
Baihaqi semakin geram dan menatap tajam ke arah Rafli. Rara yang sudah berpakain lengkap dan rapih pun hanya bisa terdiam tepat di belakang Rafli.
"Siapa dia Mah?" tanya Rafli pelan menatap ke arah dua bola mata Rara yang terlihat cemas.
Rara hanya cemas perbuatan dosanya di kethaui oleh Baihaqi dan itu semua berpengaruh pada hubungan kerja sama yang sedang mereka lakukan. Ini sudah naik satu level pada tahapan pembangunan, bisa jadi kecewaan Baihaqi membuat perjanjian kerja sama ini menjadi batal.
"Ekhem ... itu ... Dia itu ..." jawab Rara tersendat dan ragu.
Bukan tidak berani, tapi lbih menghargai sosok Baihaqi yang selama ini telah banyak berbuat baik untuk Rara.
"Siapa dia Mah? Apa dia orang penting dalam hidupmu?" ucap Rafli dengan nada suara yang mulai meninggi.
perasaan Rafli kini ikut cmas dan panik . Semua raa terasa campur aduk di dalam dadanya. Ada sebongkah penyesalan dalam dirinya yang telah mengenal Rara dan ternyata memiliki lelaki spesial di hatinya.
Rara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya!! Saya hanya ingin mengingatkan anda!! Tidak baik berbuat zinah, yang ada menimbulkan dosa besar!!" lantang ucapan Baihaqi kepada Rafli sambil menunjuk ke arah wajah Rafli yang mulai berwarna merah karena kesal dan kecewa.
"Cukup Mas Bai? Jangan urusi kehidupanku. Apapun yang aku lakukan itulah adalah keputusanku dan pilihan hidupku!!" lantang Rara yang selangkah maju ke depan tepat berada di depan Rafli.
Baihaqi pun menatap Rara dengan sangat tajam. Baru kali ini Baihaqi merasa sangat tidak di hargai oleh Rara. Sikap Rara yang keras ternyat bisa berbicara lantang dan tegas lebih terkesan arogan.
"Urusan hidupmu? Itu sama saja urusanku juga!! Kamu lupa? Janji di depan kuburan Fatimah?" tegas Baihaqi mengingatkan. Hati Baihaqi cukup dongkol melihat Rara yang bisa tersenyum bahagia.
Baihaqi hanya ingin menyelamatkan Rara dari perbuatan dosa besar karena sudah melakukan perzinahan dengan lelaki lain. Mungkin memang rasanya sangat nikmat, tapi rasa itu hanya sesaat. Setelah di renungi yang ada hanya rasa penyesalan luar biasa.
Satu tangan Rafli menepuk bahu Rara dengan pelan.
"Jelaskan padaku siapa dia, Mah? Jika kamu tidak mau menjelaskan, maka hubungan ini selesai sampai disini!!" tegas rafli yang mulai kesal.
__ADS_1
Rara langsung menoleh dan membalikkan tubuhnya dan secara terang-terangan memeluk tubuh Rafli hingga membuat lelaki itu semakin yakin bahwa ini semua hanya sebuah drama. Rafli yakin, bahwa semua yang dikatakn Rara sebelumnya adalah sebuah kejujuran. Bila kini ada lelaki lain yang datang dan seolah sedang mempertahankan Rara, maka lelaki itu sedang terobsesi untuk memiliki Rara.
"Papah jangan pergi. papah jangan tinggalin aku. Namanya Baihaqi, dia adalah partner kerja aku saat ini ekaligus orang yang telah banyak menolong aku selama ini," ucap Rara pelan menjelaskan.
Air matanya luruh begitu saja. Rasanya seperti sedang di tangkap basah karena melakukan dosa.
"Siapa dia, Mah?" tanya Rafli lembuta dan membalas pelukan itu dengan erat.
Rafli tahu, Rara sedang butuh pembelaan, Rara butuhrasa aman dan rasa nyaman. Hal ini membuat Rara semakin tersudut padahal memang tidak ada hubungan aapun dengan Baihaqi.
"Hanya teman, dia ustad," jawab Rara pelan.
Rafli pun berusaha menenangkan wanita kesayangannya itu sambil mengusap pelan punggung Rara dengan sangat lembut.
"Sudah ya. Kita bicarakan baik-baik di dalam biar tidak ada salah paham," ucap Rafli mencari jalan tengah dan bersikap bijak. Biar semua jelas, terasa gamblang dan tidak ada salah paham.
