibir Fatarani dengan sedikit kasar. Amarah dan kekesalan Rafli hanya bisa di sampaikan lewat bahasa tubuhnya. Menyetubuhi fartarani, istrinya dengan sedikit kasar. Bukan kasar perlakuannya tapi kasar hentakan setiap gerakan yang dihasilakn oleh Rafli untuk membuat Fatarani hanya bisa diam dan menerima serta menikamti permainan dari Rafli.
Pakaian Fatarani pun dnegan mudahnya di buka oleh Rafli, tanpa ada rasa susah. Tubuh keduanya sudah polos tanpaa sehelai pakaian yang menutupi.
Rafli menarik selimut dan masih berada di atas Fatarani melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang menafkahi batin seorang istri. Malam itu terasa sangat berbeda sekali, permainan Rafli begitu sangat unik dan berbeda dari permainan panas yang sering di lakukannya.
Fatarani hanya memendam di dalam batinnya, namun semuanya malah terasa nyaman dan dapat di nikmati dengan sanagt puas.
"Bunda kenapa diam? Biasanya Bunda suka membalas adegan panas ini," lirih Rafli di dekat telinga Fatarani dan ucapan dengan sedikit mendesah itu sukses membuat Fatarani merinding dan bergetar di seluruh tubuhnya. Bagian bawahnya pun sudah basah dan berdenyut, menginginkan segera dinding-dinding kenikmatan untuk di intai dengan doresan tegas yang bergerak maju mundur hingga luruh kata-kata ******* wanita normal pun mencelos begitu saja dengan jujur dari bibir Fatarani.
Fatarani sangat menikmati permainan panas itu. Tidak henti-hentinya mendesah terus menerus hingga Rafli pun semakin bergairah bergerak bebas leluasa mengeksploitasi tubuh Fatarani, istrinya itu.
"Bunda tidak tahu harus bagaimana, dan ini benar-benar enak dan berbeda dari biasanya," ucap Fatarani dnegan suara pelan.
***
Sejak pagi senyum Fatarani begitu telihatsumringah dan selalu ramah kepada semua orang yang di temuinya di jalan saat mencari sarapan untuk suami dan keempat anaknya.
Tidak biasanya Fatarani bangun sepagi itu, dan membeli banyak makanan untuk sarapan.
Keempat anaknya masih tertidur pulas, begitu juga dengan Rafli, Suaminya. tadi pagi hanya terbangun untuk mandi besar dan melaksanakan sholat shubuh lalu tertidur kembali.
__ADS_1
Tempat peraduannya masih berantakan dengan sprei yang setengah terlepas dari kasurnya hingga kasur itu terlihat sedikit telanjang. Belum lagi pulau-pulau kenikmatan yang tercetak dari permainan panas tadi malam hingga beberpa kali mencapai klimak.
Cukup lama keduanya melakukan hubungan intim yang sudah lama tidak dilakukannya. Apalagi sejak Fatarani mengandung anaknya yang kelima, semua terasa berbeda, belum lagi mood dan kondisi Fatarani yang labil.
Makanan yang sudah di beli itu di rapihkan di piring makan dan di letakkan di lantai kamar tidur, lengkap degan susu putih untuk keempat naknya, segelas kopi indocafe untuk suaminya dan teh manis hangat untuk diri Fatarani sendiri.
Fatarani menghampiri tubuh Rafli, suaminya yang masih brtelanjang dada dan hanya terselimuti selimut tipis untuk menutupi sebagian tubuh Rafli yang terlihat polos.
"Ayah ... Ayah .... bangun. Yuk,sarapan dulu," panggil Fatarani pelan sambil menepuk-nepuk pipi Rafli dan mencium pipi itu dengan penuh kelembutan.
Rafli masih saja tetap terpejam karena kelelahan hingga tidak membuka kedua matanya.
Melihat tidak ada pergerakan dari Rafli, suaminya. Fatarani mulai gemas dan kesal karena beberapa kali, lelaki itu hanya diam membisu bagaikan patung.
Tubuh mungil Fatarani pun langsung menaiki tubuh Rafli yang masih tertidur dengan terlentang.
"Ayah ... sarapan yuk? Bunda sudah beli nasi kuning kesukaan Ayah," ucap Fatarani dengan suara pelan.
Rafli berusaha membuka kedua mata itu walaupun terasa sangat berat.
"Sarapan dulu. Bunda sudah beli makanan kesuakaan Ayah dan kopi favorit Ayah," ucap Bunda Fatarani pelan.
Seolah aktivitas malam tadi bisa membuyarkan semua permasalahan yang sebenarnya sedang genting di hadapi oleh pasangan suami istri itu.
Kedua mata Rafli membuka dan menatap wajah Fatarani, Sang istri yang masih berada di atas tubuh Rafli, suaminya. Tangan Rafli pun mendekap erat tubuh mungil Fatarani. Suara panggilan Fatarani, sang istri masih terdengar dengan nyaring di telinganya. Cukup kaget dan bingung, tidak biasanya Fatarani sudah bangun sepagi ini dan membeli makanan untuk sarapan apalagi menyiapkan kopi kesuakaan Rafli
"Kenapa Ayah menatap Bunda seperti itu?" tanya Fatarani yang melihat ada kejanggalan dari tatapan Rafli, suaminya itu.
Rafli tersenyum dan mengecup bibir Fatarani dengan pelan tanpa ada pergulatan lebih lanjut.