"Oke baiklah, Ustad Baihaqi. Kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Kita masuk ke dalam. saya akan menjelaskan semuanya," ucap Rafli pelan dan tegas. Malam ini adalah malam terberat bagi rafli. Mu tidak mau Rafli harus mengambil keputusan ini dengan baik dan tepat untuk dirinya sendiri, untuk Rara dan tentunya untuk Bunda Fatarani, istrinya.
"Baiklah kalau itu keinginan kalian. Aku mau kita selesaikan baik-baik masalah ini," jawab Baihaqi tegas.
Rasanya masih tidak bisa menerima kenyataan ini semua. Harus melihat Rara bahagia dengan yang lain, namun tidak bisa mnerima Baihaqi untuk lebih menjadi seseorang yang pesial dalam hidupnya. Padahal sudah berapa banyak pengorbanan Baihaqi untuk membuat Rara senang dan bahagia tanpa Rara ketahui.
Ketiganya sudah berada di dalam kamar tidur apartemen. Baihaqi sudah duduk di sofa menghadap ke arah Rara dan Rafli yang sejak tadi duduk berdampingan.
Rara sangat takut seklai, sesekali meremas tangan Rafli sebagai tanda cemas dan bingung. Baihaqi sendiri terlihat santai namun terkesan ingin membunuh keduanya.
Keduanya seperti mangsa empuk yang akan dijadikan bulan-bulan oleh Baihaqi.
"Kami berdua saling mencintai. Kami berdua memnag sudah saling sepakat untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan kami .... " ucap Rafli pelan menjelaskan tiba-tiba harus terhenti. Ada sedikit kecemasan dari dalam diri Rafli.
__ADS_1
Tatapan Baihaqi semakin tajam ke arah Rafli. Menunggu Rafli menyelesaikan kata-katanya hingga semua menjadi jelas dan gamblang.
"Dan Kami? Apa?" selidik Baihaqi semakin penasaran.
Rara semakin erat meremas tangan Rafli karena takut.
Rafli menoleh ke arah Rara dan membalas remasan di tangan Rara namun tidak erat lebih pada mengusap lembut pada punggung tangan Rara untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan.
"Mamah siap kan jika kita harus menikah siri malam ini?" bisik lirih Rafli di telinga Rara.
Rara cukup terkejut dengan permintaan Rafli. Padahal baru tadi sore membahas hal ini. Dan Rafli dengan lembut bicara untuk memberikan waktu serta sabar.
"Papah tidak sedang bercanda kan?" lirih Rara menjawab tepat di telinga Rafli.
Tangan Rara mulai mendingin karna ada ketakutan tersendiri. Menikah siri itu mudah, tapi dengan begini sama saja Rara telah melaggar janjinya sendiri untuk tetap tegas meminta restu dari Bunda Fatarani, selaku istri SAH RRafli.
Rafli menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Papah serius Mah. Mumpung ada ustad, beliau pasti bisa membantu untuk membantu kita berdua ijab kabul," ucap Rafli lirih menjawab pertanyaan Rara.
"Tapi Pah ... Aku takut, bagaimana dengan Bunda?" tanya Rara dengan khawatir.
"Kalian ini sedang berbisik apa sih?! Jadi kalian itu mau apa, dan kami apa? Hanya sepasang selingkuhan!! Kalian tidak malu pada Allah!! Berbuat dosa!! Ingat dosa zinah itu dosar besar!!," ucap Baihaqi dengan tegas.
"Kami berdua sepakat untuk menikah siri. Kalau bisa kami mau menikah malam ini," ucap Rafli dengan suara mantap.
Baihaqi menatap tajm dan lebih tajam lagi ke arah Rafli. BAihaqi tidak menyaka pria yang ada di depannya ini memutuskan untuk menikahi Rara malam ini juga, walaupun hanya menikah siri. Sudah tentu ini semua sudah di pikirkan dengan matang. Jadi bisa di pastikan bahwa Rafli memang sosok lelaki yang seriu dan tidak modus. Bukan hanya ingin menghisap madu Rara tapi juga ingin bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Rara.
"Bukankah kamu Rafli? Lelaki yang sudah mempunyai istri dan lebih tepatnya kamu adalah suami orang!! Tega kamu mengkhianati istri kamu sendiri? Dengan menikahi Rara? Dimana perasaan kamu?!!" teriak Baihaqi yang asal bicara.
__ADS_1