"Ayah semakin sayang sama Bunda. Seharusnya Bunda selalu bersikap manis seperti ini terus, agar Ayah juga bahagia," ucap Rafli dengan lembut. Tangan Rafli pun mengusap pipi Fatarani dengan sangat lembut.
__ADS_1
Fatarani membalas menatap wajah Rafli yang memang setelah di perhatikan tampak sekali kelelahan. Wajah Rafli, suaminya itu terlihat sedikit berkerut karena banyaknya pikiran yanag harus dipikirkan. Bukan hanya urusan Rara dan Fatrani, istrinya tapi juga urusan anak-anak, keluarga besarnya, dan hal-hal lain yang cukup mengganggu pikirannya.
"Bunda tahu tidak? Ayah itu sangat sayang pada Bunda. Jangan sering buat Ayah kesal. Ayah sudah capek kerja. Sama seperti Bunda, sudah lelah di rumah mengurus anak-anak dan urusan rumah tangga. Hindarilah perdebatan yang tidak perlu," ucap Rafli lirih sambil menecup bibir mungil istrinya itu. Perlahan kecupan itu berubah menjadi ******* lembut yang terus menagih hingga mereka lupa dengan sarapan yang sesungguhnya dan menikmati sarapan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Hubungan suami istri itu semkin intim dan semakin tidak ada jarak lagi. Semuanya dilakukan karena memang keduanya masih saling menyayangi dan saling mencintai. Semua itu hanya faktor salah paham dan kurangnya komunikasi hingga kecemburuan yang berakhir pada pikiran negatif yang akhirnya menjadi kenyataan.
Fatarani menikmati sarapan paginya yang lebih dulu di sajikan oleh Rafli untuknya. Kejadian malam pun masih terngiang dalam benaknya dan kini Fatarani bagaikan menjadi ratu satu-satunya milik Rafli. semuanya mengalir begitu saja, taanpa mereka ketahui, ada badai yang bisa menghancurkan setelah kenikmatan ini terasakan.
"Arghhhh ...." desah Fatarani yang masih memegang kendali dan masih setia berada di atas tubuh Rafli.
Rafli hanya mengulum senyum menatap bahagia dengan apa yang di rasakan oleh Fatarani. Sebelas tahun mengarungi rumah tangga, baru kali ini Rafli melihat wajah polos Sang Istri mengerang, mendesah merasakan nikmat yang terpuaskan.
"Hangat Bunda, Bunda lelah? Atau masih mau lanjut? Ayah masih belum keluar," ucap Rafli yang sengaja ingin membahagiakan istrinya itu. Sarapan pagi ini sudah empat kali cairan hangat itu melumasi batang kepemilikan Rafli. Senyum Rafli makin lebar sempurna. Hanya satu jam, tapi semuanya terasa sangat cepat dan begitu singkat.
Fatarani masih terus fokus sambil mengangguk pelan tanpa konsentrasi penuh. Konsentrasinya hanya pada aktivitas kenikmatannya saja, hingga Rafli, suaminya bicara apa saja, Fatarani hanya mengangguk pasrah. Peluh Fatarani bercucuran, ikat rambut yang asal-asalan pun terlepas dari rambutnya hingga rambut sepundaknya itu terurai dengan sangat indah.
"Kamu bersemangat sekali pagi ini?" ucap Rafli pelan sambil memegang pinggang Fatarani yang masih asyik dengan aktivitasnya.
Giliran Fatarani yang tersenyum bahagia. Wajahnya yang mungil terlihat menikmati setiap gerakan yang dihasilkan.
"Bunda .... Lagi apa sama Ayah?" lirih anak sulung laki-lakinya pun sudah membuka matanya entah dari kapan.
Mendengar suara kecil dan serak dari anak laki-lakinya Fatarani yang sudah melepas semua pakaiannya itu pun langsung bangkit dan berlari ke arah kamar mandi. rafli pun segera menarik selimut dan menutup bagian intimnya dengan selimut tipis yang sudah kusut tertindih tubuhnya sendiri.
Wajah Rafli yang memerah mulai berusaha tenang. Lalu satu tangannya mengangkat tubuh anak laki-lakinya untuk tidur di sebelahnya.
Wajah polos Sang Anak yang tanpa dosa itu pun mulai bertanya kembali karena rasa penasarannya atas apa yang dilihatnya barusa. Lelaki kecil itu sempat mengerjapkan kedua matanya namun masih terasa berat. Lama-lama terdengar suar Bundanya mengerang. dia pikira ada sesuatu yang terjadi kepada Bundanya, tapi setelah dilihat Bundanya seperti sedang bermain-main dengan Sang Ayah.
"Kenapa Bunda main kuda-kudaan dengan Ayah tidak pakai baju?' celetuk anak lelaki itu dengan sangat polos dan jujur.
Rafli cukup terhenyak dan bingung memberikan jawaban kepada anaknya itu. Pertanyaan itu murni pertanyaan keingintahuan seoraang anak terhadap apa yang dilihatnya baru saja.
__ADS_1
"Ekhmm ... Memang tadi Aa lihat apa?" tanya Rafli pelan kepada anaknya.
"Tadi Aa dengar Bunda teriak. Aa pikir, Bunda kenapa, tapi Aa lihat malah Bunda sedang main kuda-kudaan dengan Ayah, seprti kita yang seiring lakukan kan Ayah?" tanya Sang Anak memberikan komentar.